Lewat perjumpaan online, lewat Yahoo Messanger, pada 20 November 2001 Kurniawan -wartawan harian Koran Tempo- mengajak saya berbincang soal seni digital. Pembicaraan sebetulnya agak tumpang tindih antara seni digital, net.art atau web.art.

Tanpa mengubah makna dan isinya, kutipan ini telah mengalami penyuntingan.


Eh, Yan, aku mau wawancara sama ente pake Yahoo ini boleh nggak?

Wawancara apa?

Soal digital art. Khususnya, soal digital literary.

Sejauh aku bisa, OK-OK aja. Kamu terbitkan di mediamu, aku terbitkan di situsku. OK?

Setuju

Mendingan judulnya bukan wawancara, tapi dialog. Jadi aku setara sama kamu. Aku boleh nanya ke kamu juga .. :)

oke-oke aja lagi

OK. Shoot.

Pertanyaan pertama, sebenarnya bagaimana kamu melihat perkembangan seni ketika mereka bersentuhan dengan digital?

Aku akan melihatnya menjadi dua hal. Pertama, teknologi digital sebagai tool untuk berekspresi. Kedua, teknologi digital sebagai medium berekspresi. Ini dua hal yang berbeda, tapi sama-sama memberikan sumbangan (atau tepatnya risiko) dalam berkesenian.

Sebagai tool, teknologi digital membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam berkesenian, memberikan peluang-peluang kepada orang/seniman yg selama ini -katakanlah- punya kelemahan jadi terbantu. Contoh sederhana, orang yang selama ini tidak mampu menggambar, menjadi terbantu oleh teknologi digital. Ia tidak harus menggambar. Ia cukup memotret dengan kamera digital lalu merekayasanya dengan software pengolah image.

Apa artinya ini? Ini memperluas kemungkinan banyak orang terlibat dan bereksperimentasi dalam berkesenian. Dengan asumsi ini, seharusnya -sekali lagi, seharusnya- dunia kesenian menjadi mempunyai 'penduduk' yang lebih banyak dengan preferemsi yang lebih beragam.

Artinya, seni jadi lebih populis, begitu?

Kalau yang dimaksud populis itu karya-karyanya, ya, tidak selalu harus bersifat populis. Lebih tepatnya, membuat lebih banyak orang terlibat dalam berkesenian. Terlibat sebagai kreator, ya, bukan cuma sebagai apresiator.

Aku sebelumnya, misal, tidak bisa masuk dalam penciptaan karya-karya musik sesuai yang aku inginkan karena aku tidak bisa memainkan banyak alat musik, dan tidak memilikinya. Tapi sekarang, menjadi komposer, bukan hal yg mustahil bagi aku.

Dan memang sekarang aku sedang jalan dengan musik digital. Tak perlu punya studio mewah, aku hanya berkarya di kamar kecil di rumahku dengan komputer yang ber-sound card. Aku dan kawan-kawan sedang mempersiapkan kampanye tentang kreasi musik digital. Tunggu tanggal mainnya.

OK, terus..

Lalu, teknologi sebagai medium.

Ini ada hubungannya sama McLuhan nggak?

Nggak tahu. McLuhan yang mana nih? Statementnya yg mana?

Itu. Media as Extension of man

Aku tidak tahu yang itu. Tapi kalau yang bersangkutan dengan global village, ya, nanti akan terlihat hubungannya.

Begini. Sebagai medium, teknologi digital memunculkan beberapa hal yang sebelumnya tak terpikir. Katakanlah, soal copyright dan soal definisi originalitas. Dua hal ini, tiba-tiba menjadi tidak kompeten dibicarakan. Bukan tidak penting, ya. Tapi, tidak kompeten. Orang menyebutnya ini sebuah masalah. Aku menyebutnya, sebagai sesuatu yang belum terantisipasi. Sebagai medium, teknologi digital menjadi sesuatu yang berhak dimiliki oleh siapapun. Tidak ada konsesi di medium ini ...

OK. Tapi balik ke masalah seni, apa dampaknya?

Barangkali kita tidak ngomong dampak dulu, tapi kita lihat perkembangan yang terjadi saja, ya.

OK

Salah satu hal yang terjadi dan sangat menarik adalah kesenian juga memasuki era open source ...

