Pada 24 Maret 2004, saya menerima e-mail dari Shita Laksmi, seorang teman yang saya kenal di Yayasan Tifa. Shita, setahu saya, sedang melakukan studi tentang jurnalisme. Dalam e-mail itu Shita menulis,

Mas Yayan yang baik,

Lagi sibuk sekarang? Mudah-mudahan emailku tidak menganggu.

Mas, aku mau tanya dong tentang Internet dan hubungannya dengan jurnalisme. Menurut mas Yayan, apakah internet membawa perubahan besar untuk pekerjaan jurnalis? Selain bahwa mereka bisa melakukan interview via email dan riset gratis di Internet, apakah ada perubahan yang siginikan di kehidupan jurnalis?

Well, aku tanya ini karena mas Yayan kan punya pengalaman banyak di internet-internet-an plus jurnalis.

Makasih, makasih banyak. Thanks a lot.

Salam,
Shita

Berikut ini, e-mail balasan saya untuk Shita:


Shita,

aku kira, jika internet telah menjadi bagian sehari-hari orang, Internet mendorong banyak perubahan. Termasuk untuk para jurnalis. Dorongan perubahan itu bisa disebabkan oleh Internet itu sendiri, dan juga bisa oleh multiple effect dari pemanfaatan Internet oleh masyarakat.

Internet itu sendiri, bagi jurnalis, bisa diposisikan sekurangnya sebagai 2 hal: sebagai tool dan sebagai venue.

Pertama, Internet sebagai tool: untuk berkomunikasi -baik di dalam lingkungan dan manajemen kerja maupun dalam berhubungan dengan narasumber, untuk melakukan riset, dan menjalankan 'business process' penerbitan di lembaganya. Sebagai tool, Internet memberikan alternatif pada saat tool 'tradisional' menemui kelemahannya/kekurangannya. Dalam posisi ini, menurut aku, perubahan yang paling terasa oleh para jurnalis terletak pada kecepatan dan hilangnya batasan ruang. Perubahan bukan saja tarjadi pada sisi habit tapi juga standar kualitas. Aku nggak bermaksud mengatakan bahwa Internet pasti mendorong para jurnalis ke habit dan standar kualitas yang lebih baik.

Pada prakteknya, pada saat seorang jurnalis baru pertama kali menggunakan Internet sebagai tool dalam bekerja, seringkali terjadi kegagapan dan kegugupan. Ambil contoh dalam hal riset bahan-bahan yang akan dipublikasikannya. Jika sebelum ada Internet, seorang jurnalis bisa menyandarkan diri kepada staff riset di kantornya untuk mengumpulkan bahan-bahan publikasinya, maka dengan Internet ia harus melakukannya sendiri. Pada saat melakukan riset sendiri itulah para jurnalis, yang baru menggunakan Internet, akan dituntut untuk mempunyai kemampuan riset yang lebih dari biasanya. Kenapa seorang jurnalis harus melakukan riset sendiri pada saat menggunakan Internet? Ya, kalau masih mengandalkan sepenuhnya pada staff riset di organisasinya, organisasi penerbitan itu tak perlu pakai Internet dong.

Begitu juga dalam mewawancarai narasumber, contoh lain. Shita tentu tahu, berkomunikasi in person dan berkomunikasi lewat medium punya karakteristik yang berbeda. Sang jurnalis yang mewawancarai narasumber lewat e-mail atau chat harus mengubah strategi komunikasi yang biasanya dipakai ketika ia menyodorkan tape recorder atau camcorder ke moncong narasumbernya. Selama ia menggunakan strategi pengendalian wawancara gaya 'tradisional', boleh jadi sang jurnalis akan berisiko kehilangan kualitas wawancara yang baik.

Ada banyak hal dalam komunikasi in person yang tak ditemukan dalam komunikasi lewat medium Internet. Aku mengasumsikan bahwa wawancara tersebut dilakukan dengan teks (e-mail atau chat), karena sejauh ini suara dan movie di Internet masih belum bisa dilangsungkan secara lebih mulus dan mudah -terutama di Indonesia oleh keterbatasan teknis. Dalam wawancara dengan teks, si jurnalis kehilangan gestur fisik si nara sumber dan daya persuasi dari gestur fisik dan suaranya sendiri terhadap nara sumber; begitu juga sebaliknya. Ini membuat cara pengendalian wawancara lewat Internet harus berbeda dari cara-cara wawancara in person.

Business process kerja jurnalistik pun berubah. Business process kerja jurnalistik lewat teknologi Internet, jika dilakukan dengan benar dan tepat, seharusnya berjalan lebih cepat. Perubahan ritme kerja ini akan mengubah sang jurnalis dalam mewaspadai akurasi informasi yang disampaikannya. Itu contoh lain.

