Yayan Sopyan, penulis artikel dan staf pengajar sekolah menulis Jakarta School, menceritakan pengalamannya mengenai hambatan dalam menulis. Yayan, dalam perjalanan hidupnya menemukan cara untuk mengatasi hambatan menulis yang ia alami.

Menurut lulusan Filsafat UGM ini, kemampuan menulisnya benar-benar didapat dari latihan dan disiplin. Menulis merupakan kemampuan membahasakan pikiran dengan jernih.

Yayan Sopyan menyambut hangat ketika diminta untuk berbagi pengalaman seputar menulis artikel pada Sabtu (27/5) di kantor mediakita yang beralamat di jalan Juanda Ciputat Tanggerang.

Ruang kelas Jakarta School, menjadi saksi obrolan bersama Yayan Sopyan. Tempat aktualisasi diri ini memang tempat nyaman bagi Yayan.

Berikut petikannya:

 


 

 

Sejak kapan anda menulis artikel di media massa?

Aku nulis (artikel) untuk media massa waktu kelas 3 SMA. Cuma aku lupa menulis tentang apa ya waktu itu.

Sebelumnya sering ngirim naskah, tapi bukan artikel. Sewaktu SMP, nulis puisi dan cerpen. Keingan menulis artikel mulai muncul ketika kelas 2 SMA. Saat itu aku mulai nulis kecil-kecilan di sekolah. Kalau gak salah, tentang kenaikan SPP. Lalu terpikir juga, "Mengapa tak menulis di koran saja?"


Mulai produktif menulis artikel sejak kapan?

Lebih produktif  lagi ketika kuliah. Aku merasa sangat produktif waktu kuliah. Keinginan untuk lebih banyak menulis artikel muncul pada awal-awal masa kuliah itu. Ada teman, yang sama-sama baru masuk kuliah dua minggu, sudah bisa menulis artikel dan di muat di koran lokal. Lalu timbul pertanyaan, "Mengapa aku tidak bisa seperti dia?"


Apa hambatan dalam menulis?

Awalnya, aku tidak merasa punya hambatan dalam menulis. Tapi, di tengah-tengah perjalanan - ketika cukup banyak naskahku ditolak oleh media massa, mulai terasa bahwa aku punya problem. Problemnya adalah "Bagaimana bisa membuat tulisan yang bisa dibaca oleh pembaca koran?".

Kesadaran seperti itu munculnya belakangan. Biasalah, awalnya aku juga besar kepala. Menurut perasaanku, tulisann-tulisanku sudah bagus-bagus saja. Tapi ketika ditolak oleh media massa, aku mulai berpikir, "Lho kenapa ditolak-tolak?"

Akhirnya, ketemu problemnya. Mungkin penyebabnya adalah bahasaku yang tak dimengerti oleh pembaca koran. Selain soal berbahasa, setelah saya ngeh, problem saya waktu itu adalah saya tak bisa merumuskan pikiran secara sistematis.

Belajar dari pengalaman-pengalaman sendiri dan membaca buku-buku, saya mulai berbenah. Dan lalu tulisanku mulai muncul di koran lokal Yogya. Itu menumbuhkan rasa percaya diri. Begitu sekali dimuat, mulai percaya diri.


Apa yang menjadi fokus tulisan anda?

Nulis macam-macam. Maunya, semua topik dibahas. Ada semacam agenda untuk, paling tidak, ada satu saja artikelku yang dimuat dalam sebulan. Dimuat, ya, bukan cuma nulis artikel . Minimal di koran lokal saja. Aku tak punya pretensi macam-macam seperti, misalnya, harus dimuat di koran bergensi seperti Kompas. Ya ke Kompas sih tetap mengirimkan naskah, tapi berkali-kali gak dimuat. Bolak-balik begitu. Sampai sekarang aku masih simpan surta-surat penolakan dari Kompas. Dari penolakn-penolakan itu aku belajar memperbaiki tulisan sendiri.


Menulis sejak SD, apakah itu dididik oleh orang tua?