Hidup Partai Linux :)) Sori, just kidding

Beberapa hari lalu aku masuk ke sebuah site yang memberikan argumentasi anarkisnya atas apa yang disebut sebagai kebebasan dari copyright dalam berekesenian. Aku lupa nama situsnya.

Dalam medium digital, hampir tidak dimungkinkan apa yang disebut dengan proteksi ...

Tapi, apa tak terlalu jauh bagi publik seni Indonesia bicara seni dan open source?

Sebentar. Kita akan sampai ke situ.

OK

Jadi, dalam era digital, apa yang disebut originalitas hanyalah dunia digital itu sendiri. 1 0 0 1 dan seterusnya. Selebihnya adalah sebuah proses kolaborasi, proses interaksi antara satu gagasan dengan gagasan lain, satu orang dengan orang lain, satu sentuhan dengan sentuhan lain. Ini sebabnya hakcipta dan orisinalitas menjadi tidak kompeten di bicarakan di dunia digital.

I see. Lantas, beragam karya yang eksis itu apa menyebutnya? Duplikasi? Plagirism?

Bukan. Sadar atau tidak, disengaja atau tidak, yang terjadi adalah kolaborasi gagasan. Ini pointnya. Berkesenian di era digital adalah berkesenian yang berkolaborasi: sebuah kebangkitan network art -yang tidak populer di negeri ini. Itu point open source: sebuah kolaborasi, sebuah kerja sama dalam sebuah jaringan.

Satu-satunya keuntungan besar berkesenian dengan medium ini adalah nilai kerja sama. Maksudku, yang membedakannya dengan kesenian non digital, ya.

Bukankah kolaborasi antar seniman sering terjadi di dunia fisik/nondigital?

Terjadi. Tapi kamu harus mengeluarkan biaya yang mahal. Bukan cuma biaya dalam artian uang, tapi juga biaya-biaya yg lain.

Maksudnya?

Dalam kesenian non digital, berapa banyak orang bisa terlibat dalam kerja sama? Berapa lama orang membutuhkan waktu untuk mendapatkan karya seniman lain?

Bisa puluhan seniman dan beberapa bulan kerja

Dengan dunia digital, jelas, akan lebih banyak orang yang terlibat dari berbagai tempat dengan waktu yang relatrif lebih singkat untuk me-networking-kan sebuah karya

OK. Tapi toh ada juga karya-karya digital yg individual

Tentu. Dan tak ada salahnya dengan itu. Yang sedang kita bicarakan tadi adalah kemungkinan-kemungkinan baru yang diberikan oleh teknologi digital

Oh, I see

Dan tidak semua seniman mau melihat hal-hal tadi sebagai 'keuntungan', tentunya :)

Ya, kukira selama ini semangat individualitas lebih kuat dalam karya non digital

Dan dunia digital akan mengejutkan tipe seniman macam itu.

:) Kukira itu yang menggetarkan hati Sutardji CH

Entahlah. Aku nggak begitu kenal pikiran-pikirannya.

Spesifikasi lain dari seni digital adalah sifatnya yang immaterial. Seimmaterial gagasan.

Tunggu. Soal kolaborasi itu, secara sederhana, bisakah kuilustrasikan bahwa sebuah karya digital, misalnya sebuah puisi karya X yg dipresentasikan dg Javascript karya Z?

Bukan. Ilustrasi sederhana kolaborasi tadi adalah: aku melukis secara digital sebuah bentuk kepala manusia. Lalu kamu bisa menambahkan bentuk badan sapi di situ. Jadilah sebuah karya bersama. Datang lagi si Z. Dia mengubah karya kita berdua tadi menjadi sebuah movie yang penuh animasi. Jadilah itu karya kita bertiga. Datang si Kus. Diberinya musik, sesuai dengan interpretasi dan ekspersi dia. Jadilah itu karya berempat. Begitu terus

Lalu, apa sebutan untuk contohku tadi?

Yang kamu contohkan bukan kolaborasi, melainkan cuma penerjemahan. Masih lazim terjadi, di seni digital (terutama web.art), seorang penyair didampingi oleh programmer. Programmer tadi, pada prinsipnya, hanya menerjemahkan, bukan ikut berkarya. Lain halnya, jika si programmer ikut terlibat memberikan ekspresi-ekspresi baru terhdap karya si penyair.

