Pada 8 April 2002, bersama Farchan, saya hadir dalam acara Detikcom Magic Cyber yang diselenggarakan oleh Radio Ramaco dan detikcom. Sore itu, perbincangan mengupas masalah "Kesenjangan Digital Dan Kontent Berbahasa Indonesia".

Berikut ini adalah hasil suntingan perbincangan tersebut. Ini bukanlah transkrip asli. Saya sudah membuang dan menambahkan banyak kalimat. Saya pun telah mengganti banyak kata. Saya bahkan melewatkan beberapa bagian perbincangan tersebut.

Itu semua saya lakukan karena bahasa lisan saya tidaklah lebih baik dari bahasa tulisan saya. Ada beberapa bagian percakapan yang mengulang-ulang pernyataan -dan dapat membosankan jika dibaca.

Saya yakin, isi perbincangan asli dalam acara tersebut tidak mengalami distorsi setelah disunting menjadi tulisan ini.

Semoga bermanfaat.


Sigit Widodo (SW): Selama ini kita selalu mengatakan, kesenjangan digital itu terjadi karena masalah infrastruktur. Namun ternyata ada hal-hal lain yang menyebabkannya. Dan salah satunya adalah masih kurangnya content berbahasa Indonesia. Itu menurut mas Yayan kepada saya. Mas Yayan, bisakah menjelaskan apakah kontent berbahasa Indonesia masih langka atau gimana sehingga bisa dianggap sebagai salah satu penyebab kesenjangan digital?

Yayan Sopyan (YS): Sebelum sampai ke sana, kita ngomong dulu mengenai apakah sebetulnya kesenjangan digital.

Berbicara mengenai kesenjangan digital berarti berbicara mengenai gap antara kelompok masyarakat yang bisa menikmati teknologi digital -sebagai alat untuk bekerja, berkreasi, berkreativitas, dan lain sebagainya- dan menikmati keuntungan-keuntuingan yang diberikan oleh teknologi digital, dan kelompok masyarakat yang sama sekali tidak mencicipi itu. Itulah yang disebut kesenjangan digital.

Dalam beberapa wacana, kesenjangan digital disebut juga sebagai gap antara kelompok masyarakat atau orang yang karena mempunyai akses ke teknologi digital maka dia mempunyai akses ke informasi yang luas; karena mempunyai akses ke informasi yang luas maka dia akan menjadi kelompok masyarakat atau orang yang lebih unggul ketimbang orang yang sama sekali tidak mendapatkan akses ke informasi yang luas itu.

SW: Itu akibatnya, ya.

YS: Itu akibatnya.

Nah, dari persoalan ini banyak pihak merumuskan beberapa hal yang menyebabkan kesenjangan digital tersebut.

Memang betul, yang pertama dan banyak disoroti saat ini adalah soal kesenjangan infrastruktur. Contoh gampang mengenai hal ini, orang yang punya akses ke komputer bisa bekerja dengan cepat. Ia bisa menulis lebih cepat ketimbang mereka yang masih menggunakan -katakanlah- mesin ketik manual. Itu satu contoh.

Contoh yang lain, orang yang mempunyai akses ke komputer dan ke Internet, otomatis mempunyai wawasan yang lebih luas ketimbang mereka yang sama sekali tidak punya akses ke informasi di Internet yang serba luas.

Itulah antara lain contoh yang berkaitan dengan persoalan kesempatan untuk untuk mengakses infrastruktur: ke komputernya, ke jaringannya, dsb.

Tapi sebetulnya, ketika berbicara mengenai kesenjangan digital, bukanlah semata-mata persoalan infrastuktur. Banyak orang punya komputer, bahkan setiap hari, setiap jam- bisa mengakses Internet tetapi "tidak menghasilkan apapun".

SW: Dalam tanda kutip

YS: Dalam tanda kutip

Misal, ada seorang remaja punya akses ke komputer dan Internet. Tapi yang dia lakukan hanya chatting yang biasa-biasa saja. Tentus saja, ia tidak bisa menikmati keuntungan-keuntungan yang diberikan oleh teknologi digital. Itu termasuk salah satu simptom digital divide juga.

