Tetapi arus baru mulai muncul. Para blogger mulai menulis seperti jurnalis. Mereka ikut mengabarkan berbagai peristiwa apa pun—juga bahasan-bahasan yang bersifat khusus. Tsunami yang menghumbalangkan sisi selatan Pulau Jawa, dua pekan lalu, misalnya, sudah memenuhi blogosphere beberapa saat setelah peristiwa terjadi, bahkan sebelum televisi memberitakan. Jauh sebelumnya, CNN tak jengah mengutip berbagai posting blogger Irak saat Amerika menginvasi negeri itu.

Tak pelak, blog telah mengambil posisi baru: memperluas jendela informasi bagi warga dunia.

Prahara telah lewat. Pantai Pangandaran masih muram di Senin sore yang nahas itu. Angin laut menebarkan bau anyir dan hawa kematian. Mayat-mayat mengapung dekat pantai. Namun, semua kengerian itu seperti mengendap di sana karena tak satu pun tayangan yang muncul di televisi sore itu meski tsunami yang menyapu pesisir Selatan Jawa sudah berlalu lebih dari tiga jam.

Kengerian itu justru ”disaksikan” oleh orang-orang yang berjarak ribuan kilometer dari pantai yang di-ngin di selatan Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Di pojok San Francisco atau Tokyo orang-orang tersentak membaca berita: ”Tsunami menggedor Jawa”. Berita itu mengalir deras di Internet. Bukan CNN, BBC atau Yahoo! News yang menjadi motor penggerak aliran berita itu, melainkan para blogger (orang-orang yang menuliskan aneka hal—dari catatan harian, uneg-uneg, hingga ideologi—di situs pribadi atau halaman blog). Saat itu, ketika stasiun-stasiun TV Indonesia baru menginstruksikan mobil-mobil van berpemancar satelit agar memburu gambar petaka Pangandaran, di weblog milik Sigoplus (ecosiglo.blogspot.com) telah terpajang sebuah foto menyedihkan: seorang laki-laki tengah melawan amukan tsunami. Media-media elektronik kalah telak.

Lalu, jam-jam berikutnya, ratusan ribu informasi soal tsunami Jawa sudah mengguncang blogosphere (ranah blog). Blogger dari Yogyakarta, California, Ethiopia, hingga pojok-pojok dunia saling berbagi (dan melengkapi) informasi seputar tsunami—mulai menyiarkan perkembangan terakhir hingga membahas dari berbagai sudut pandang.

Seorang blogger menyebutkan, saat itu bila di mesin pencari Internet Google diketik kata ”tsunami”, baru menghasilkan sekitar 1.200 halaman informasi, ”Tapi di Technorati (mesin pencari weblog), sudah ada sedikitnya 200 ribu halaman informasi!” kata blogger yang ingin berahasia dengan identitasnya ini. Jadi, jika serpihan informasi amuk gelombang Laut Selatan itu dihimpun, hasilnya adalah sebuah la-poran panjang setebal bantal.

Weblog (disingkat jadi blog) telah menjadi fenomena. Tsunami di Jawa itu hanyalah secuil bukti bahwa kekuatan blog mereportase tak bisa dipandang sebelah mata. Sebelumnya, dunia weblog hanya dianggap se-bagai ajang penyaluran naluri narsistik setiap individu. Maklum, di awal kemunculannya pada pertengahan 1990-an, pemilik blog hanya menuliskan kisah-kisah kegiatan hariannya belaka—sesuatu yang saat ini pun sebenarnya masih banyak terlihat. Jadi, semacam buku catatan harian, tapi ditulis di Internet.

”Blog kini sudah menjadi media alternatif. Di luar negeri bahkan sudah berkembang menjadi semacam citizen journalism,” kata Yayan Sopyan, pengamat dan konsultan teknologi informasi independen (ia mengelola www.mediakita.com dan memiliki website www.yayan.com). Secara sederhana, citizen journalism bisalah diartikan kegiatan jurnalistik yang dilakukan warga biasa (dalam hal ini blogger). Mereka melaporkan peristiwa-peristiwa yang dilihatnya -lewat weblog.

