Pertengahan Pebruari 2001, Eka Kurniawan, jurnalis dan konstributor majalah Pantau menghubungi saya lewat telepon untuk sebuah tulisan yang akan dibuatnya. Setelah perbincangan beberapa menit yang terputus-putus, saya menyarankan agar perbincangan dilangsungkan lewat email. Berikut ini balasan saya atas email Eka.

Tanpa mengubah makna dan isinya, kutipan ini telah mengalami penyuntingan.


Terima kasih mas Yayan bersedia diwawancarai. Sebelumnya, ini ada beberapa situs-situs yang bagi saya cukup "unik" jika memang untuk menyebut "alternatif" agak banyak pertanyaan.
www.pembunuhan.com
www.komikaze99.com
www.kunci.addr.com
www.tontonan.com (situs ini di-hack orang tak dikenal).
www.handoyo.org (ini merupakan situs budaya dan tradisi Tionghoa).
www.akubaca.net
www.cybersastra.net

Untuk sementara saya memfokuskan pada tujuh situs tersebut bersama beberapa permasalahan yang mereka hadapi.

1. Jika Anda sudah melihat situs-situs tersebut, dan saya beritahu bahwa mereka rata-rata digarap oleh seorang dua orang atau sekelompok kecil orang dengan minat yang sama terhadap satu topik, bagaimana pendapat Anda mengenai fenomena tersebut, terutama bagi perkembangan dunia cyber di Indonesia?

Sebagai fenomena di Internet, situs-situs tersebut adalah hal yang biasa. Dalam arti, munculnya situs-situs semacam itu adalah konsekuensi logis dari berbagai kemudahan yang tersedia di Internet untuk mempublish apapun sesuai keinginan dan minat orang. Bahkan banyak situs berbahasa asing yang content-nya lebih 'aneh' lagi.

Andai -ini andai- seluruh warga Indonesia mempunyai satu interest yang berbeda satu sama lain, mau dan mampu mempublishnya di Internet, serta mau dan mampu terhubung ke Internet, maka sudah bisa diduga bakal ada tak kurang dari 200 juta situs dengan content yang sangat beragam.

Yang menarik adalah jika fenomena ini dilihat sebagai fenomena media. Anda menyebut situs-situs itu sebagai situs 'alternatif' atau 'unik'. Padahal dari sisi content maupun teknologi, situs-situs itu sama sekali tidak tergolong 'unik' atau 'alternatif', dalam arti: tidak ada yang 'aneh'. Tapi penyebutan 'unik' atau 'alternatif' menjadi terasa wajar dari sisi pemahaman media.

Sebelum ada Internet, media selalu berarti sesuatu yang dinikmati oleh banyak orang tapi dikuasai oleh sedikit orang yang punya kekuatan politik, kemampuan ekonomi, dan secara psikologis punya keberanian yang cukup besar (atau salah satu diantaranya). Dalam cara pandang tradisional, media adalah sesuatu yang eksklusif. Risikonya, dalam penjelasan matematika, sebelum ada Internet content sebuah media sebisa mungkin selalu harus berada dalam wilayah irisan dari hampir seluruh himpunan sosial yang ada. Itulah -misalnya- yang menyebabkan munculnya entitas yang disebut selebriti di media-media tradisional. Tak ada tempat yang cukup untuk subyek-subyek yang diminati oleh himpunan sosial yang relatif kecil. Cobalah bandingkan mana yang mungkin dipublish di media tradisional: kisah kehamilan Kris Dayanri atau cara membuat pesawat terbang kertas mainan yang bisa terbang lama?

Sebagai fenomena media, situs-situs tersebut menunjukkan bahwa Internet telah mengubah paradigma media. Internet memperlihatkan bahwa media tidak selalu berarti "dari sesuatu yang besar untuk sesuatu yang besar pula" dengan sekian risiko reduksi subyek dan tema.

Saya sih berharap situs-situs semacam itu mampu merangsang orang untuk tersadar bahwa Internet terbuka untuk segala macam isi secara beragam; tidak harus 'standar', seragam, atau berbicara tentang sesuatu yang besar, 'lazim', umum dan diminati oleh banyak orang. Sejarah perdaban orang memperlihatkan, inovasi-inovasi muncul dari orang atau kelompok yang punya cara melihat yang tidak lazim maupun standar.

2. Satu yang menarik adalah kasus yang terjadi pada situs www.tontonan.com di mana seseorang merusaknya, padahal ini hanyalah sebuah situs kecil dengan pengunjung sekitar 350 orang setiap bulan. Bagaimana komentar Anda?

Motif seorang cracker untuk melakukan pengrusakan atau gangguang terhadap sebuah situs, saya rasa, berbeda-beda. Jika ingin popular, ya, mereka akan meng-crack situs-situs yang banyak dikunjungi orang. Jika motifnya bukan popularitas, ya, mereka bisa saja meng-crack sebuah situs yang mungkin hanya dikunjungi oleh dirinya sendiri ... ;)

Untuk kasus tontonan.com, saya tidak bisa melihat motif yang jelas dari sang perusak:

  • mungkin sang perusak itu seseorang yang tidak suka dengan content situs tersebut yang dianggapnya tidak menarik
  • mungkin juga perusak itu seseorang yang cukup dekat dengan pengelola situs, yang entah bagaimana caranya bisa mencuri userid dan password situs itu, dan lalu meng-isengi-nya.
  • mungkin juga perusak itu pengunjung iseng sebuah warnet, yang juga biasa dipakai oleh pengelola situs untuk mengupdate situsnya -dan karena kelalaian si pengelola situs, password dan userid-nya tertinggal di warnet itu dan lalu dipakai oleh si perusak untuk iseng.
  • mungkin juga si perusak itu seorang cracker yang tangguh dan penasaran ingin menjajagi kehebatan sistem keamanan perusahaan sehebat Tripod.