Bukan oleh orangtua, tapi dikenalkan oleh guru. Sebenarnya menulis itu belakangan munculnya. Awalnya, saya lebih dikenalkan ke membaca. Wali kelasku di kelas 4 mengajarkanku membaca puisi, mendorong aku untuk ikut lomba membaca buku cerita. Lalu muncul pikiran, "Mengapa tak membuat puisi sendiri?"

Keluarga di rumah tidak mengajarkan aku menulis atau menyenangi sastra. Aku dari keluarga biasa saja. Cuma, semua orang biasa membaca di rumah. Bapakku suka membaca buku-buku agama. Ibu membaca komik. Kadang-kadang kita, anak-anaknya, dibeliin komik. Atau, kalau dari Jakarta, bapak pulang pasti membawa majalah. Hal-hal sepert itu yang merupakan sumbangan terbesar buat aku: membaca.


Apakah menulis berkaitan dengan tradisi membaca?

Tak ada orang yang bisa menulis tanpa membaca. Aku ingin menulis karena aku membaca. Kalau tidak membaca mana pernah punya keinginan menulis.

Ini salah satu contoh bagaimana kebiasaan membaca bisa motivasi kita untuk menulis. Dulu majalah Kawanku tak seperti sekarang. Salah satu penulis di majalah Kawanku itu Laela S Chudori. Dia menulis semacam cerita bersambung tentang kehidupan dia belajar karate. Semacam diary. Redaksi majalah Kawaku waktu tu selalu bilang bahwa Laela itu anak SMP, bukan penulis dewasa. Ini memotivasi aku. Selisih umurnya kan paling dua atau tiga tahun denganku. Jadi, mustinya aku juga bisa menulis.


Apakah anda terbiasa menulis buku harian sejak kecil?

Menulis buku harian sejak SD. Sekali lagi, salah satu yang merangsang menulis buku harian adalah tulisannya Laela Chudori. Buku harian SD itu masih saya pegang sampai tahun 1993. Tapi ketika saya baca lagi, saya malu sendiri. Lalu saya hancurkan. Belakangan saya menyesal mengapa buku harian itu saya hancurkan.


Siapa penulis favorit anda?

Dulu saya ingin sekali menulis seperti Mahbub Junaedi. Aku suka Mahbub karena tulisannya jernih, cerdas, seger, dibacanya enak.


Penulis artikel favorit?

Kalau untuk tulisan artikel intelektual, aku suka Ignas Kleden. Menurutku, bahasanya enak, pikirannya luas, sistematis, lugas, dan jelas. Enak sekali. Aku suka tulisan Kleden ketika aku kuliah di Fakultas Filsafat UGM.

Anak filsafat kan punya problem dalam berbahasa: berbelit-belit dan sok mau merangkum seluruh hal dengan satu kalimat. Menurutku itu problem anak filsafat.

Yang membantuku meluruskan cara berbahasa adalah kegiatan jurnalistik. Kalau gak pernah ikut kegiatan jurnalistik itu, sepertinya bahasaku lebih kusut lagi. Akhirnya aku mengambil jarak dari bahasa filsafat karena memang bikin pusing. Sehebat apapun gagasanku, sehebat apapun pikiranku, jika berbahasa dengan cara yang rumit, orang gak akan ngerti.


Berarti kesadaran atas kekurangan muncul saat anda kuliah?

Aku ada di UGM pada kondisi yang pas. Waktu itu rektornya adalah Pak Koesnadi. Para mahasiswa di zamanku, rasa-rasanya, tidak akan lupa dengan Pak Koesnadi. Dia berhasil menumbuhkan rasa percaya diri yang luar biasa kepda mahasiswa.

Di zaman Pak Koes itu, banyak sekali kegiatan pers mahasiswa. Suatu ketika ada pelatihan jurnalistik. Aku lupa, di fakultas mana diselenggarakannya. Yang jelas, bukan di Fakultas Filsafat. Di pelatihan jurnalistik itulah aku baru ngeh, "Oh ternyata memang berbeda cara-cara berbahasa. Cara menentukan topik tulisan juga ternyata tidak sembarangan. Ada yang namanya nilai berita."