Itu artinya, kesenjangan digital tidak hanya bisa dijawab dengan penyediaan infrastruktur saja. Infrastruktur tentu dibutuhkan tetapi persoalannya adalah ketika orang punya komputer dan bisa mengakses Internet, pertanyaan berikutnya adalah, "apa yang mau diakses? Apa yang mau dia kerjakan dengan tools itu, dengan keunggulan-keungguilan teknologi itu?". Itu pertanyaannya.

Kalau kita bicara tentang Internet, salah satu persoalan penting di Indonesia adalah soal content berbahasa Indonesia. Andaikan saja di Karawang -20 km dari Jakarta sini- ada pusat-pusat komputer di setiap RT yg bisa diakses oleh warganya. Pertanyaan saya, "mereka akan mengakses apa?". Di Karawang kebanyakan penduduknya adalah petani dan pedagang. Apa yang mau mereka akses? Yahoo? Buat apa? Petani dapat apa di situs itu? Mencari apa? Sebab yang tersedia di Internet saat ini kebanyakan berbahasa Inggris.

SW: Jangan-jangan nyasar ke exotic asia

YS: Bisa jadi Begitu (Tertawa).

Menurut saya, salah satu akibat tidak langsung dari kurangnya content yang bermanfaat yang berbahasa Indonesia adalah nyasarnya orang-orang ke tempat seperti itu di Internet.

Beberapa kali saya bertemu dengan orang di ruang chatting. Dia mengaku, dia sudah lama mengakses Internet, tetapi ia tidak pernah browsing. Yang ia tahu hanyalah chatting saja. Kataknalah, kita kenalkan dia untuk mengakses situs web. Apa yang mau diakses?

Kemarin kami baru launch 2 ebook yang didistribusikan secara cuma-cuma. Dari respon-respon yang masuk atas peluncuran ebook tersebut, saya mendapatkan kesan bahwa sebetulnya banyak penulis ingin menerbitkan ebook tetapi tidak tahu caranya. Padahal, setahu saya, tuntunan cara membuat ebook yang mudah itu ada di Internet. Karena tidak ada content berbahasa Indoensia yang memudahkan orang Indonesia mendapatkan pengetahuan lewat internet maka kita tidak bisa mengoptimalisasi apa yang sudah kita akses.

Informasi tidak pernah menjadi pengetahuan ketika tidak dihubungkan dengan suatu masalah. Sesuatu terhubung ke masalah jika dimengerti. Pengetahuan baru menjadi kebijkasanaan (wisdom) kalau ditangani oleh yang mampu. Kalau kita hanya mengantarkan orang ke Informasi saja, belum tentu menjadi pengetahuan. Harus ada satu proses yang harus dilewati supaya bisa menjadi pengetahuan, yaitu dengan memetakannya pada persoalan-persoalan. Nah, itu hanya bisa terjadi jika orang mengerti bahasanya.

SW: Kalau informasi berbahasa Indonesia sepertinya sudah lumayan banyak.

YS: Lumayan banyak. Tapi nggak beragam.

Sejak booming Internet -terutama booming perusahaan dot com- di Indonesia, lembaga-lembaga, perusahaan-perusahaan membuat site di Internet selalu "dikaitkan" dengan breaking news. Selalu begitu. Saya sangat sedikit sekali menemukan site yang memang -agar populer- dirancang tidak sebagai site berita.

Harus diakui, sejak detikcom meledak di tahun-tahun awal kebangkitan Internet di Indonesia, orang berbondong-bong membikin site yang semuanya berorintasikan news. Benar bahwa site2 itu berbahasa Indonesia, tapi mana yang orientasinya selain news?

