Belum lama ini saya bergabung di grup LeoKristi. Ramdan Malik, salah satu membernya, menulis email ucapan selamat bergabung di grup itu sambil menyebut-nyebut bahwa saya pakar Leo Kristi. Saya kira, dia bercanda. Siapapun tahu, saya bukan pakar Leo Kristi. Saya balas email itu dengan canda juga, "lebih menyenangkan untuk mendengar & menonton LK ketimbang "mempakar-pakari"-nya".

Rupanya kalimat canda saya tadi memancing tanggapan dari Noer Eska, yang juga jadi member grup itu. Sambil menanyakan batalnya acara berlibur saya akhir tahun lalu, Noer Eska menjelaskan perlunya upaya mengapresiasi Leo Kristi. Tanggapan itu membuat saya bertanya-tanya sendiri, "Kenapa sekarang masih ada cukup banyak orang yang masih kangen pada laqu-lagu Leo kristi?"

Beginilah email balasan saya untuk Noer Eska

 


 

Mobilnya ngadat betulan, bung. Saya sekeluarga memang sudah benar- benar niat dan mepersiapkan diri buat ke yogya waktu itu (bahkan saya sudah melewati tol Cikampek sewaktu mobil itu ngadat). Bukan untuk bertemu Leo Kristi, memang, karena saya baru tahu pada jam-jam terakhir bahwa Farid dan anda ada janjian dengan Leo malam itu.

Tapi, sekadar anda tahu saja, saya baru 10 menit masuk ke alam tidur selagi HP berdiring nyaring. Jam berapa itu? Jam satu malam, ya? Sial! Saya benar-benar terganggu oleh bunyi telepon tengah malam ketika saya benar-benar capek sehabis ngedumeli mobil yang ngadat mendadak sepanjang hari sebelumnya.

"Dari siapa?" tanya istri saya, yang juga terbangun gara-gara ringkikan telepon itu.

"Farid," kata saya tanpa suara setelah terbaca identitas peneleponnya di layar HP.

 "Halo". Farid tidak menjawab. Ini bikin saya tambah jengkel.

"Ono opo (ada apa), Rid?" volume suara saya lebih keras.

"Meneng wae (diam aja). Meneng wae (diam aja)," suara Farid berbisik- bisik. Saya manut.

Dan, pelan-pelan, suara petikan gitar semakin jelas. Saya mengenali petikannya. Ini DDRR. Saya mengenali suara penyanyinya. Ini Leo Kristi. Tapi saya tidak mengenali siapa pemilik suara backing vocal yang merecoki suaranya Leo (ha ha ha ha).

Tanpa ba bi bu, Farid baru memutuskan hubungan telepon setelah bermenit-menit membiarkan saya menguping DDRR live dari tempat anda (betul?) lewat HP-nya. Sial! Saya jadi tidak bisa tidur!

Petikan gitar dan suara itu menghidupkan mesin waktu di kepala saya. "Serasa melayang. Serasa terbang". Bebunyian itu melamparkan saya ke dua puluh tahun lalu selagi di Yogya. Saya seperti berada di kumpulan teman-teman lama. Muka-muka mereka bermunculan. Muka Farid di tahun-tahun itu juga 'njedul' (padahal waktu itu Farid belum kenal lagunya Leo. Mukanya sering kelihatan seperti orang bingung kalau kami menyanyikan lagu-lagu Leo).

Norak! Malam itu saya tiba-tiba disergap kangen yang luar biasa pada teman-teman lama. Benar-benar norak! Lebih norak lagi, saya susah mendapatkan kantuk lagi.

Entah berapa jam waktu yang saya butuhkan agar bisa mematikan mesin waktu di kepala saya, yang tiba-tiba menyala gara-gara DDRR live dari tempat anda (betul?) itu.

 Dan, jangan salah terima, bung. Yang saya maksud dengan "lebih menyenangkan untuk mendengar & menonton LK ketimbang "mempakar- pakari"-nya", sederhana saja. Begini:

Semua keriuh-rendahan obrolan kita di grup ini saat ini akan berhenti kalau Leo berada di tengah-tengah kita dan dia "mulai bernyanyi .... o la la o la i o la i e i ...".

 Akan begitu, kan?

Pertanyaannya, "Kenapa ada kemungkinan itu? Kenapa kita yang berada di grup ini mungkin akan menghentikan ocehannya kalau Leo bernyanyi saat ini?"

Rasanya, pertanyaan ini akan memicu 179 jawaban yang berbeda (ketika email ini ditulis, member grup ini berjumlah segitu itu). Tapi, saya menduga, akan ada beberapa bagian yang sama dari jawaban yang bermacam-macam itu. Salah satunya, "Kita akan rela diam kalau Leo bernyanyi karena kita rindu kejadian-kejadian".

Dalam syair-syair lagu Leo, begitu banyak kejadian-kejadian, kenyataan-kenyataan empirik. Ada "bayang-bayang ayam hutan bergerak cepat", "ucap-ucap di bawah pohon kenanga jawa,""kami duduk berhadap- hadapan dengan mata memandang ke depan", "sekelompok awan putih serupa kuda-kuda bergerak dari barat ke timur", "Katya, Amanda, aku di anjungan perahu", "tiada alas tidur Selain tangan penuh kasih", dan seterusnya. Lalu, gitar, suara dan cara Leo menyanyikannya membuat kejadian-kejadian itu hadir di depan kita.

Kita boleh jadi memang kangen dengan itu. Kita rindu pada kejadian- kejadian, pada kenyataan-kenyataan empirik -yang susah kita dapatkan selama bertahun-tahun ini. Sehari-hari kita lebih sering diliputi oleh kenyataan-kenyataan psikologis ketimbang kenyataan empirik.

Apakah kenaikan BBM tahun lalu bukan kejadian? Apakah "Rejeki Nomplok" atau "Uang Kaget" atau "Playboy Kabel" atau "Pulang Kampung" atau "Today Dialog" atau "terpaksa ditembak polisi karena berusaha melarikan diri" bukan kejadian? Apakah protes atas rencana terbitnya majalah "Playboy" versi Indonesia bukan kejadian?

Mohon maaf, itu semua tidak terlalu meyakinkan untuk disebut sebagai kejadian, sebagai kenyataan empirik. Itu semua lebih hadir sebagai kenyataan psikologis saja. Mereka menyatakan, "Harga BBM naik dan sebentarlagi TDL dan tarif telepon ikut naik". Selesai. Mereka lupa menggambarkan, kok bisa harga BBM naik? Mereka lupa, apa yang terjadi setelah BBM naik? Mereka tidak menggubris seloroh, "BBM naik, so what geto lho?"

Kita tidak menikmati peristiwa-peristiwa selama menonton tayangan TV -"Rejeki Nomplok" kek, "Uang Kaget" kek, "Playboy Kabel" kek, "Pulang Kampung" kek, "Today Dialog" kek, berita kriminal kek. Yang kita lihat di layar TV tidak lebih dari proyeksi emosi kita saja, kenyataan-kenyataan psikologis kita sebagai masyarakat yang tidak punya rencana untuk masa depan dan kehilangan ingatan pada masa lalu.

Tapi kita menemukan peristiwa ketika Leo bernyanyi, "roda lori berputar-putar siang malam tapi bukan kami punya". Dia tidak menyatakan, tapi menggambarkan (not to tell, but to show).

Sebaliknya, "kau hancurkan hatiku ... hancurkan hatiku ...". Itu tidak menggambarkan, tapi menyatakan.

Boleh jadi kita memang rindu pada kejadian-kejadian.

Boleh jadi.

 YS