Aku semakin senang. Paling tidak, aku jadi punya bekal untuk membanding-bandingkan tulisan yang satu dengan tulisan lain. Sehingga aku bisa bilang,"Oh, tulisan si ini memang ruwet." Keruwetan itu terasa dan kemudian dianalisa.

Sekali lagi, karena aku kuliah di Fakultas Filsafat dan tak pernah punya pendidikan formal menulis, jadi aku mencari sendiri cara menulis dengan membaca buku dan mengikuti workhsop seperti itu.


Namun sebenarnya, bukankah filsafat bisa sebagai jalan pintu masuk untuk mengasah sistematika cara berfikir dalam menulis?

Benar begitu, kalau belajar filsafatnya betul. Misal, jangan ngomong Plato, kalau belum baca buku Plato. Jangan ngomong Karl Marx, kalau belum baca buku Karl Marx.

Yang terjadi sekarang adalah banyak yang membaca kutipan-kutipan - seperti kutipan Marx, Deridda, Bertrand Russel- tetapi tidak membaca keseluruhan karya para filsuf itu. Itu yang bikin ruwet dalam mendapatkan gagasan-gagasan para filsuf.

Kalau itu terjadi, maka yang salah bukan cuma cara belajarnya,  tetapi juga yang mengajarkanya. Ini otokritik saja. Misal, di Fakultas Filsafat pada saat saya kuliah, yang diajarkan adalah kesimpulan-kesimpulan. Mahasiswa tidak pernah ditantang untuk menuntaskan referensi tentang para filsuf.

Bahaya belajar filsafat adalah ketika kita tidak tuntas memahami dan membaca referensi mengenai gagasan besar yang kita pelajari, sehingga justru memberikan masalah baru. Persis seperti pengalamanku pada awal datang ke Jakarta. Waktu itu saya merasa, orang yang dianggap intelek di komunitasnya bicara tentang filsafat dengan bahasa yang  berbelit-belit dan ruwet. Bikin saya eneg. Cara ngomongnya seperti saat aku pertama kali belajar filsafat di semester-semester awal. Model bicara seperti itu kalau di lingkunganku sekarang pasti ditertawakan.

Kasus macam ini seperti orang yang punya PDA tapi tak bisa mengoperasikanya. Itu saya namakan sebagai sebuah eksyen (gaya-gayaan). Filsafat tidak harus menjadi seperti itu. Dia harus turun dengan cara yang lebih sederhana agar mudah untuk bisa dipahami.


Apakah semuanya berkaitan dengan pentingnya berbahasa indonesia?

Sebetulnya, bukan soal berbahasa Indonesia. Sekarang aku merumuskannya, ini soal berpikir. Karena bahasa itu soal logika. Belajar bahasa apapun itu, berarti belajar logika. Itu yang sering dilupakan orang.

Ketika kita kecil, jarang-jarang orang yang mau kuliah di fakultas sastra/bahasa Indonesia. Mereka pikir, "Kuliah kok di fakultas bahasanya sendiri?". Banyak anggapan bahwa siapapun bisa berbahasa. Padahal ternyata, yang berbahasa kacau, biasanya berpikirnya kacau. Logikanya kacau. Karena bahasa adalah soal logika. Itu belakangan aku ngehnya, ketika belajar filsafat bahasa.

Ini berarti bisa dibolak-balik, "Jika kita belajar berbahasa yang baik, kita melatih logika kita. Ketika kita berlogika dengan jernih, bahasa kita jernih." Ya kelihatan cara kita berbahasa berkaitan dengan cara kita berpikir. Makannya jargon kita di Jakarta School: "Menulis adalah soal berpikir. Bukan bersilat lidah."

Ada orang yang salah mengira. Menulis, dikiranya, adalah  menghayal dan menyusun kata-kata. Padahal, tidak. Menulis adalah soal berpikir. Orang yang pikirannya ruwet tak bisa menulis dengan jernih. Itu aku jamin. Itu sebabnya, di Jakarta School sini diajarkan juga cara berpikir.