Sekarang kalau anak SMA mau belajar sesuatu, mereka agak susah untuk menemukan tempat belajar, untuk menemukan informasi berbahasa Indonesia yang mereka pahami (di internet). Ketika mereka tidak memahami bahasanya, mereka akan mencari sesuatu yang gampang dipahami tanpa bahasa literal: dengan gambar -misalnya. Ya, kalau gambarnya agak beneran, ya agak enak juga ya. Tapi kalu gambar nggak karu-karuan, agak repot, saya kira.

SW: Tapi masalah itu nggak terbatas di Internet saja kan? Semua media punya masalah itu sekarang.

YS: Betul. Semua media mempunyai masalah itu sekarang ini.

Dengan sekian contoh yang saya kemukakan tadi, saya nggak bilang bahwa semua orang Indonesia bahasa Inggrisnya jelek. Tapi kita harus mengakui dong, dari sekian banyak orang Indonesia ini masih sedikitlah yang mampu berbahasa Inggris. Sementara ini kan bahasa Internet adalah bahasa Inggris.

Oleh karenanya, harus ada kemauan, harus ada satu gerakan, yang mau sedikit peduli dengan persoalan ini supaya informasi-informasi yang bermanfaat bisa betul-betul terhubung ke orang yang membutuhkannya.

SW: Saya kembali ke karakteristik pengguna Internet sendiri. Sekarang pengguna Internet -katanya- menurut data APJII itu 4,2 juta cuma sekitar 2% dari masyarakat Indoensia. Masa sih yang 2% itu nggak mengerti bahasa Inggris?

YS: Betul. Tapi ada 2 hal.

Pertama, kita tidak ingin berhenti dengan 2%. Kita ingin lebih dari 2 % itu kan. Ketika content di Internet saat ini berbahasa Inggris maka akan lebih seidkit orang Indonesia yang merasa berkepentingan dengan Internet. Supaya penetrasi penggunaan teknologi informasi ini lebih kenceng di kita, persoalan penyediaan content berbahasa Indonesia menjadi sangat penting.

Kedua, kita bicara yang 2% ini. Apakah betul yang 2% itu nggak ngerti bahasa Inggris? Yang pasti, saya kira, tidak 100% dari yang 2% ini mengerti bahasa Inggris.

SW: Paling tidak, tidak semuanya mengerti dengan baik. Mungkin begitu ya?

YS: Contoh gampang, ketika pengguna komputer menemukan masalah, banyak diantara mereka tidak dapat menyelesaikannya dengan menekan tombol "Help". Dia tahu, "Help" itu berarti bantuan. Tapi begitu tombol "Help" di-klik, ya udah, dia udah nggak paham lagi penjelasan-penjalan panjangnya.

Kasus-kasus semacam itu banyak kita temukan di kantor, sekolah, warnet-warnet. Itu menunjukkan kita butuh bahasa Indonesia diterapkan di teknologi informasi. Dalam kasus ini, kebutuhan bahasa Indonesia, bukan hanya di content-nya saja tapi juga di interface-nya.

SW: Jadi solusinya gimana? Penterjemahan atau membuat content sendiri?

YS: Apapun bisa dilakukan. Yang pasti, harus ada kepedulian untuk menyediakan content berbahasa Indonesia itu. Upaya penerjemahan adalah salah satu upaya yang baik. Syukur jika hal itu disertai dengan membuat sendiri content yang cocok dengan kondisi kita secara sosial, secara kultural.

Tidak ada salahnya dengan penerjemahan. Banyak informasi bermanfaat di Internet bisa kita terjemahkan dan kita kaitkan dengan problem kita yang sesungguhnya di sini.

Tidak semua informasi di Internet cocok dengan kita. Oleh karenanya penerjemah atau penyadur yang baik akan selalu berupaya untuk melihat konteks dari sebuah informasi.

SW: Yang selama ini kita pikirkan, kesenjangan digital kan antara yang 2% yang mengerti Internet tadi dengan 98% yang nggak ngerti Internet. Tapi, kalau kita lihat sekarang, di 2% itu sendiri ada kesenjangan digital ya?

YS: Saya kira, iya.

