Jangan memandangnya lagi dari sudut pandang dunia sastra karena mereka pun akan menolaknya mentah-mentah. Alasan para pembuat novel yang selalu bergembira ini, sastra itu rumit dan malah bikin sedih. Padahal, dunia yang mereka tampilkan di novel-novel itu adalah dunia keseharian yang dibiarkan mengalir sama seperti obrolan ngalor-ngidul dengan satu tujuan, yaitu menghibur.

Bahkan, sejak awal para pembuat novel ini telah jadi pengibar panji-panji gaya hidup masa kini yang ”antiribet” dan ”selalu enjoy”. Seperti disampaikan Esti Kinasih (32), Dyan Nuranindya (20), dan Rosemary (24), ketiganya penulis teenlit yang dengan gamblang mengaku, menulis sebagai sesuatu yang menyenangkan, bahkan menghibur.

Esti yang buku Fairish-nya laku hingga 66.000 buah mengatakan, ia sudah menulis sejak di sekolah dasar. Penggemar komik Deni Manusia Ikan ini mengaku tidak suka karya sastra. ”Aku juga pernah baca bukunya Pramoedya Ananta Toer dan Ike Supomo, tapi novel-novel itu rasanya tidak membuat gembira,” katanya.

Alhasil, Esti lebih suka menulis tentang kehidupan SMA. Pasalnya, dunia SMA yang sarat dengan kisah cinta, ngerjain guru, dan nyontek tidak akan basi. Serupa dengan Esti, Dyan juga telah menulis sejak kelas IV SD. Gara-gara tidak punya banyak teman dekat, Dyan menyalurkan diri lewat tulisan. Tahun 1998, saat duduk di kelas II SMP, Dyan mulai menulis Dealova. Novel itu mulai digarapnya lagi saat duduk di kelas II SMA. Tulisan Dyan beredar di antara teman-temannya dalam bentuk fotokopi. Sempat terlintas di kepala Dyan untuk memasukkan unsur dari kalangan menengah ke bawah. ”Pembaca teenlit kan membaca sambil istirahat, kalau ada yang berat, mereka enggak mau baca,” kata Dyan.

Hanya enam hari

Sama dengan Dealova yang kemudian juga difilmkan, novel Me Vs High Heels juga berawal dari tulisan Maria Ardelia Purwaningrum (18) yang disebarluaskan dengan fotokopi. Berawal dari lima, akhirnya ada 15 eksemplar beredar di kalangan pelajar SMA St Theresia, Menteng. Teman-teman Mardel—demikian ia biasa dipanggil—yang lalu membujuknya untuk mengirim karya itu ke penerbit. Hingga kini anak pasangan karyawan bank dan karyawati televisi swasta itu mengaku tetap memperlakukan menulis sebagai kesenangan. ”Aku sadar kok, teenlit dianggap bukan karya sastra karena bahasanya gampang,” kata mahasiswi Fakultas Kedokteran UKI yang mengendarai sendiri Honda Jazz warna hitamnya ke kampus ini.

Bagaimana para pembuat novel itu berproses bisa ditanyakan kepada Moammar Emka. Bagi penulis ini empat hari cukup untuk membuat sebuah novel.

Rekor ini ia capai saat menulis novel Tentang Dia. Diawali dengan permintaan Melly Goeslaw yang cerpennya menjadi ide dasar pembuatan film Tentang Dia, Emka menovelkan film itu. Ia hanya dikasih waktu enam hari, dari nol sampai terjadinya buku yang harus diluncurkan bersamaan dengan peredaran perdana filmnya. Alhasil, selain harus menguras imajinasi karena ia tidak sempat menonton film itu, Emka nyaris tidak tidur selama empat hari. ”Coba dikasih waktu dua minggu, kan bisa jadi 200 halaman,” kata pria yang telah memproduksi 12 buku dalam waktu empat tahun ini.

