Saat duduk di sekolah dasar beberapa puluh tahun lalu hampir seluruh teman-teman di kelas saya paling jengkel saat guru kelas mulai berkata: Sekarang waktunya pelajaran mengarang! Belum selesai Pak Guru bicara, serempak mulut teman-teman berbunyi yaaaaahh.

Apa gunanya belajar mengarang? "Enggak penting! Aku ingin jadi astronot," bisik Elita, si juara kelas. "Iya, aku mau jadi ahli keuangan, buat apa belajar mengarang?" balas Susilo. Bla, bla, bla, bla....

Ingatan masa kecil dulu tebersit kembali mendengar seorang teman menyarankan kepada saya untuk belajar creative writing,saat saya curhat bahwa rasanya pekerjaan dan otak saya sedang stuck, mentok. Bagaimana karier mau bagus kalau sedikit­sedikit otak saya stuck, enggak tahu mau berinovasi apa, ruwet!

Belajar menulis? Apa hubungannya? Kembali pertanyaan yang sama dengan teman-teman saya puluhan tahun lalu muncul.

Itulah asal muasal kenapa saat ini saya belajar menulis di Jakarta School, Creative learning Center, sebuah sekolah yang dibidani oleh AS laksana, Yayan Sopyan, dan Agung Bawantara yang mengadakan kursus penulisan kreatif dari menulis novel, biografi, skenario, dan buku panduan lainnya.

Pasti ada yang bertanya-tanya kenapa hanya karena ingin sukses dalam karier saya jadi belajar menulis. Jawabannya karena dengan menulis saya bisa membenahi pikiran dan menata perencanaan apa yang akan saya lakukan dengan lebih runtut serta berpikir lebih kreatif. Dengan belajar menulis saya juga bisa berpikir lebih cepat, lebih logis, lebih fokus atau lebih kreatif. Atau saya juga bisa menghilangkan keruwetan berpikir dengan belajar menulis.


Tangan dan Otak

Seperti yang saya kutip dari tulisan AS Laksana bahwa ketika kita menulis, tangan kita melakukan sesuatu. Jika toh Anda bukan seorang penulis atau Anda tidak ingin menjadi penulis, menulislah. Akrabkan tangan Anda dengan otak Anda. Sebab apa yang ditulis oleh tangan Anda adalah langkah pertama yang akan mewujudkan apa yang ada di kepala Anda. "Jika Albert Einstein tidak bisa menulis, teori relativitas tak akan tercipta sebab tak akan ada yang paham teori tersebut jika tak bisa dikomunikasikan. Einstein bukan penulis tetapi ia sudah menulis lebih dari 2.000 makalah. Dengan menulis ia menuangkan segala kemungkinan yang kemudian melahirkan teori-teori besarnya," jelas Sulak, panggilan akrab AS Laksana.

Pendapat Sulak ini didasarkan pada keyakinannya bahwa kita perlu mendekatkan tangan dengan otak, itulah kunci kreativitas. Otak merancang sesuatu dan tangan mengerjakannya. "Ketika Anda menulis, otak Anda merekam dengan baik setiap gagasan dan dengan demikian Anda tak mudah sesat dan tak akan kehilangan ilham," imbuhnya.

Jadi menekuni disiplin ilmu apa pun, kita perlu menulis agar otak makin terasah, agar tak kehilangan jejak alas segala yang telah kita pelajari.

Yayan Sopyan bahkan mengatakan begini: "Jangan percaya apa yang ada dalam pikiran Anda sebelum Anda tuliskan. Menulis itu merupakan cara, media untuk jadi apa pun," ujar Yayan. Ditambahkan oleh Agung bahwa orang tak akan punya karier bagus jika bicaranya abstrak. Dengan menulis kita melatih mengkonkretkan apa yang dipikirkan, membenahi pikiran.


"Posisikan anda sebagai sepatu ..."

Dalam setiap sesi, ketiga pengasuh belajar menulis itu selalu menyelipkan bagaimana caranya membenahi pikiran, berpikir kreatif. terencana, dan runtut seperti membiJat outline. Saya pikir-pikir kok iya ya, dalam bentuk yang paling sederhana pun semua orang harus punya outline.

Tentu saja apa yang mereka ajarkan menjadi dasar untuk orang-orang yang berencana menjadi penulis. Bahkan ketika orang tak berniat jadi penulis dan ingin mengembangkan sektor lain, dia bisa merumuskan apa yang ada di kepalanya dalam tulisan yang mudah dipahami.

Yang tak kalah menarik adalah mereka mengajarkan juga bagaimana pentingnya berpikir dengan sudut pandang yang berbeda. "Untuk membuat terobosan baru atau inovasi lainnya, penting sekali berpikir dari sudut pandang berbeda. Posisikan Anda sebagai sepatu yang tiap hari ke kantor," kata Yayan. Jadi sepatu? liiih, jijik!, batin saya. Tapi itu perlu dipikirkan, katanya lagi.

Atau pelajaran lain bagaimana saya berpikir "mengawinkan suami saya dengan kursi", misalnya. Wah, kepala saya benar­benar diberi pencerahan! Saya jadi semakin tertarik. Tak hanya karena kekreatifan berpikir yang saya dapatkan tapi juga saya diajarkan teknik berpikir lainnya.

Misal saja teknik menemukan gagasan, teknik mengembangkan gagasan, merumuskan gagasan, membuat sistematika, berpikir sistematis, teknik deskripsi, teknik komunikasi, riset dan sebagainya. Tak hanya teori, dipraktikkan juga pelajaran seperti freewriting, brainstorming, dan clustering.

Selain itu, mereka mengajarkan teknik ke luar dari kebuntuan menulis dan berpikir atau writer's block. Ini yang paling sering saya alami. Ternyata belajar menulis tak hanya untuk penulis, kan? Sekali lagi otak saya serasa diberi pencerahan bagaimana meningkatkan karier saya agar sukses. Saya jadi teringat lagi kepada teman SD saya Elita dan Susilo yang jengkel dengan pelajaran menulis. Ingin sekali saya kembali ke masa lalu dan berkata: "Elita jadi astronot sukses itu harus berpikir..., Susilo jadi ahli keuangan sukses itu harus berpikir... dengan belajar menulis kita jadi terbiasa berpikir... bla-bla-bla.


(Disalin dari majalah Her World Indonesia edisi Maret 2005, halaman 190 - 191)