Jadi ada dua tipe programmer tuh.

OK. Lalu, aku melihat bahwa teknologi digital membuat batas-batas tradisional seni luruh.

Apa yang kamu maksud "batas-batas tradisional seni"?

Puisi, misalnya, tak melulu teks statis tapi lebih mirip karya seni rupa

Tergantung. Kalau puisi yang dimaksud adalah teks sastra, ya luruh.

Apakah dengan demikian ini akhir dari sastra?

Tidak. Digital art masih percaya kepada teks, tidak menghilangkannya. Tapi teks kemudian diperkaya dengan gerakan, gestur, suara, animasi, dan immaterialitas. Yang sering jadi polemik adalah apakah dengan penambahan itu orang/apresiator semakin dipersempit imajinasinya (karena diarahkan oleh elemen lain) atau malah semakin diperluas.

Sebagian orang menganggap, penambahan elemen-elemen baru dalam sastra (tulisan) membuat orang kehilangan ruang yang luas untuk berimajinasi, untuk lebih bebas berasosiasi. Karena sudah ada elemen lain yang mengarahkan mereka ke sebuah gagasan yang lebih jelas, yang lebih certain, yang lebih spesifik.

Sebagian orang yang lain menganggap: tidak! Betapapun, ruang imajinasi, ruang asosiasi, tidak pernah menciut ketika dia dihadapkan dengan elemen-elemen yang lebih 'berbentuk' (ada shape-nya)

Sebentar. Kalau kau amati situs-situs bikinan orang Indonesia, katakanlah situs puisinya, lalu karya mereka ini masuk kategeri apa dalam teori tool-medium-mu?

Sejauh yang aku lihat, situs-situs yang ada tak lebih dari medium publikasi saja. Dia bukan medium dalam berkarya. Bukan juga tool dalam berkarya.

Artinya belum menyentuh digital art?

Sama sekali, belum. Potensi terbesar digital art di Indonesia justru ada di kalangan desainer web. Sorry aku ralat. Bukan digital art, tapi net.art atau web.art

Aku mengerti. Lalu, kalau karya beberapa teman yg mencoba menggunakan kelebihan web, misalnya link, apa itu?

Link macam apa yang dimaksud?

Ada seseorang yang bikin homepage seperti Pilih Sendiri Petualangmu

Aku belum pernah lihat situs sastra indonesia yang memanfaatkn link dalam berkarya. Kalau itu ada, itu bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk web.art

Oh. OK. Aku ingat. Ya betul, itu ada. Dan itu bisa dimasukkan sebagai web.art

OK. Ada definisi khusus tidak soal web art ini yang bisa kukutip?

Lebih baik aku cerita aja. Begini. Ada kelompok yang menilai sesuatu disebut sebagai web.art sejauh itu merupakan bentuk seni yang memanfaatkan web -termasuk yang cuma memanfaatkan web untuk publikasi. Tapi ada kelompok yang memandang, web.art itu ya kesenian yang memakai web dengan sekian karakteristik dan featuresnya serta kemungkinan-kemungkinan yang diberikannya -tidak termasuk seni tradisional yang dipajang di web.

O ya, apa pendapatmu spoal pernyataannya: Sastra di Internet adalah SastraInternet!

Nggak penting itu. Apapun namanya, nggak pentinglah. Yang penting, karyanya aja.

OK. Soal pandangan anarkis tentang web art itu bagaimana?

Sorry, aku betulkan istilahnya. Bukan anarkis tentang web art lho, tapi pandangan anarkis sebagai risiko dari dari era digital. Pandangan anarkis tadi tidak bersangkut dengan konsep web.art

Prinsipnya, dengan pandangan anarkis tadi, mereka menolak apa yang disebut sebagai copyright. Suatu karya tidak bisa dimiliki sendirian di era digital

Oh, begitu. Lalu apa ada semacam komunitas yang memromosikan web art ini?

Aku tidak tahu, apakah mereka mempromosikan atau tidak. Tapi di sinilah net.art pertama-tama banyak diperbincangkan. Namanya net time di www.nettime.org. net time itu mailing list untuk net.criticism.

Sejak kapan itu didiskusikan?

1996. Istilah yang mereka pakai adalah net.art. Pencetus istilah ini namanya Vuk Cosic

OK, lalu soal interaktivitas dalam seni digital apakah itu cirinya pula?