Dalam sebuah tulisan, mungkin saja pilihan kata-katanya indah-indah tapi gagasannya bisa jadi ruwet karena cara berpikirnya juga ruwet. Ini bisa juga karena dia salah dalam mengambil logikanya. Mengambil kesimpulan dari premis-premis yang salah. Itu yang dinamakan sesat berpikir.


Kesalahan penulis pemula yang kini anda lihat?

Rata-rata sama seperti yang dulu saya alami. Juga, biasanya pemula lupa bahwa menulis itu untuk orang lain. Aku baca tulisan sendiri, aku paham. Tapi belum tentu orang lain paham. Menurutku, tulisanku penting tapi belum tentu penting untuk orang lain. Nah hal-hal semacam itu lazim terjadi; terlebih di masyarakat kita tak ada pelajaran serius tentang menulis.


Menulis itu bakat atau latihan?

Ada beberapa bagian dari menulis yang sifatnya ketrampilan. Ada beberapa bagian lainnya yang berkaitan dengan soal dapurnya. Dapur bagi seorang penulis adalah perpustakaan. Kalau dia tak pernah baca, atau dia hanya pernah membaca lima judul buku, ya dia bisa terampil menulis tapi ya cuma gitu-gitu aja.

Terus, cita rasa. Itu juga hal di luar keterampilan. Lagi-lagi, soal cita rasa ditentukan oleh seberapa banyak belanjaan yang kamu beli. Belanjaan buat penulis adalah bacaan. Misal, kalau aku tak pernah baca Pram, Goenawan, atau Mahfouz , ya kira-kira juga bahasaku akan terbatas. Itu yang tak bisa diajarkan.
Tapi, apakah manulis itu bakat atau tidak? Itu bukan bakat, saya kira. Sekarang saya tanya, "Apakah kamu tahu bakatmu?" Orang lain yang bilang bahwa kamu berbakat. Atau setelah kita melakukan sesuatu, baru kita bilang, "Oh aku berbakat di sini". Bakat itu kan klaim kita. Ketika aku tak pernah menulis, aku kan tak bisa klaim, "Oh, menulis bukan bakatku". Lha aku kan gak pernah nulis.

Bakat itu perlu dicurigai. Jangan-jangan bakat itu memang gak ada.


Adakah buku yang inspiratif bagi anda?

Buku yang masih saya ingat betul adalah Olenka karya Budi Darma. Pada waktu buku itu terbit, aku tidak melihat cara bertutur seperti yang Budi Darma lakukan. Imajinasinya asik dan cara mengungkapkanya menarik.

Juga tetraloginya Pram. Dan masih banyak lagi.


Gaya penulisan yang seperti apa yang anda sukai?

Untuk penulisan artikel aku lebih suka gaya penulisan essai yang lebih lumer. Gaya-gaya Goenawan juga aku suka. Karena keluasan wawasannya, sering kali satu hal diperlihatkan kaitanya dengan hal lain.

Aku pernah mencoba gaya macam itu pas aku kuliah. Beberapa kawan di kampus mengenali caraku berfikir. Mereka akan tahu bahwa itu tulisanku walaupun nama penulisnya ditutup. Lagi-lagi, itu berkaitan dengan lingkunganku di Fakultas Filsafat.

Dalam belajar filsafat, ada asumsi bahwa sesuatu itu selalu mempunyai hal yang menarik untuk dikemukakan, selalu ada kaitan-katan dengan hal lain, dan mempunyai latar belakang didalamnya.

Tapi sejak awal aku tak ingin menulis dengan cara yang berat.  Ada orang bilang, kalau sebuah tulisan ada latar belakang filosofisnya maka biasanya bahasa yang dipakainya ndakik-dakik. Sejak awal dengan sadar aku mencoba mengelakkan hal itu.

