Kalau ada pihak yang tidak percaya dengan laporan Tim Relawan - yang selama ini menjadi sumber utama berita perkosaan - barangkali keterangan seorang psikolog yang mendampingi korban bisa dijadikan pegangan. "Belum ada tes forensik. Tapi tubuhnya penuh bekas luka. Ia mengalami depresi berat, sehingga lupa masa lalunya. Tak ingat asal-usul, tak ingat tempat tinggal," katanya.

Masih ragu? Inilah penegasan dari seorang Jenderal berbintang dua. "Kalau ada anggota ABRI yang tidak percaya dengan kasus perkosaan, saya persilakan dia mengunjungi rumah saya," kata jenderal yang menduduki posisi penting di Mabes ABRI itu. Di rumah jenderal itu berkumpul tujuh korban perkosaan yang minta perlindungan. Beberapa psikiater secara intensif melakukan terapi penyembuhan.

Pesan jenderal itu kontradiktif dengan pernyataan Kapolri, Senin 17/8 lalu. Ia seolah tak percaya telah terjadi perkosaan sistematis terhadap etnis Cina. Kapolri sempat mengeluarkan ancaman pada LSM, bahwa mereka bisa dituduh menyebar kabar bohong. Kapolri berpendapat demikian bukan tanpa dasar. Menurutnya, Polisi sudah mengudak-udak tempat yang dilaporkan, tapi hasilnya nihil.

Meurut Direktur PBHI Hendardi, pernyataan Kapolri merupakan bentuk kepanikan pemerintah dalam menghadapi tekanan internasional yang luar biasa. Pelibatan LSM dalam TGPF dan rencana Habibi untuk mengundang intel asing termasuk upaya untuk meredam protes yang marak di berbagai negara.

Seperti yang dikatakan pengelola detik.com, Yayan Sopyan, "Internet punya andil besar dalam menggalang solidaritas etnis Cina sedunia atas nasib saudara-saudaranya di Indonesia." Hal ini terlihat pada peningkatan pengakses yang luar biasa pada situs-situs web yang menyampaikan berbagai informasi yang terkait dengan kerusuhan 13-14 Mei.

Celakanya, yang terjadi di dunia internet itu bukan sekedar fakta kerusuhan, tetapi juga opini terhadap fakta. Sebab internet memungkinkan setiap orang untuk menyampaikan informasi atau pendapat secara bebas.

Dalam fasilitas message board, misalnya, ada kisah Vivian yang melegenda (pernah dimuat di-Apakabar). Ceritanya begitu deskriptif, detail dan menyentuh, sehingga mampu membangkitkan emosi. Mungkinkah si terperkosa, dalam waktu singkat (13 Juni cerita itu muncul di internet) bisa mengendalikan emosinya, sehingga bisa menuliskan kisah kesadisan yang dialaminya secara detail? Bukankah hal itu bertentangan dengan anggapan bahwa etnis Tionghoa teramat sangat tertutup dalam hal pemerkosaan?

Psikolog Dr. Sartono Mukadis, tidak menyangsikan kebenaran cerita Vivian. Katanya, internet memungkinkan orang untuk menyembunyikan identitas, sehingga korban bisa secara leluasa menyampaikan pengalaman pahitnya. "Mungkin saja ada rekannya yang membantu menuliskannya. Tapi saya yakin itu benar-benar cerita seorang korban perkosaan," katanya kepada ADIL. Sebaliknya, Dr. Sarlito Wirawan tidak bisa memastikan. Sebab dengan hanya membaca tulisan Vivian tidak bisa dipastikan motif penulisannya.

Agaknya banyak orang yang tak percaya begitu saja cerita Vivian. Tidak terkecuali pengelola situs Web World Huaren Federation (WHF). Buktinya, belakangan ini pengelola situs tsb, Dean Tse, banyak menerima pertanyaan soal orisinilitas cerita Vivian. Dalam pesannya tgl 18 Agustus lalu, Dean Tse minta agar pengirim cerita bisa memberi keterangan lebih lanjut. Namun hingga kini, permintaan Dean Tse belum ada jawaban. Dean Tse tidak bisa melacak si pengirim cerita tsb.

Beberapa Web site juga memuat foto-foto yang luar biasa sadis dan mencekam. Siapapun bisa tersulut amarahnya bila melihatnya. Disebut-sebut itu adalah foto kerusuhan Mei 1998. Benarkah? Soekarno Chenata, pengelola situs Web Indo Chaos, juga mengakui foto-foto yang bergentanyangan di berbagai situs web itu, sama sekali tidak otentik. Kepada detik.com, Soekarno pernah menerima foto sadis yang sempat ia pajang di Indo Chaos. Namun ia segera mencabut foto itu dari situs webnya karena ternyata foto itu diambil dari Web Gore Gallery yang memang brutal.

Tentu saja pemajangan foto-foto yang tidak bertanggungjawab tsb -menurut Soekarno Chenata - telah ikut mengundang emosi yang luar biasa bagi etnis Cina di seluruh dunia. Faktanya, perkosaan itu memang ADA. Tapi dramatisasi atau bahkan manipulasi atas fakta yang demikian dahsyat itu telah menyulut kemarahan banyak orang. Sepertinya bangsa ini adalah bangsa yang paling biadab. Sampai-sampai ada yang mengumandangkan perang melawan Indonesia.

(Dimuat di Tabloid ADIL 26 Agustus-1 September 1998. Didistribusikan tgl. 28 Aug 1998 jam 04:18:16 GMT+1 (Waktu Jerman) oleh: Indonesia Daily News Online This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. http://www.uni-stuttgart.de/indonesia/news/ . Dikutip dari arsip)