Intinya, perusakan sebuah situs bisa terjadi pada segala jenis situs -yang besar maupun kecil- tergantung pada kemampuan dan motif si perusak.


3. Jika Anda mengamati situs www.komikaze99.com, www.pembunuhan.com, dan www.tontonan.com, tampak bahwa mereka mempergunakan domain gratis dari www.namezero.com. Situs lain yang memberi layanan hampir sama antara lain www.namedemo.com dan www.name4ever.com. Bagaimana situs-situs tersebut bisa melakukan hal seperti itu ?

Jika yang Anda tanyakan adalah kenapa namezero.com atau namedemo.com bisa memberi layanan gratis, maka pointnya adalah bahwa bisnis di Internet tidak selalu berarti sebuah bentuk penjualan langsung. Banyak pengelola bisnis macam ini yang tidak terlalu menghiraukan potensi pendapatan dari user-pengakses. Bisa saja pendapatan yang diincarnya dalah pendapatan yang dapat diraih dari -misalnya- iklan atau publik lewat bursa saham/pasar modal. Asumsinya, semakin banyak orang memakai jasa gratis mereka, maka akan banyak pula pesamasang iklan yang akan memasang iklannya di situs yang mereka kelola. Dan bagaimana pengaruhnya untuk para desainer web muda?

Saya kira ini bukan soal pengaruh. Saya melihatnya sebagai peluang bagi siapa pun yang ingin berkreasi dengan memanfaatkan media Internet. Kalau para desainer web sedikit jeli saja, mereka bisa memanfaatkan layanan semacam ini untuk memperlihatkan kemampuannya dan bereksperimentasi -tentu saja dengan sekian keterbatasan yang diberikan oleh pengelola layanan gratis ini.

4. Menurut Anda, apa sih yang kira-kira diharapkan oleh generasi tersebut terhadap internet?

Terus terang saja, saya tidak bisa menebak apa yang mereka harapkan. Saya hanya melihat bahwa potensi-potensi yang ada di ada di Internet belum digali secara dalam. Banyak hal yang sebetulnya telah tersedia di Internet tidak terlihat oleh kebanyakan pengguna Internet kita. Sampai saat ini, menurut hemat saya, kebanyakan pengguna Internet dimanapun masih memperlakukan Internet sebagai kelangenan. Indikasinya sederhana saja. Coba lihat kasus penyebaran virus yang sangat sukses di seantero Internet. Modusnya hampir mirip semua: mengirimkan file VB script dengan memberi nama yang seolah-olah itu adalah nama file gambar berformat jpg. Kalau kebanyakan orang tidak memperlakukan Internet sebagai kelangenan, rasanya tidak akan ada sebegitu banyak orang selalu penasaran terhadap kiriman file gambar.

Tapi saya percaya, suatu hari, akan cukup banyak orang memperlakukan media Internet dengan lebih fungsional baik untuk kebutuhan-kebutuhan yang pragmatis maupun yang idealistis.

Jika digarap dengan sungguh-sungguh, apa yang Anda sebut sebagi situs-situs 'unik' atau 'alternatif' itu adalah beberapa gelagat awal ke arah kesadaran bahwa Internet bisa dimanfaatkan untuk banyak hal selain kelangenan saja.

5. Yang tadi sudah saya tanyakan di telepon tidak saya tanyakan, tetapi jika Anda ingin mengulangnya dengan senang hati saya menerima. Juga jika Anda mau memberi tambahan informasi di luar yang saya tanyakan atau mungkin Anda mau memberikan komentar terhadap situs-situs itu. Kata kunci saya "alternatif" tapi yang saya maksud adalah kecenderungan generasi baru yang (beberapa di antaranya tidak benar-benar jago internet, hanya bisa pakai Front Page alakadarnya dan buta html) mempergunakan internet untuk membangun mimpi mereka. Di situ ada sastrawan, aktor, komikus, atau sekedar orang yang tertarik pada kasus-kasus pembunuhan. Bagamana?

Eka, saya tidak akan menyebut mereka sebagai generasi baru Internet. Dalam jumlah yang kecil, sejak Internet ini mulai diperkenalkan di indonesia pada awal 90-an, sudah ada satu dua orang atau kelompok yang membuat situs-situs dengan content yang berbeda dengan apa yang disajikan oleh situs-situs besar. Contoh paling gampang ya situs yang berisikan arsip mailing list apa kabar. Itu situs lama, yang pada saat itu bisa dibilang berisikan sajian yang berbeda dengan situs-situs besar lain.

Sekali lagi, apa yang Anda sebut sebagai fenomena situs 'unik' ini, bagi saya, adalah gambaran bahwa masyarakat kita pelan-pelan mulai tersadar (meski tertinggal dibandingkan dengan masyarakat bangsa lain) bahwa Internet memberikan sekian kemudahan bagi siapapun. Sejak awal pengembangannya, penemu Internet -terutama sekali web- bermimpi mampu menyadiakan cara dan alat yang mudah bagi orang untuk berkomunikasi. Internet dan akselerasi pengembangan teknologinya sampai saat ini telah mematahkan batasan yang selama ini menjauhkan individu-individu yang punya bermacam-macam minat dan tingkat skill dengan media sebagai alat ekspresi, aktualisasi, dan publikasi.

Semoga bermanfaat

Salam

Yayan Sopyan