Salah satu contoh fenomenal soal kiprah wartawan amatir di blog adalah aktivitas seorang lelaki Irak bernama Raed (nama samaran). Beberapa saat sebelum Bagdad dihujani rudal oleh Amerika Serikat, ia menuliskan laporannya di blognya (dear_raed.blogspot.com). Reportase itu sering dikutip jaring-an TV CNN. Laporan-laporan Raed saat itu menjadi pengimbang kritis atas pemberitaan media konvensional. Di kemudian hari, kantor berita Reuters dan koran Inggris The Guardian kepincut pada orang ini dan merekrutnya sebagai kolumnis.

Media-media seperti The New York Times belakangan juga mengakui aksi para blogger. Di dalam muka versi online-nya, New York Times selalu menyediakan ruang ”From Blogosphere”, yakni blog-blog yang menampilkan para jurnalis amatir dari ber-bagai pelosok dunia. Koran itu melakukan kerja sama dengan Technorati guna menemukan weblog terkait.

Lebih dari semua itu, tonggak kejayaan blog berita dikibarkan oleh Ohmy News yang dimiliki Oh Yeon-ho. Blog ini pertama kali muncul di Korea Selatan pada Februari 2000. Inilah blog berita paling sukses dan paling untung—dua tahun lalu labanya Rp 3,7 miliar—di kolong jagat untuk saat ini. Bagaimana tidak, ”koran tanpa kertas”-nya itu sedikitnya di-lo-ngok 700 ribu pengunjung saban hari.

Reputasi blog ini tak diragukan. Mereka bisa meng-gerakkan demonstrasi besar-besaran di Korea Selatan menentang Amerika Serikat (AS) lantaran dua gadis Korea ditabrak mobil tentara AS di sana. Ohmy News juga mendapat giliran wawancara pertama saat presiden Korea Selatan Roh Moo-hyun ter-pilih. -Untuk mendukung pasokan beritanya itu Ohmy News didukung sekitar 41 ribu warga (pewarta warga) yang menuliskan apa yang dilihatnya ke dalam blog. Kini Ohmy News sudah meluncurkan versi bahasa Inggris dan Jepang.

Kepopuleran blog kini menjalar ke seantero jagat, termasuk Indonesia. Bukan hanya ABG (anak baru gede) atau para maniak komputer yang tergila-gila pada blog. Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Angelina Sondakh (anggota DPR yang juga mantan model), sampai fotomodel Playboy, Tiara Lestari, pun kini rajin menulis di blog.

Menurut Enda Nasution, salah satu blogger kondang Indonesia, di Indonesia saat ini diperkirakan ada sekitar 30 ribu blogger yang tersebar di beberapa situs penyedia blog seperti Blogger.com, Multiply.com, LiveJournal.com, Indosiar Blog dan Boleh.com. Yang ditulis juga aneka macam, dari resep brownies kukus, kisah cinta anggota DPR, sampai caci maki terhadap pemerintah.

Sejatinya blog booming ketika orang-orang seperti Brad Fitzpatrick, seorang blogger, pada 1999 menciptakan sistem membuat buku harian online yang mudah digunakan oleh orang awam komputer. Brad memulai dengan membuat catatan harian online bernama LiveJournal.com. Dengan peranti lunak bikin-annya, orang bisa menayangkan catatan hariannya dengan copy & paste (salin dan tempel) semudah mengetik di MS Word.

Dulu, sistem pengelolaan isi halaman web (content management system alias CMS) seperti itu ha-nya dipakai oleh perusahaan besar karena mahal dan rumit. Yayan Sopyan yang dulu ikut membangun situs Detik.com juga menggunakan alat ini. ”Saya bahkan harus membuat sendiri CMS untuk portal Detik.com,” kata dia. Tapi, sistem itu diberikan gratis oleh penyedia blog seperti Blogger.com atau Li-verJournal.com sejak 1999.