Aku kira, anak-anak angkatanku di Yogya -kayak Celli, Rizal Mallarangeng yang waktu itu pernah menjadi redaktur di koran lokal- mungkin cepet ngeh dengan caraku menulis. Aku sering mencoba menarik satu fenomena ke fenomena lain karena kaitannya. Terus terang, kadang-kadang maksa mengkait-kaitkannya. Tapi itu kulakukan karena aku punya keyakinan bahwa hal ini pasti ada kaitannya dengan hal-hal lain.

Misalnya, waktu itu ada film Dead Poets Society. Film itu aku hubungkan dengan fenomena persma. Bahkan film ecek-ecek pun aku tonton. Seperti film Malam Jumat Kliwon. Dengan sadar aku datang ke bioskop kecil dengan biaya 500 perak, dengan bonus kutu busuk. Setelah nonton, aku tarik film itu ke kultur magis dalam kebudayaan kita. Aku coba menariknya ke pembahasan yang lebih dalam.

Itu caraku yang dikenal orang, konon. Tadinya gak punya pretensi apa-apa, tapi teman-teman redaktur bilang, tulisan seperti ini ada peminatnya.


Apakah sampai sekarang anda masih memelihara tradisi menulis?

Menulis, masih. Menulis artikel koran, rasa-rasanya, tidak seintens ketika dulu masih mahasiswa karena sekarang kegiatanya macam-macam. Namun setidaknya aku meluangkan waktu untuk menulis di yayan.com. Beberapa tulisanku dilempar ke media masa. Tapi ada juga tulisan yang tidak pantas untuk dibaca orang, tapi aku tetap harus menuliskannya untuk menjaga kewarasanku.


Apa manfaat menulis bagi anda?

Sebagai excercise dalam kehidupan. Yang tidak menulispun sebenarnya melakukan exercise juga tapi tidak teratur, tidak teruji logikanya. Banyak hal dalam hidup yang kita pikirkan. Bagiku, itu adalah excercise untuk melatih macam-macam hal: ingatan, kepekaan. Semuanya sangat tersa.

Secara umum, menulis juga bermanfaat untuk kesehatan. Dengan menulis, secara psikologis, kita tidak memendam apa-apa. Apa yang mau kita kemukakan, ya, kita tulis; lalu tulisan itu dinikmati banyak orang, menjadi diskusi, banyak dikomentari oleh orang lain  sehingga ada proses dialektika.

Karena di dalam prosesnya terdapat upaya untuk melihat kemungkinan-kemungkinan untuk menjadi pemahaman-pemahaman baru, maka menulis adalah proses kreatif dan survive. Menulis non artikel juga sama. Aku kira, setiap tulisan selalu menyodorkan pengalaman-pengalaman baru. Pengalaman baru yang kumaksud bukan berarti kejadian yang tidak dialami oleh pembaca, melainkan juga cara berpikir baru yang bisa selalu didialogkan. Itulah sumbangan seorang penulis dalam masyarakat: selalu memberikan hal baru.


Bagi anda tulisan yang baik itu seperti apa?

Tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa dimengerti oleh sasaran pembacanya dan bisa memberikan pengalaman baru bagi pembacanya apapun bentuknya -mau essai, fiksi, ataupun non-fiksi. Kalau tulisan itu biasa-biasa saja,  ya tidak menarik. Kalau tulisan itu menarik tapi tidak bisa dibaca oleh pembaca yang disasar, ya tulisan itu berarti tidak bagus.


Ada keluarga yang suka menulis juga?

Aku delapan bersaudara. Empat saudaraku ada di Jakarta. Aku anak yang kedua.

Kakakku bukan penulis. Dia hanya pembaca biasa saja. Dua adikku ada yang suka menulis. Kakekku pedagang di pasar. Dia tidak menulis, dan mungkin tidak pernah menulis karena ia buta huruf. Orangtuaku suka membaca, tapi tidak menulis artikel karena mereka pedagang di kampung dan tidak ada budaya menulis. Tapi menulis surat, dia sering melakukannya.


