Bagi saya dia adalah makhluk ajaib. Mulanya saya cuma kenal nama, saat dia menjadi awak tabloid DëTik, dan tetap hanya mengenal nama saat dia bersama Budiono Darsono mendirikan detik.com.

Waktu terus berjalan, dan rasanya saya semangkin mengenal daripada yang mana Yayan Sopyan satria Karawang, bahkan mengaguminya, karena namanya sering disebut oleh banyak orang, dan jejak ketikannya bertebaran. Dia, tentu saja, tak mengenal saya — tapi itu masalah dia, bukan saya. 


Yayan makhluk ajaib? Bagi saya iyalah. Pendidikan formalnya filsafat — sebuah bidang studi yang rumit, aneh, dan menjengkelkan bagi saya. Bahwa dia piawai menulis, itu wajar. Maksud saya, wajar untuk orang sekelas dia. Misalkan sudah capek belajar filsafat, tapi tidak pandai menulis, itu namanya percuma, dan akan mengundang fitnah bahwa dia hanya belajar kebatinan — apa pun cuma dibatin, dibatin, dan dibatin.  

Macam mana ajaibnya Yayan? Yah dia sebangsa teman saya yang lain, Rene L. Pattiradjawané (RLP). Pendidikan formal RLP adalah sastra Cina, dan karena suka politik maka dia paham politik RRC. Kedua orang itu doyan komputer, dan mau belajar sendiri ketika komputer masih menjadi barang mewah. Dengan kebisaannya mereka menyumbang beberapa hal, antara lain melalui internet.

Ah gitu aja kok digumuni. Bukankah bidang komputer semakin terbuka, sehingga sebagian orang, untuk kepentingan tertentu, tak perlu sekolah komputer? Iya sih. Emang.

Tapi dengan kebisaannya, yang menurut ahli komputer mungkin cuma biasa, mereka (pernah) mencoba melakukan ini dan itu lebih dini, tanpa berpretensi disebut sebagai “pakar” maupun “pengamat” (yang bisa terpeleset). Detik.com, sebagai salah satu perintis berita online Indonesia, adalah contoh jejak keterlibatan Yayan. Jejak ketika dia (justru) baru mengenal internet.

Baiklah, sebutan makhluk ajaib memang berlebihan, toh Yayan masih makan nasi dan berjalan dengan kedua kakinya. Maka kita tanggalkan saja sebutan itu. Dia orang biasa. Tanpa kacamata, dan tanpa operasi lasik, dia tetap berkemungkinan kurang mengenali wajah orang sejauh lima meter dalam cahaya remang. Sangat orang biasa.

Saya cuma ingin Yayan aktif ngeblog, syukur jika mau menyediakan boks komentar. Membakar koran pagi tak hanya muncul sebagai puisi, tapi juga gerutuan biasa seorang biasa, yang mengundang diskusi tentang jurnalisme dalam perjalanan industri pers.

Ayo, Yan! Ngeblog dong.

(Dikutip dari blog Kliping Blogombal)