Sore itu (Senin, 24 Juli 2006) handphone saya berdering. Nomornya tidak dikenal.
 
"Halo. Dengan Yayan Sopyan?"
 
"Ya"
 
Saya belum bertanya nama si penelepon, terdengar suara di kuping saya, "Aku Tulus, Yan".
 
Ah, Tulus Widjanarko. Dia adalah salah seorang jurnalis di Majalah Tempo, yang sudah saya kenal sejak kuliah di Yogya. Dia bilang, dia ingin mewawancarai saya tentang blog untuk tulisan yang akan diturunkan oleh medianya.
 
"Wawancaranya lewat e-mail, ya?"
 
"Baik"
 
Tidak sampai satu jam, e-mail Tulus sampai. Dan inilah jawab saya:

 Tulus,
sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Aku mau bilang, "Kita terlambat. Tapi lebih baik terlambat ketimbang tidak". Mau tahu kenapa kita terlambat?
 
Sumbangan terbesar dari segala macam keterlambatan kita untuk menikmati keunggulan teknologi adalah bahwa kebanyakan dari kita melihat dan menyerahkan teknologi untuk urusan teknologi kepada para teknisi. Maaf, saya harus menyebutnya begitu.
 
Ketika Internet mulai masuk ke masyarakat kita (dengan tingkat penentrasi yang kecil dibanding dengan negara tetangga) yang pertama-tama diangkat oleh kebanyakan orang (dan kemudian di-amplify oleh media massa) adalah melulu urusan teknis. Nyaris tak ada orang bicara Internet (dan TI secara umum) dari sisi lain. Coba ingat-ingat, adakah psikolog kita yang bicara tentang kecanduan Internet, kepribadian yang pecah dalam CMC (computer mediated communication)? Adakah sosiolog kita yang mencoba melirik peta dan hubungan-hubungan sosial baru di venue yang bernama Internet ini? Adakah ahli politik kita yang melihat adanya kemungkinan berkembangnya hacktivisme dalam masyarakat kita? Dan, ini lebih parah lagi, adakah ahli komunikasi kita yang ngeh betul bahwa Internet pertama-tama adalah urusan komunikasi, bukan teknik?
 
Lihat, siapa yang menjadi narasumber untuk segala urusan yang berkaitan dengan Internet dalam masyarakat kita sejauh ini? Setahu saya, mereka terbagi dua kelompok: pedagang dan teknisi. Di luar itu, mereka yang mencoba bicara tentang Internet pasti sudah minder duluan, atau melakukan self-adjustment untuk berlagak menjadi teknisi.
 
Ini penyebab yang bikin kita menjadi 'terbelakang'. Saya merasa begitu.
 
Benar bahwa teknologi belakangan ini berjalan semakin lebih cepat dari para sosiolog, ahli semiotika, ahli komunikasi, atau ahli politik. Ini terjadi bukan cuma di Indonesia, memang; tapi juga hampir di seluruh belahan bumi. Blog adalah buktinya.
 
Tapi Blog juga sekaligus membuktikan kekalahan para teknisi, dan menunjukkan kemenangan para ahli komunikasi. Kenapa begitu? Sebab secara teknis, tak ada yang baru dari blog. Mereka yang ngeh dengan komunikasi memberikan makna baru bagi 'teknologi lama' ini.
 
Secara teknis, blog hanyalah salah satu jenis CMS (content management system). Pengembangan berbagai jenis CMS mulai kenceng ketika dotcom meledak-ledak di penghujung 90-an untuk mempermudah pengelolaan content sebuah situs/portal web. Dulu, sebelum banyak CMS banyak dikembangkan seperti sekarang, saya bahkan harus membuat sendiri CMS untuk portal yang saya kelola (detik.com).
 
Dengan CMS, orang lebih mudah mengelola content sebab siapapun yang terbiasa menulis dengan komputer akan bisa memakainya. Dengan CMS, siapapun bisa mempublikasikan tulisan atau gambarnya; tidak perlu ngerti pemrograman apapun.
 
Pemanfaat CMS untuk keperluan Weblog (yang sekarang lebih populer disebut Blog) pastilah berdasar pada cara pandang ahli komunikasi. Popularnya Blog saat ini, menurut saya, adalah mailstone kreatif dari komunitas Internet yang sangat revolusioner dan subversif. Kenapa begitu?
 
 
 
1. Bagaimanakah perkembangan blog saat ini baik di seluruh dunia maupun di Indonesia sendiri (blog yg ditulis oleh orang Indonesia)?
 