Di beberapa rumah sudah ada komputer. Tapi komputer itu dipakai hanya untuk mengetik. Tidak ada salahnya dengan mengetik, tapi kemampuan komputer sebetulnya lebih dari sekadar untuk mengetik.

Kemarin saya sempat jalan ke Yogyakarta untuk bertemu dengan beberapa teman. Kebetulan beberapa teman sempat mendownload ebook tentang membuat musik digital yang saya luncurkan di site kami, www. lbbm.org. Mereka terkejut bahwa hanya dengan PC biasa mereka bisa membuat musik digital; tanpa harus membeli instrumen musik, tanpa membeli software -karena kebetulan software yang dipakai untuk membuatnya adalah freeware.

Jadi, betul, di dalam yang 2% ini pun ada kesenjangan digital.

Yang pasti begini, mas Sigit, setelah kita meluncurkan ebook itu, kita mendapatkan respon dari sekian orang yang menyatakan diri bersedia menjadi relawan untuk menyediakan content berbahasa Indonesia. Dan mereka sebetulnya sudah melakukannnya. Artinya, ada satu dua orang secara amatir … -maksudnya amatir itu bukan berarti buruk atau tidak bermutu, tapi dikerjakan sebagai ..

SW: Untuk senang-senang gitu ya

YS: Ya, semacam itu. Isinya bagus-bagus. Misalnya, salah satu orang itu memberikan saya link menuju tulisannya tentang pengenalan Linux. Ada juga orang yang menyatakan diri bersedia menyediakan content tentang kesehatan yang berkaitan dengan penggunaan komputer.

Saya melihat, sebetulnya banyak yang bisa dilakukan. Relawan-relawan yang berpencar-pencar ini akan menjadi bagus kalau bisa disinegikan. Memang ada beberapa rencana LBBM untuk membuat suatui gerakan sinergis dengan siapapun yang merasa peduli dengan persoalan ini.

Kartono (penelepon): Saya sangat tertarik dengan pembicaraan hari ini soal content berbahasa Indonesia. Tapi, menurut saya, yang terpenting saat ini adalah bahwa saat ini yang bisa mengakses Internet di Indonesia kebanyakan itu masih di -minimal- kota-kota kabupaten dan tingkat pendidikan mereka pun sudah tinggi. Jadi, sedikit banyak sudah mengerti bahasa Inggris. Sedangkan yang disasar, seperti petani-petani di desa-desa seperti itu, mereka tidak bisa punya akses ke Internet ya.

Jadi, menurut saya, yang mungkin lebih dulu dipikirkan gimana cara mengaksesnya. Saya sangat tertarik sekali pada akses Internet melalui radio paket. Dan itu mungkin bisa menjadi dasar, pak, ya.

Jadi saya mengusulkan gimana kalo content berbahasa Indonesia itu untuk sementara jangan ditarus sebagai satu halaman web tapi untuk file transfer protocol, pak. Jadi bisa kita download melalui radio paket itu, nggak perlu pake browsing di web gitu, pak. Karena kecepatan radio paket itu rendah ya.

Begitu saja. Terimakasih.

Welly (penelepon): Mau tanya tentang freeware tadi. Freeware yang buat musik. Jenisnya seperti apa, pak, ya? Saya baru denger itu makanya saya tertarik. Terus, yang kedua, kalau freeware itu bisa digunakan berarti keyboard nggak guna lagi dong, ya?

SW: Kita jawab dua pertanyaan dulu, mas Yayan

YS: OK. Buat mas Kartono dulu ya.

Betul, saya tidak memungkiri bahwa soal infrastruktur tadi itu memang adalah sebuah masalah. Dan bahwa sebaiknya infrastruktur itu ada, betul memang sebaiknya harus ada. Apakah hal itu merupakan prioritas pertama atau kedua dan sebagaimanaya, saya kira, kita bisa diskusi panjang soal itu .

Nah kemudian, setelah atau bahkan sebelum infrastruktur tersedia, jawaban untuk persoalan content harus juga ada. Nah, content ini akan disediakan lewat apa, itu juga sebaiknya kita merumuskannya dengan bijak. Sebetulnya sederhana sih: kebanyakan pemakainya pake apa, gitu aja.

