Namanya Margaret. Ringkas. Tapi jalan si gadis menuju ketenaran tampaknya tak akan sesingkat namanya.

Bayangkan saja, pada usia 13 tahun, saat teman-temannya sibuk ngerumpi di mal, ia sudah menyelesaikan sebuah novel teenlit. Ceritanya tidak jauh-jauh dari dunianya yang masih remaja, tentang kisah cinta monyet Amore dan Dion, dua siswa SMP Yardley, sebuah sekolah yang tak bakal kita temukan dalam daftar sekolah di Departemen Pendidikan Nasional. Amore, judul novel itu, terbit tahun 2005, setahun setelah naskahnya selesai ia tulis.

Margaret kecil memang akrab dengan dunia tulis-menulis. Pelajaran mengarang menjadi favoritnya. Ia pun mulai sering membuat cerita pendek yang biasanya diberikan ke teman-temannya. ”Salah satu guru memuji tulisannya,” kata Lili Yap, 46 tahun, sang ibu.

Tak hanya cerita pendek, gadis yang mulai beranjak remaja itu juga mulai menulis novel. Jalan ceritanya masih berkisar tentang anak-anak seusianya.

Bakat Margaret kian kinclong setelah diasah di sebuah sekolah penulisan, Jakarta School. Gadis ini sendiri yang minta disekolahkan di sana. Empat bulan digembleng, siswi SMA Pelita Harapan Cikarang, Bekasi, ini tak hanya menerbitkan Amore, tapi juga merampungkan Guruku Keren Sekali, novel keduanya. Kedua novel dicetak nyaris berbarengan. ”Sekarang sudah ada lagi naskah novel ketiga,” katanya. Margaret yang masih suka berebut mainan dengan dua adiknya ini telah menjelma jadi penulis novel yang produktif.

Penulis produktif bentukan Jakarta School lainnya adalah Imam Hidayah Usman, 25 tahun. Awal Januari lalu, ia baru saja meluncurkan buku keduanya, Fidel Castro Melawan. Di sela-sela kesibukannya menuntaskan skripsi, mahasiswa Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung, ini sudah ancang-ancang menyusun naskah buku ketiganya.

Margaret dan Imam adalah contoh penulis muda yang membanjiri ranah tulis-menulis di Tanah Air. Dalam beberapa tahun terakhir, tak hanya karya-karya baru, tapi nama pengarang baru pun terus bermunculan di gerai-gerai buku. Dan Jakarta School boleh berbangga karena punya andil dalam pasang naik dunia penulisan itu.

Berdiri tahun 2004, sekolah ini dikelola tiga orang bekas wartawan tabloid Detak: A.S. Laksana, Yayan Sopyan, dan Agung Bawantara. Mereka melihat antusiasme menulis di kalangan anak muda. ”Tapi antusiasme itu tak sebanding dengan kemampuan mereka menulis,” kata Yayan Sopyan. Maka, berdirilah Jakarta School.

Awalnya, sekolah ini nyaris tak punya peminat. Iklan belajar menulis kreatif, novel, dan skenario, dengan mematok biaya Rp 300 ribu sebulan di sejumlah media, tak bersambut. Baru beberapa bulan kemudian, setelah mereka bekerja sama dengan sebuah penerbit untuk program beasiswa menulis, keadaan berubah.

Kali ini peminatnya membludak. Iklan yang disebar di sejumlah media berhasil menjaring 500 calon peserta! Lima belas kali lebih banyak dari target awal mereka, yang hanya ingin menjaring satu kelas dengan peserta 30 orang. Akhirnya kelas ditambah jadi delapan. Sebanyak 240 orang bisa tertampung.

Agar memudahkan seleksi, mereka melakukan pembatasan usia. Anak-anak muda yang diterima minimal berusia 16 tahun. ”Margaret itu perkecualian,” kata Yayan. Kelas pun seadanya, sebuah ruang yang disewa di kompleks Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang. Ketiga penulis itu mengajar bergantian.

Agar efektif, satu orang menjadi wali untuk tiga kelas. Pertemuan dilakukan sepekan sekali selama 12 kali. Lama pertemuan masing-masing dua jam. Total jenderal, sekolah itu memakan waktu tiga bulan.


Materi yang diajarkan adalah pelajaran dasar bagaimana menulis kreatif. Misalnya menemukan dan mengembangkan gagasan, menulis cepat, cara memompa kreativitas, dan mengatasi kebuntuan. Lewat pendekatan workshop, proses pembelajaran dibuat agar tidak membosankan. Suasana dan materi dikemas segembira mungkin. Ada diskusi, ada praktek menulis bersama penulis, juga menulis bersama editor.

