Pengamat pendidikan boleh saja berpendapat, minat baca masyarakat kita masih rendah dan pengajaran bahasa Indonesia masih lemah. Namun, fakta di lapangan agaknya mulai mengikis pendapat ini.

Lihat saja gerai buku baru di toko-toko buku, terhampar buku-buku anyar setiap minggu. Dari buku politik, kajian budaya, analisis sosial, hingga chicklit (sastra perempuan) dan teenlit (sastra remaja) yang gurih dan ringan untuk dibaca. Mari kita hitung. Satu penerbit kelas menengah dan besar bisa memproduksi tak kurang dari 3.000 judul buku dalam setahun. Padahal, di bawah payung Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) ada 625 penerbit. Bila digabung dengan penerbit lain yang tidak tergabung dalam payung Ikapi, jumlahnya ada 800 penerbit. Kalau rata-rata tiap penerbit menerbitkan 1.000 buku saja tiap tahun, ada sekitar 800.000 judul buku baru setiap tahun.

Gejala yang menarik, banyak penulis muda yang namanya baru muncul dalam kancah tulis-menulis, namun menghasilkan karya buku yang meledak di pasaran. Sebut saja Fira Basuki yang meluncurkan trilogi Jendela-Jendela, Pintu, dan Atap; Dewi Lestari yang meluncurkan Supernova; Jenar Mahesa Ayu yang mengarang buku Mereka Panggil Aku Monyet; hingga Melly Goeslaw yang meluncurkan kumpulan cerpen 10 Arrrrrrgh. Banyaknya buku baru serta penulis baru ini agaknya memancing minat masyarakat untuk belajar menulis.

Nah, botol ketemu sumbat. Para penulis kawakan pun buru-buru membuka tempat sekolah menulis. Ada yang menyediakan kelas dengan hari dan jam tertentu, ada pula yang membuka kelas virtual alias via internet. Deretan sekolah yang menjual jasa pelatihan menulis di antaranya jakarta school (JS) garapan AS Laksana dan Yayan Sopyan, Pena Learning Center (PLC) buatan Farid Gaban, dan Mizan Learning Center (MLC) yang digawangi Hernowo. "Enggak pakai modal untuk mendirikan sekolah menulis," tutur Hernowo. Wajar, karena sekolah ini berangkat dari pengalaman mereka selama belasan bahkan puluhan tahun bergumul dengan dunia tulis-menulis.

Meskipun sama-sama menularkan ilmu tulis-menulis, ketiga sekolah itu memiliki sistem belajar yang berbeda. Di MLC, Hernowo memilih membimbing siswa-siswanya melalui internet. Sebaliknya, Yayan mengasuh anak didiknya di JS dengan pertemuan tatap muka yang disusun sefleksibel mungkin. Namun, dua sistem ini diadopsi oleh PLC yang didirikan Farid tahun 2002. "Maklum, online learning belum begitu populer," ungkap Farid Gaban.

Tak bikin kantong bolong

Tapi, jangan bayangkan sekolah menulis ini membosankan; yang hanya datang, duduk, diam, dan manggut-manggut mendengarkan ocehan dosen pengajar. Sebaliknya, suasana dan materi dikemas se-fun mungkin. Di JS, Yayan malah menyediakan teh, kopi, dan nyamikan untuk menemani diskusi. Dengan online learning, Hernowo yang mendirikan MLC tahun 2003 juga tidak menentukan jam deadline pengiriman tulisan saban harinya. "Pokoknya setiap hari harus ada tulisan yang masuk ke saya," paparnya.

Setiap sekolah menulis mengajarkan materi yang berbeda. Sebagai contoh, di PLC, Farid mengajarkan jurnalisme, penulisan, kehumasan, dan penerbitan. Di JS, Yayan juga membuka materi serupa. "Kami buka kelas penulisan kreatif, skenario, dan novel," ujar Yayan yang mendirikan JS tahun 2004. Umumnya, materi ini disortir dari banyaknya permintaan yang masuk melalui telepon, faksimili, dan e-mail.

Materi ini menentukan biaya yang harus dibayar setiap siswa. Misalnya, untuk setiap materi kelas tertentu, JS membanderol Rp 1 juta-Rp 1,5 juta untuk 12 kali pertemuan. Tapi, jika ingin kelas khusus, JS sudah menggandeng Rumah Alexandra di kawasan Kemang Selatan dengan pungutan sebesar Rp 2,9 juta per siswa. Untuk satu semester, MLC memasang tarif Rp 2,4 juta. Untuk online learning, PLC menarik iuran Rp 300.000-Rp 900.000 per materi selama delapan minggu.

Bagi Farid, tarif yang dipasang tidak bikin kantong pesertanya bolong. Meskipun ia mengaku merugi lantaran peserta online learning hanya 5-10 orang, namun bisa ia tambal dari kursus offline dan inhouse. "Biaya sekolah offline dan inhouse dua kali lipat," tuturnya. Adapun banyaknya siswa di kelas itu berbeda-beda untuk setiap sekolah. Hernowo membatasi lima-tujuh orang setiap periode. Tapi, JS membuka kelas hingga 30 orang per kelas per periode.

Anda juga tertarik jadi penulis buku? Kata orang, menulis mah gampang; menjadi penulis itu yang susah. Tapi, okelah, tak ada salahnya mencoba.

(Dikutip dari Kontan No. 33, Tahun IX, 23 Mei 2005)