Kita tidak bisa terus menerus mengikuti orang lain dan mematikan diri kita untuk berekspresi. Lalu sejauh mana kita boleh tak peduli dengan kata orang lain?

Boleh saja tidak peduli dengan orang lain. Tetapi menulis itu kan biasanya untuk dibaca oleh orang lain. Kalau menulis hanya untuk diri sendiri, tanpa belajar pun itu bukan masalah. Tapi kalau untuk menulis untuk orang lain, kan beda.


Menurut pengalaman anda, apakah orang bisa hidup dari menulis?

Menurut pengalamanku, bisa.

Begini saja gambarannya. Saat aku masuk kuliah, pertengahan 80-an, weselku Rp.40.000,- Itu sangat kecil dibandingkan dengan temenku yang mungkin menerima Rp.120.000,-. Untuk hidup standar di Yogya saat itu adalah Rp.80.000.

Dengan menulis hanya dua artikel dalam satu bulan waktu itu aku sudah mengantongi Rp.150.000,-. Artinya sudah melebihi wesel dan bisa senang-senang beli buku. Aku rasa di zaman itu Rp.150.000,- sudah bisa untuk memulai hidup berumah tangga (hahaha).

Kalau betul kita ingin menjadi penulis pasti sebulan kita tidak hanya menulis dua artikel. Banyak hal yang bisa ditulis. Sebelum kesibukan ini, aku juga menggarap banyak tulisan.  Bukan hanya artikel. Banyak perusahaan membutuhkan tulisan.


Untuk artikel pertama anda menerima honor berapa?

Yang aku inget, artikel pertama itu honornya lima ribu perak. Itu di Bandung. Kalau di Yogya itu lebih murah karena korannya juga lebih kecil.

Dengan memperhatikan tema penulisanya , aku selalu mencari media untuk menjajagi kemungkinan agar tulisanku masuk. Mekipun harus ditertawai oleh teman-temanku, aku tidak pernah mempedulikan kelas media. Salah satu motivasiku menulis artikel di koran waktu itu adalah uang sebab uang bulananku sangat kecil.

Aku tidak pernah rewel dengan honor Rp.3.000,- di koran kecil waktu itu. Tapi kalau koran besar memberiku honor Rp.3.000,- biasanya aku marah (hahahaha).

Aku pernah mencicipi honor yang beragam waktu itu. Ada yang besarnya 3 ribu rupiah, 15 ribu rupiah, 75 ribu rupiah. Aku juga memutuskan waktu itu untuk menjadi wartawan freelance, yang lebih cepat dapat uangnya, dengan honor 15 ribu rupiah. Koran-korannya itu di Jakarta.

Kini media masa seharusnya lebih berani untuk memberikan honor yang bagus kepada penulis. Menurut aku, seharusnya standar honor sebuah artikel adalah 2 juta rupiah. Itu baru menarik. Maksudnya, media masa akan mendapatkan pasokan tulisan yang menarik. Penulis yang mendapatkan honor kurang dari itu justru akan merugikan media massa. Kapan dong penulis beli buku dan mendapatkan informasi yang bagus kalau honor yang ia terima itu minim.

Kalau tulisan non artikel koran, biasanya honornya lebih besar. Naskah yang sejenis tulisan seperti media promo atau tulisan untuk perusahaan yang dijadikan agenda promosi mereka.


Apakah anda memiliki waktu rutin untuk membaca?

Harusnya ada, karena khawatir dengan diri sendiri bisa kekurangan amunisi. Percuma bisa menulis tapi tidak membaca: seperti punya pistol tapi tidak ada pelurunya.

Sayangnya, sekarang saya tidak bisa menargetkan berapa banyak yang harus aku baca. Sekarang aku belum bisa menargetkan satu minggu harus baca berapa buku. Tapi saya selalu menargetkan harus ada yang dibaca. Apapun itu bentuknya: koran atau apapun.