Kalau misalnya content berbahasa Indonesia itu disimpan di satu tempat dan hanya bisa diakses dengan satu cara yang pemakai tidak akrab -susah, gitu- saya kira, itu juga menyulitkan. Kalau bicara Internet, sekarang kebanyakan orang tahunya browser. Orang jarang sekali tahu ada yang namanya FTP.

Apakah tidak boleh diakses dengan FTP? Nggak begitu. Kalau kebanyakan orang menggunakan browser kenapa tidak kita siapkan juga content berbahasa Indonesia itu di web site.

Lalu untuk mas Welly. E-book itu sebetulnya tutorial untuk pemula di bidang musik digital. Saya juga bukan musisi, ya

SW: Meskipun sudah membuat lagu.

YS: Ya. Cuma iseng aja bikin lagunya sih. (tertawa)

OK. Saya bukan musisi, cuma kebetulan saya tahu ada cara membuat musik secara digital itu. Software yang dipakai itu betul sebuah freeware; dalam arti, tidak diperjualbelikan.

Ini enaknya hidup dengan Internet: banyak orang baik yang membuat sesuatu dan membagikannya secara gratis dengan tujuan yang sangat mulia.

Freeware tersebut bisa didownload secara gratis. Kita hanya diminta mencantumkan alamat email untuk mendapatkannya. Lalu interfacenya -tampilannya- juga tidak membuat orang sulit. Software itu namanya Modplug Tracker. Anda bisa download di www.modplug.com.

Seperti yang Anda duga, dengan software Modplug itu kita tidak memerlukan instrumen apapun. Tidak perlu gitar. Tidak perlu keyboard. Tidak perlu drum. Semua bebunyian bisa ditampilkan lewat software itu

SW: Gamelan, bisa nggak?

YS: Gamelan …. Selama itu ada samplenya, itu bisa. Jadi, software itu berbasiskan ke sample-sample suara sebetulnya. Dan tak perlu khawatir, cukup banyak orang baik di Internet yang membuat sample-sample dan membagikannya secara gratis. Tentu saja, cukup banyak juga orang yang menjual sample, tapi tak kalah banyak orang yang mau berbagi.

Salah satu inti Internet yang harus dimanfaatkan adalah semangat saling berbagi.

SW: Karena banyak pertanyaan mengenai ebook, itu bisa didownload di alamat apa?

YS: Kami, LBBM, memang punya program publik. Slaah satunya adalah menerbitkan ebook gratis. Pengakses boleh mendownload ebook kami secara gratis di web site kami, di http://www.lbbm.org.

Di web site itu ada link menuju ebook. Di sana sudah ada dua ebook, dan mungkin bulan berikutnya akan bertambah ebook lain yang gratis juga.

SW: Ebook itu free ya, mas?

YS: Itu kita bikin dan lalu disajikan gratis. Sebetulnya banyak yang berbisnis ebook di Intenet, cuma karena LBBM punya satu program publik -kita menyebutnya Program Jembatan- untuk menjembatani kesenjangan digital yang salah satu bentuk aktivitasnya adalah menyediakan ebook gratis. Khusus ebook gratis ini sifatnya panduan dan memberikan inspirasi bahwa teknologi informasi itu bukan hanya untuk ngetik doang atau mengakses site yang gak karuan …

SW: Untuk mencari gambar atau cerita tertentu ya, mas.. (tertawa)

YS: (tertawa) ya seperti itu kurang lebih ….

Selain tentang membuat musik digital, ebook yang tersedia sekarang adalah tentang panduan riset di Internet. Ebook ini peminatnya cukup banyak.

Banyak orang tahu bahwa untuk mencari informasi itu lewat search engine. Tapi, bagaimana menemukan informasi yang relevan, itu yang mereka tidak tahu. Itu sebabnya, peminat ebook ini cukup banyak.