Lalu, ”Siapa pun bisa mempublikasikan tulisan atau gambarnya tanpa perlu mengerti pemrograman apa pun,” cetus Yayan. Blog pun tumbuh dengan sangat revolusioner, melampaui batas-batas sensor serta wilayah. Seorang blogger wanita dari Irak memberikan contoh menarik soal ini. Blogger ini ba-nyak menuliskan pikiran-pikirannya tentang perang dan politik di blognya yang beralamat riverbendblog.blogspot.com. Rupanya tulisannya amat mengesan-kan para aktivis feminis di Amerika Serikat. Tulisan-tulisan itu kemudian dibukukan dan menjadi blog pertama yang dinominasikan untuk anugerah Booker Prize di Inggris.

Di Indonesia perkembangan blog belum sejauh itu. Jangankan meninjau isinya, dari segi rasio jumlah-nya pun masih terbilang kecil. Menurut Enda Nasution, generasi pertama blogger Indoensia datang dari kalangan desainer web atau para mahasiswa Indonesia yang tinggal di luar negeri. Lalu muncullah blogger angkatan kedua yang berjumlah sekitar 100 orang. Enda mengaku ada di angkatan ini. Mereka kebanyakan mulai ngeblog awal 2000-an. ”Generasi kedua ini mulai banyak yang masuk ke radar media massa.” Akhir tahun nanti, jumlah blogger Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 45 ribu orang dan di akhir 2007 diperkirakan jumlahnya bakal melebihi 100 ribu.

Bagi Fatih Syuhud, blogger Indonesia yang tinggal di India, angka 100 ribu itu akan sangat bermanfaat jika mereka menulis dalam bahasa Inggris. Menurut dia, mereka bisa menjadi duta bagi bangsanya untuk berbicara ke dunia luar. Tentu saja, jika para blogger itu mampu mengelola blognya tidak sebagai sekadar diary belaka. ”Selama ini kita yang dibahas orang asing. Kita membiarkan sarjana asing menjadi juru bicara kita di luar. Kalau suatu saat mereka bias, kita marah-marah,” kata dia.

Manfaat menulis blog dalam bahasa Inggris se-kurangnya dirasakan Nurul Widyaningrum, pemilik blog dengan alamat thelightofwisdom.blogs.friendster.com. Sebuah tulisannya dalam bahasa Inggris diteruskan oleh John McDougall ke milis Indonesia Studies yang dikelolanya. ”Ujung-ujungnya, tulisan saya mendapat respons banyak dan mendapat kenalan baru,” kata Nurul. Hanya saja, jika di-longok memang blog Nurul belum fokus pada bidang tertentu serta ditulis dalam dua bahasa—Inggris dan Indonesia.

Bagi Yayan, peristiwa semacam itu kian meyakinkan dia bahwa masa depan blog se-bagai media alternatif amat cerah. Jumlah halaman media konvensional yang terbatas plus kebijakan redaksional setiap perusahaan pers, jelas, membatasi setiap individu untuk menulis di koran. Lewat weblog, setiap orang mampu menerabas hambatan itu. ”Setiap blogger bisa langsung bertukar liputan dan pengetahuan.”

Namun, bergerak dan memiliki media sendiri di dunia maya ternyata tak sepi dari risiko. Aksi penahanan blogger oleh penguasa terjadi di beberapa ne-gara (lihat www.globalvoicesonline.org/help-these-bloggers/). Salah satunya yang memancing reaksi keras blogger sejagat adalah penangkapan Hao Wu oleh pemerintah Cina. Pria ini ditahan selama lima bulan gara-gara tulisan-tulisannya di weblog yang membuat penguasa kurang berkenan.

Menurut Yayan, pemberangusan macam itu akan sia-sia belaka, sebab orang akan selalu bisa menulis di blognya. ”Ada banyak cara untuk menyelinapkan informasi,” kata dia. Revolusi blog tak dapat lagi dibendung.

(Dikutip dari Majalah Tempo Edisi. 23/XXXV/31 Juli - 06 Agustus 2006)