Paling, sekarang ini saya menargetkan untuk menemukan topik yang menarik. Kemudian mencari berbagai sumber sampai aku ngelotok (ngerti) tentang maksud topik tersebut. Medianya banyak: bisa internet, bisa buku.  Menurutku, proses creative writing adalah seperti ini, sebetulnya. Aku merasakan seperti itu proses creative writing. Sangat sederhana.

Waktu di Yogya banyak warung-warung kecil, yang disebut dengan angkringan, yang menjadi tempat kita bisa nongkrong semaleman dengan hanya membeli teh seharga 100 perak. Dan di sana ketemu temen-temen: ngobrol ngalor-ngidul. Obrolan-obrolan di situ banyak memberikan inspirasi. Pulang dari warung-warung itu, semua inspirasi itu langsung kutulis. Setidaknya, outline-nya. Tulisan saya banyak lahir dari proses-proses seperti itu. Pergaulan selalu merangsang kita untuk berpikir mengenai banyak hal, yang membuat kita ngeh dengan proses dialektikanya.

Dari banyak hal itulah, beberapa metode belajar di Jakarta school kita rumuskan.


Ada pengalaman unik dalam menulis?

Aku dan teman-temanku sering berdiskusi di angkringan sewaktu kuliah di Yogya. Sering berdiskusi dan pernah saja terjadi perbedaan pendapat diantara kami.

Suatu waktu kami nge-set untuk mengangkat perbedaan pendapat kami menjadi polemik dalam artikel di media massa. Salah satu media massanya waktu itu adalah Bernas. Diset artinya bukan dibuat-buat. Kami hanya bersama-sama sepakat untuk berpolemik di media massa. Kami yang berpolemik merasa senang karena kedua kedua belah pihak yang berpolemik mendapat uang (honor tulisan) dari media massa tersebut. Orang-orang tak ada yang tahu bahwa polemik itu sebetulnya sudah berlangsung di warung-warung kecil sebelum muncul di koran.


Obsesi saat ini yang belum terwujud?

Aku ingin Jakarta School berkembang lebih lagi.

Awalnya kami mendirikan mediakita, yang bergerak di bidang media: membikin majalah, training-training ke lembaga dan perusahaan, bikin film, iklan. Sampai kemudian, pada tahun 2004, kami berpikir, "Kenapa kita tak membuka kelas menulis untuk umum?". Akhirnya, mediakita membuat divisi pendidikan tersendiri. Aku dan teman-teman di mediakita merasa bahwa dulu ketika mahasiswa gak ada yang membimbing kami belajar menulis.

Awalnya kami buka promosi. Saat masa promosi, satu orang peserta dikenakan biaya Rp. 300.000,- dengan harapan bisa terjangkau. Tetapi waktu itu tak ada yang mau. Lalu terpikir oleh kami bahwa yang tak punya biaya tak usah pungut biaya. Carikan beasiswa saja!

Lalu ketemu dengan sebuah penerbit, Agromedia, yang punya concern sama dengan kami. Ternyata, dengan membuka beasiswa, peminatnya banyak. Dari 30 kursi awal yang disediakan, jumlah pendaftarnya mencapai 500 orang sehingga kami menaikan jatah pendapat beasiswa menjadi 210 orang.

Dulu, dalam satu kelas ada 30 orang peserta. Belakangan kita kurangi. Satu kelas menjadi maksimal 10 orang peserta agar efektif dan semuanya terperhatikan.

Sekarang program beasiswa belum ada lagi.

Mediakita kini menjadi bagian dari grup Agromedia, yang ke depannya akan direncanakan menjadi fokus ke komputer dan fiksi yang berbeda dengan Gagas Media. Mediakita, sebagai perusahaan, independen. Tapi secara jaringan satu dengan kelompok penerbit Agromedia. Dalam waktu dekat mediakita akan membuat sebuah majalah bagi remaja yang concern ke buku.

(Naskah ini adalah suntingan dari tulisan asli Mimit yang dipublikasikan di blog-nya. Penyuntingan dilakukan untuk membuat naskah ini lebih enak dibaca dan memahami konteks yang dibicarakan.)