Peserta juga dibebaskan memilih dan mengembangkan genre dan gayanya, fiksi atau nonfiksi. Mereka pun didorong menyelesaikan sebuah naskah yang harus rampung di akhir proses pembelajaran. Naskah itu kemudian diseleksi apakah layak untuk diterbitkan.

Sukses dengan angkatan pertama, Jakarta School membuka kelas reguler dan akhir pekan. Kali ini biaya program Rp 2 juta untuk 12 kali pertemuan. Anda menduga peminatnya bakal turun? Salah. Jumlah murid ti-dak berkurang, ada siswa SMA, direktur perusahaan, hingga ibu rumah tangga. Kelas pun ”naik kelas”. Tak lagi nyempil di kampus UIN Ciputat, tapi di sebuah gedung di kawasan elite Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Hingga akhir tahun lalu, Jakarta School setidaknya sudah meluluskan 22 angkatan. Para peminat sekolah tak hanya mengincar penulisan novel atau kreatif, tapi juga meminta kelas menulis skenario. ”Dulu pernah kami berikan. Sekarang kami hentikan dulu. Belum efektif,” kata Yayan.

Sekolah serupa dikembangkan oleh Farid Gaban, penulis yang juga mantan wartawan majalah Tempo. Pada 2002, ia mendirikan Pena Learning Center. Berbeda dengan Jakarta School, kelas me-nulis Farid dilakukan secara virtual melalui Internet. ”Belajar jarak jauh ini mirip universitas terbuka,” ujarnya.

Bahan bisa dikirim via e-mail. Hasil tulisan dan editing kemudian dimuat dalam situs. Tatap muka bisa dilakukan sefleksibel mungkin. Bisa dengan chatting atau bertemu di satu tempat. ”Cara ini mengatasi perbedaan jarak, ruang, dan waktu,” kata Farid.

Sejauh ini, kelas online dianggap cukup efektif, kendati dari 10 orang hanya lima anak didiknya yang bertahan. Padahal biayanya tidak mahal, hanya Rp 300 ribu untuk tiga bulan.

Belakangan, PLC bekerja sama dengan Universitas Paramadina dengan nama Media Lab. Farid menjadi direktur eksekutifnya. Seperti kelas online-nya, Media Lab mengajarkan jurnalisme, foto, teknik penerbitan, kehumasan, dan penyiaran. ”Yang jelas nonfiksi,” katanya.

Kursus dilakukan secara tatap muka. Untuk delapan kali pertemuan, program itu dibanderol Rp 2,4 juta. Harga ini, menurut dia, sebanding dengan program pembelajaran dan fasilitas yang diterima. Sejak dibuka Desember 2006 lalu, peminat terbilang lumayan. Kelas pertama jurnalisme mulai digelar awal Februari ini.

Uniknya, kendati program sedang berjalan, permintaan materi baru sudah mulai bermunculan. Tak hanya kelas jurnalisme dan penulisan kreatif, tapi juga kelas shooting dan editing video. Tak ketinggalan penulisan skenario. ”Tapi kami ingin konsentrasi pada program awal ini dulu,” ujar Farid.

Penulisan skenario belakangan jadi materi populer yang diminati di setiap sekolah penulisan. Sejauh ini, lembaga yang rajin menggelar workshop penulisan skenario adalah Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI) di Kuningan, Jakarta Selatan.

Program ini memasang tarif Rp 2 juta untuk 18 jam dalam 6-8 kali pertemuan. Terdiri atas teori dan praktek. Harga itu dianggap sebanding dengan para pengajarnya yang praktisi perfilman. ”Ada syaratnya, peserta harus ikut kursus sinematografi dulu,” ujar Widi Santoso, staf pengajar PPHUI.

Sekolah penulisan serupa dikembangkan oleh sejumlah komunitas. Contohnya Forum Lingkar Pena, yang dibi-dani penulis perempuan Helvy Tiana Rosa. Komunitas penulis lepas yang anggotanya tersebar di seluruh Indonesia ini rutin menggelar pelatihan menulis bagi anggotanya.

Ada pula Rumah Dunia, komunitas seni yang didirikan oleh Heri Hendrayana Hariss alias Gola Gong, di Ciloang, Serang, Banten. Tiap akhir pekan, ia menggelar sebuah kelas menulis kreatif dan jurnalisme. Biasanya ada 20 orang pelajar SMA dan mahasiswa yang hadir. Penulis Balada Si Roy di majalah remaja ini membagikan ilmunya dengan ikhlas. Artinya, kursus itu cuma-cuma alias gratis.

(Dikutip dari majalah Tempo edisi 29 januari - 4 Februari 2007)