Ya. Itu salah satu cirinya. Tapi interaktivitas bukan milik digital art lho sebab dalam seni robot/mekanik juga ada aspek interaktivitas.

Tapi bukan yang utama kan?

Betul. Bukan yang utama

Lalu yang utama itu apa?

Aku gak tahu mana yang utama. Tapi mari kita lihat karakteristik dari net art (bukan digital art secara umum ya). Pertama -bukan yang utama lho- interaktivitas. Yang kedua, hyperdimensionalitas. Maksud hyperdimensionalitas itu tidak terbatas pada ruang dan waktu. Yang ketiga itu, immaterialitasnya. Immaterialitasnya itu ya .. mmm .. tidak hadir dalam ruang nyata dan bentuk material.

Tapi kan bisa jadi CD, misalnya

Itu tempat menyimpannya, bukan karyanya kan? CD itu, ya, seperti ruang galeri saja, bukan karyanya

Karya ya 1 0 00 01

Betul!

Pengamat seni menilai seni digital itu meruapakan realisasi dari seni konseptual ...

Apa bukan kode biner 1 dan 0 itu yg jadi ciri utamanya?

Bukan. Itu mediumnya. Bukan ciri. Maksudku, banyak hal bisa dilakukan dengan medium digital, tapi tidak selalu berarti seni. Atau ... mmm ... masuk kali ya ... Karena dia hidup di medium itu .. Hmmm .. Ya terserahlah kategorisasinya gimana.

Artinya, seni kemudian memanfaatkan digitalnya ini?

Ya. Seni memanfaatkan kemungkinan-kemungkinan yang dibukakan oleh medium digital. Dalam beberapa hal, seni digital melanjutkan tradisi seni yang pernah ada. Dalam beberapa hal lain, dia menampilkan hal-hal baru.

OK. Lalu, bila karya digital, misalnya animasi seperti yg kau contohkan tadi, dicetak di atas kertas misalnya, apa namanya?

Ya, seni cetaklah. Senimannya memanfaatkan teknologi digital sebagai tool.

Artinya karyanya sudah berubah, kan?

Kembali aja, Wan: Teknologi digital sebagai tool atau medium. Kalau sebagai tool, hasilnya bisa merupakan seni digital atau bisa juga seni bukan digital. Misal, aku nulis puisi pake komputer, lalu dicetak. itu bukan seni digital dong

Tapi aku kok nggak melihat manfaat labelisasi macem ini ya? Nggak penting apa disebutnya. Yang penting adalah bagaimana karyanya.

Teknologi digital memberikan kemungkinan-kemungkinan baru sebagai tool maupun medium. Tapi tidak berarti dengan demikian kualitas kesenian menjadi lebih baik. Yang terjadi adalah adanya risiko-risiko yang muncul dari era digital ini. Ya seperti yang udah aku sebut tadi.

OK, soal rencana musik ne art mu itu bagaimana?

Rencananya, aku dan kawan-kawan di Lingkungan Belajar dan Bekerja Mediakita mau mensosialisasi apa yang disebut dengan musik digital. Kami akan membuat site yang memungkinkan siapapun melakukan kolaborasi musik. Site-nya dalam tahap penyelesaian. Juga akan membuat workshop-workshop terutama untuk pemula.

Sound great

Workshopnya dirancang di beberapa kota.Mungkin akan menyasar teman-teman anak muda. Ketimbang jadi korban drug dealer mendingan jadi tracker (tracker adalah sebutan buat orang yang bikin musik digital dengan tracking).

Kami akan start di Jakarta. Dengan kelas-kelas kecil. Maunya rutin. Dan kalau ada partner di kota lain, kami juga siap berangkat.

OK. Nanti workshop pertama aku tulis deh

OK. nanti kamu aku undang. Aku juga lagi menyiapkan satu ebook (sudah jadi, sedang dilayout) tutorial tentang tracking untuk pemula. Mudah-mudahan, paling lambat, akhir tahun ini akan berjalan.

Wah, aku bisa ikutan jadi peserta workshop nih.

Bisa. Syaratnya sederhana kok: bisa bersiul. Itu saja

Kenapa harus bersiul?

Sebagai tanda kamu punya sense musikal. Nggak perlu punya pengetahuan musik.