Saya tidak punya data baru. Tapi, Technocrati, sebuah search engine yang mencatat apa yang terjadi d dunia weblogs, pada bulan Maret 2005 mencatat bahwa jumlah weblog naik 16 kali lipat dalam 20 bulan terakhir. Menurut surveinya, setiap hari muncul 30 ribu sampai 40 ribu weblog baru, dan setiap hari ada setengah juta isi baru ditampilkan di dunia weblog.
 
Saya berani berasumsi bahwa blog semakin hari semakin berkembang pesat, bukannya menurun. Sebab blog bukan semata-mata fashion, yang nge-trend sesaat, melainkan merupakan jawaban terhadap kodrat orang sebagai makhluk komunikasi.
 
Orang memanfaatkan blog untuk macam-macam urusan: latihan menulis, membuat catatan harian, berbagi pengetahuan dan informasi yang dikuasainya, sampai marketing.
 

2. Ada banyak jenis blogger, menurut anda apakah semuanya berguna --katakanlah-- bagi masyarakat? Bagaimana membedakan dan menilainya?
 
Yang pasti, blog bermanfaat bagi penulisnya sendiri.
 
Tidak semua tulisan yang sekarang ada di berbagai blog itu bermanfaat bagi orang lain selain penulisnya. Harus diakui, ada blog yang tak lebih dari catatan harian yang hanya bisa dinikmati oleh penulisnya. Jangan salah, saya tidak mengatakan bahwa catatan harian itu bersifat introvert. Ada juga catatan harian yang extrovert, yang melibatkan orang lain.
 
Bagi saya, blog yang bermanfaat secara sosial adalah blog yang berbagi informasi, pengalaman dan pengetahuan baru bagi pembacanya. Bentuknya bisa apa saja. Sebuah blog catatan harian pun bisa memberikan manfaat seperti itu.
 
Misal, sebuah blog dari seseorang yang menuliskan pendapatnya tentang buku yang baru saja ia baca, saya kira, akan sangat bermanfaat bagi pembacanya. Anda tahu sendiri, seberapa besar jatah halaman koran/majalah untuk ulasan buku? Dengan ulasan dari si fulan di blognya, kita jadi punya informasi yang bisa memancing rasa ingin tahu atau bertukar pendapat tentang buku itu kan?
 
Apalagi kalau blog itu memang dirancang untuk bertukar 'liputan' diantara para warga yang mengalami sebuah peristiwa. Pasti bermanfaat. Begitu juga dengan jenis blog yang dirancang untuk berbagi pengetahuan; misal blog yang berisikan tutorial dari seseorang yang menggeluti bidang tertentu.
 

3. Kalangan pesohor juga mulai menggeluti blog--seperti Juwono Sudarsono dan Tiara Lestari. Ini menunjukkan apa?
 
Ini bukan soal pesohor atau bukan pesohor. Blog adalah urusan kebebasan dalam mengekspresikan pandangan, mencatat pengalaman, berbagi pengetahuan dan informasi.
 
Dua orang yang anda sebut di atas adalah benar para pesohor. Lalu, apakah kedua pesohor tadi punya kebebasan untuk mempublikasikan tulisannya di media anda atau media lain? Saya kira tidak.
 
Media massa mainstream, bagaimanapun, punya keterbatasan. Ruangnya tidak tanpa batas. Juga, diakui atau tidak, perusahaan-perusahaan media selalu punya politik keredaksian yang menyaring naskah yang akan dipublikasikan.
 
Blog nyaris tidak memberikan hambatan macam itu. Selama si blogger mempunyai ruang data yang memadai, ia bisa menulis sebanyak apapun. Dan yang menyaring content, pertama-tama adalah penulisnya sendiri. Nyaris tanpa difilter oleh pihak lain. Nyaris.
 
Memang ada sejumlah penyedia layanan blog yang memberikan batasan kepada penggunanya untuk beberapa jenis content -misal, pornografi dan hasutan- . Tapi batasan itu hampir tidak berarti, karena si pengguna blog bisa mudah pindah ke penyedia layanan lain yang tidak terlalu ketat kontrolnya.
 
Mempunyai blog sendiri adalah berarti punya media sendiri yang bisa diakses oleh siapapun yang terhubung ke Internet. Di sinilah letak ke-revolusioner-an dan ke-subversi-an blog.
 