Penulis yang buku pertamanya telah mencapai cetakan ke-32 alias lebih dari 200.000 kopi ini mengatakan, untuk menghasilkan sebuah buku, ia hanya perlu memungut cuplikan-cuplikan yang terjadi dalam kesehariannya. Tidak heran, ia selalu menenteng laptop saat nongkrong sambil ngobrol di kafe di berbagai mal. Atau, ia bisa juga ditemui sedang mencoret-coret naskah tulisan di tengah ingar-bingar kehidupan malam kafe ibu kota. ”Buat gue seh nulis itu kayak ngobrol aja, dan gue juga enggak mau yang ribet, selain bakalan nggak laku, guenya juga jadi nggak enjoy,” kata pemuda yang lahir di Tuban, 13 Februari 1974, ini.

Tak beda pula penulis seperti Clara NG yang menghasilkan trilogi novel Indiana. ”Saya bukan orang yang harus menyepi untuk bisa berimajinasi,” kata dia tentang kegiatan menulis. Bagi Clara, novel harus memiliki tiga hal: idealisme, hiburan, dan uang.

Dahi berkerut

Novel tidak lagi dipandang sebagai anak dari kesusastraan yang serius dan membuat dahi berkerut. Sama seperti menulis tidak lagi dilakukan sebagai aktivitas yang memerlukan pemikiran panjang dan dalam, atau rumit. Semua bisa menjadi bahan tulisan, dan semua bisa menulis. Mulai dari pengalaman ditinggal pacar, sampai short message service (SMS) bahkan bisa dibuat buku seperti yang dilakukan Emka.


Tren menulis novel-novel pop seperti teenlit dan chicklit ini juga merambah sampai ke daerah. Wiwien Wientarto (34), penulis asal Semarang, telah menelurkan novel Kok Jadi Gini???, Waiting 4 Tomorrow, dan The Rain Within. Rekan sekotanya, Anita (22), tengah menulis novel kedua setelah Bravo Jins Belel! Keduanya menulis dengan tema percintaan remaja belasan tahun.

Wiwien merupakan contoh hasil penjaringan penerbit yang memang mencari-cari penulis novel remaja di daerah-daerah. Saat itu, seorang wakil dari ElexMedia menelepon ke kantor tabloid remaja Tren untuk mencari atasan Wiwien. Kebetulan, Wiwien yang mengangkat, dan obrolan sana-sini membuat Wiwien mengirimkan naskah novelnya. ”Yang penting, temanya tentang drama, roman, dan komedi remaja,” kata Wiwien.

Bagi Wiwien, novel-novelnya yang oleh penerbit dikategorikan Teen’s Heart lebih memberikan ruang untuk kedalaman makna dan menyampaikan nilai-nilai tertentu dalam novelnya. Hal senada dikatakan Anita bahwa novel adalah kesempatan baginya untuk mengangkat hal-hal yang kurang dipedulikan orang. Dalam dua novelnya yang pertama, Anita mengangkat kehidupan komunitas emo yang merupakan komunitas punk di kalangan anak muda Semarang.

Buku kini tidak lagi dianggap sebagai sebuah mahakarya yang harus disakralkan. Terjadi dekonstruksi pemikiran bahwa buku hanya bisa dihasilkan oleh orang-orang yang berkemampuan tinggi. Sementara, pasar yang begitu dinamis selalu membutuhkan darah baru. Inilah yang dilihat pihak Jakarta School yang memberikan pelatihan seminggu sekali selama tiga bulan bagi mereka yang ingin les menulis sejak tahun lalu. ”Setiap orang memiliki sesuatu yang dibagikan,” kata Yayan Sopyan, pendiri Jakarta School.

Teenlit dan chicklit sudah menjadi fenomena urban tersendiri. Tanpa peduli dengan penilaian dengan menggunakan sudut pandang sastra, dunia ini memiliki standar tersendiri. Yang mungkin kalau dalam bahasa ala chicklit dan teenlit kira-kira akan berbunyi: ”secara ini juga hiburan gitu loch!” (IND/DHF/IVV/XAR)

(Dikutip dari harian Kompas, edisi 30 Oktober 2005)