Kedua, Internet sebagai venue: untuk menemukan narasumber, untuk menemukan bahan riset, dan untuk menerbitkan karya jurnalistiknya. Sebagai venue, Internet telah memberikan wawasan yang lebih luas kepada siapapun tentang sumber dan cara menyajikan informasi ketimbang cara-cara tradisional sebelumnya.

Seorang jurnalis yang cukup intens memanfaatkan Internet untuk mencari dan memonitor informasi akan menghadapi kenyataan bahwa ternyata -misalnya- ada begitu banyak narasumber alternatif ketimbang narasumber yang selama ini dihubunginya. Ia menemukan lebih banyak orang 'pintar' lewat Internet ketimbang sebelumnya. Bahkan boleh jadi, ia menjadi ragu terhadap kemampuan dan kompetensi orang yang selama ini digelarinya sebagai 'pakar' langka dan dijadikan narasumber andalannya.

Bagi jurnalis yang benar-benar memonitor pergaulan banyak orang di Internet (lewat milis dsb), Internet bisa menjadi sebuah daya subversi yang justru meruntuhkan keyakinan-keyakinannya sendiri tentang seseorang yang selama ini dianggap sebagai 'pakar' yang serba tahu dan selalu layak menjadi narasumber. Ini berlaku juga untuk sumber-sumber informasi dalam riset-nya.

Dengan Internet, tantangan untuk menentukan narasumber dan bahan-bahan riset yang akan dipakainya kauh lebih besar ketimbang sebelumhya. Internet seperti angin besar yang membukakan jendela dan pintu yang selama ini mengurung wawasan sang jurnalis.

Pada saat ia meragukan narasumber atau sumber informasi yang selama ini diyakininya, sang jurnalis juga sekaligus ditantang untuk sangat bersikap hati-hati pada setiap orang dan informasi baru yang didapatnya di Internet. Shita tentu pernah mendengar/membaca kisah klasik kesalahan fatal pengutipan informasi dari situs www.tass.net oleh wartawan kantor berita Reuters pada tahun 1997 (lihat e-bookku "Riset Di Internet"). Si wartawan mengira situs itu adalah situs kantor berita ITAR-TASS, padahal situs itu tak lebih dari situs demo sebuah perusahaan pengembang web saja.

Ketika Internet dipakai dalam bekerja oleh jurnalis, salah satu hal besar yang seharusnya mengubah si jurnalis adalah tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap akurasi informasi.

Pendorong perubahan bagi para jurnalis di era Internet lainnya adalah multiple effect dari pemanfaatan Internet secara luas oleh masyarakat. bagi penggunanya. Internet -tak bisa dipungkiri- pelan-pelan membangun masyarakat berpengetahuan lebih dari sebelumnya. Publik yang dihadapi oleh jurnalis bukan lagi gerombolan orang yang berharap sepenuhnya kepada para jurnalis untuk mendapatkan informasi. Sekarang, lewat Internet, publik bisa langsung mendapatkan informasi ke sumbernya.

Jurnalis yang masih menyandarkan diri kepada paradigma lama tentang pusat dan sumber informasi hanya akan mampu menghadirkan informasi basi atau pengetahuan bersudut pandang buruk kepada publiknya. Jurnalis jenis ini juga hanya akan jadi bahan olok-olokan para pengguna Internet di berbagai mailing list dan komunitas cyber. Jurnalis yang bergaya CoPeT (Copy, Paste, Translate) pelan-pelan akan ditinggalkan, terutama oleh publik yang mengerti berbagai bahasa pergaulan.

Akibat dari multiple effect ini, perubahan besar lain dalam jurnalisme di era Internet adalah menaiknya tantangan kreatif dalam menentukan sumber, merumuskan sudut pandang, dan menyajikan informasi. Tantangan ini bukan hal baru, tapi lebih tinggi dari sebelumnya.

Selain pelan-pelan membangun masyarakat berpengetahuan, pada saat yang sama Internet juga memberikan peluang besar bagi terjadinya perang informasi di tengah masyarakat. Jurnalis berada di tengah peperangan itu, dan sekaligus berada di tengah masyarakat yang menjadi korban peperangan itu. Celakanya, peperangan informasi di era Internet bukan melulu melibatkan pihak atas melawan pihak bawah (vertikal), tapi juga melibatkan pihak kiri dan kanan (horisontal). Peperangan informasi bisa berkobar antar lini masyarakat. Ini mendorong perubahan penyikapan para jurnalis dalam konteks politik dan sosiologi informasi.

Shita,
aku gak bermaksud mengatakan bahwa perubahan-perubahan itu sudah terjadi pada kehidupan jurnalis-jurnalis kita. Aku masih melihat banyak jurnalis berjalan dalam paradigma lamanya sebelum Internet tiba. Aku masih melihat banyak jurnalis belum mengalami perubahan gara-gara Internet. Tentu ada banyak faktor kenapa tak ada perubahan itu.

Salam

Yayan Sopyan