4. Cukup banyak media kondang (seperti The New York Times) yang merujuk ke blog dalam berita-beirtanya. Bagaimana anda melihat perkembangan ini? Apakah blog berpotensi menjadi media altenatif dr media konvensional (cetak dan elektronik)?
 
Bukan "berpotensi", tapi "sudah" menjadi media alternatif.
 
Tapi tentu tidak sembarang blog menjadi rujukan. Setahu saya, blog yang menjadi rujukan adalah blog yang punya track record yang bagus untuk urusan akurasi informasi dan kompetensi penulisnya.
 
Di sini, citizen journalism baru cuma omong-omong sporadis. Di luar sana, citizen jounalism memang dikembangkan. Para bloger dipersenjatai dengan metoda-metoda jurnalistik. Mereka dipasok dengan pengetahuan tentang kaidah-kaidah pemberitaan, menakar akurasi informasi, menjaga kredibilitas penulisan dan seterusnya.
 
Jadi, ketika informasi yang akurat dan kredibel mampu diproduksi oleh warga, maka siapapun dengan tentram bisa mengutipnya untuk disiarkan secara lebih luas. Saya kira, masuk akal saja bahwa perusahaan-perusahaan media mengutip atau merujuk blog dalam pemeberitaannya; selama blog itu kredibel. Lagi pula, sebesar-besar armada peliput sebuah perusahaan media, jumlah warga negara jauh lebih banyak. Nah, kalau warga mampu melakukan kegiatan jurnalistik, saya kira perusahaan media bisa berhemat banyak .. ha ha ha ha ...
 

5. Di India blog di-blok pemerintah paska pengeboman. Di China seorang blogger baru saja dibebaskan dr tahanan. Bagaimana anda membaca perkembangan semacam ini?

Penguasa sebuah negara mungkin bisa memblokade akses ke sebuah (atau beberapa) blog. Rakyatnya mungkin kemudian tidak bisa membaca blog tersebut. Tapi saya meragukan efektivitas blokade macam itu.
 
Penguasa itu tidak bisa mencegah orang untuk menulis di blognya (yang baru). Ada banyak cara untuk menyelinapkan informasi kan? Kirim tulisan ke blog lewat SMS, misal. Atau, kalau itu susah, sms seorang teman di negara bebas untuk meng-update blognya. Atau, sewa ruang di perusahaan penyedia jasa hosting, pakai domain sendiri, install aplikasi blog, dan mulailah menulis lagi. Beres.
 
Untuk membacanya? Kan banyak metoda lain untuk mendapatkan informasi. Saat Blog diblokade, rakyat bisa membacanya lewat milis (tentu dengan bantuan pihak lain untuk menyebarkannya ke milis atau indvidual e-mail).
 
Blog hanyalah bentuk bentuk publikasi. Sementara yang ditakutkan penguasa adalah informasinya.
 
Sekali lagi, ke-revolusioner-an dan ke-subversi-an blog terletak pada terbukanya kebebasan bagi individu-individu untuk mempunyai media sendiri yang bisa menyebarkan informasinya sendiri. Berkembangnya blog sekaligus berati juga terbukanya kran bagi segala macam pikiran, pengetahuan, pengalaman, informasi yang "tidak resmi". Itu berarti kran subversi dibuka lebar.
 
Anda mungkin berpikir bahwa blog membuka peluang bagi warga dan negara untuk saling berhadap-hadapan. Itu benar. Lebih dari itu, kemudahan dan kebebasan untuk mengembangkan dan menyebarkan informasi ini juga memungkinkan perang informasi terjadi secara horisontal: antara satu warga dengan warga lain.
 
Di sisi politik, perkembangan blog di komunitas Internet harus didampingi oleh dua hal. Pertama, mempersenjatai para blogger dengan metoda (jurnalistik?) yang menjunjung tinggi kejujuran dan kredibilitas informasi. Kedua, mempersenjatai warga dengan kemampuan menakar tingkat kredibilitas informasi yang mengalir deras dan bebas.
 
Blog, sebagai teknologi maupun sebagai metoda berkomunikasi dan berpolitik, sudah terlanjur mbrojol. Saya tidak yakin bahwa ada cara untuk untuk menghentikannya. Dan memang tidak perlu berpikir untuk menghentikannya.
 
Yang kita butuhkan adalah para bloger yang bijak dan bertanggungjawab. Yang kita butuhkan adalah para pembaca blog yang cerdas, yang mampu menakar informasi.
 
Halo! Halo! Adakah yang peduli di sini??
 
 
Salam
 
 
Yayan Sopyan