D. RosE-Portfolio: Kaitannya dengan Ranah Kognitif, Afektif dan Psikomotorik

Potofolio menurut Martinis Yamin (2005: 159) adalah kumpulan pekerjaan seseorang. Dalam bidang pendidikan, portofolio berarti kumpulan dan tugas-tugas peserta didik, sedangkan pengertian penilaian portofolio pada dasarnya adalah menilai karya-karya peserta didik untuk suatu mata pelajaran tertentu, di mana semua tugas-tugas yang telah dikerjakan oleh peserta didik dikumpulkan pada akhir satu unit program pembelajaran, misalnya satu semester. Pengertian ini tidak berbeda dengan RosE-Portfolio, yang secara operasional adalah suatu kumpulan karya peserta didik yang sarat tujuan (purposeful) yang menunjukkan usaha peserta didik, kemajuan dan prestasi peserta didik.

Bloom dengan kawan-kawannya sebagaimana dikutip oleh Degeng (1989: 176-177) mengklasifikasikan hasil belajar menjadi 3 domain atau ranah, yaitu "ranah kognitif, psikomotor, dan sikap. Ranah kognitif, menaruh perhatian pada pengembangan kapabilitas dan keterampilan intelektual; ranah psikomotor berkaitan dengan kegiatan-kegiatan manipulatif atau keterampilan motorik; dan ranah sikap berkaitan dengan pengembangan perasaan, sikap, nilai, dan emosi yang dipelajari (baru). Selanjutnya Bloom (1956: 18) mengklasifikasi ranah kognitif menjadi enam aspek yaitu; pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan penilaian (evaluation).

Menurut Arief A. Mangkoesapoetra (2007), model pembelajaran berbasis portofolio (porfolio based learning), mempunyai kecenderungan mampu melibatkan peserta didik dalam keseluruhan proses pembelajaran dan dapat melibatkan seluruh aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik, serta secara fisik dan mental melibatkan semua pihak dalam pembelajaran sehingga peserta didik memiliki suatu kebebasan berpikir, berpendapat, aktif dan kreatif.

1.     Portofolio dan Ranah Kognitif

Penilaian kognitif adalah usaha untuk mengetahui sejauh mana kompetensi matakuliah/mata pelajaran atau mata diklat dapat dicapai oleh peserta didik. Menurut Sudjana (1990) ada enam tingkat aspek kognitif yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sinte­sis dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.

Penilaian kognitif tersebut, menurut penulis sangat mungkin terakomodasi dalam penilaian portofolio. Hal ini karena portofolio, selain sangat bermanfaat dalam memberikan informasi mengenai kemampuan dan pemahaman peserta didik serta memberikan gambaran mengenai sikap dan minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan, juga dapat menunjukkan pencapaian atau peningkatan yang diperoleh peserta didik dari proses pembelajaran (Stiggins, 1994: 20).

RosE-Portofolio adalah penilaian melalui karya berupa tulisan yang dibuat oleh peserta didik. Menulis adalah kemampuan yang membutuhkan pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sinte­sis dan evaluasi. Praktis Ros-E-Portofolio mengakomodasi penilaian kognitif.

2.     Portofolio dan Ranah Afektif

Berkaitan dengan ranah afektif, portofolio cocok untuk mengetahui perkembangan unjuk kerja peserta didik, dengan menilai kumpulan karya-karya dan tugas-tugas yang dikerjakan oleh peserta didik. Karya-karya ini dipilih dan kemudian dinilai, sehingga dapat dilihat perkembangan kemampuan peserta didik. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Menurut Popham (1995), ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Orang yang tidak memiliki minat  pada pelajaran tertentu sulit untuk mencapai keberhasilan studi yang optimal. Seseorang yang berminat dalam suatu pelajaran diharapkan akan mencapai hasil belajar yang optimal. Oleh karena itu setiap guru harus mampu membangkitkan minat semua peserta didiknya terhadap mata pelajaran yang diajarkan guru.

Strategi pembelajaran ditentukan oleh kompetensi lulusan yang diinginkan dan karakteristik masukannya, yaitu karakteristik peserta didiknya. Kemampuan afektif merupakan bagian dari hasil belajar yang memiliki peran yang penting. Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor sangat ditentukan oleh kondisi afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tersebut, sehingga dapat diharapkan akan mencapai hasil pemelajaran yang optimal.

Peringkat afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu: receiving (attending), responding, valuing, organisation, dan characterization. Pada level receiving (attending), peserta didik memiliki keinginan menghadiri atau mengunjungi suatu penomena khusus atau stimulus, misalnya kelas, musik, buku, dan sebagainya. Dilihat dari tugas guru, hal ini berkaitan dengan mengarahkan perhatian peserta didik.

Respon merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagian dari perilakunya. Pada level ini peserta didik tidak saja menunjukkan fenomena khusus tetapi juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada daerah ini menekankan pada keinginan memberi respon, kepuasan dalam memberi respon. Level yang tinggi dalam kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada pencapaian hasil dan kesenangan pada aktifitas khusus, misalnya membaca buku.

Valuing adalah sesuatu yang memiliki manfaat atau kepercayaan atas manfaat. Hal ini menyangkut pikiran atau tindakan yang dianggap sebagai nilai keyakinan atau sikap dan menunjukkan derajat internalisasi atau komitmen. Hasil belajar pada level ini berhubungan dengan perilaku yang konsisten dan stabil. Dalam tuuan pemelajaran, penilaian ini diklasifikasi sebagai sikap dan apresiasi.

Pada level organisation, satu nilai dengan nilai yang lain dikaitkan dan konflik antar nilai diselesaikan, dan mulai membangun sistem internal yang konsisten. Hasil pembelajaran pada level ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai, misalnya pegembangan filsafat hidup.

Ranah afektif tertinggi adalah characterization atau nilai yang kompleks. Pada level ini peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada suatu waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada level ini berkaitan dengan personal, emosi, dan sosial.

Terkait dengan penilaian portofolio, bahwa portofolio RosE-Portfolio adalah laporan tertulis. Berkaitan dengan menulis ini, Yayan Sopyan (2007), penulis dan staf pengajar Sekolah Menulis Jakarta School, menceritakan pengalamannya mengenai hambatan dalam menulis. Menurut Yayan, lulusan Filsafat UGM ini, kemampuan menulisnya benar-benar didapat dari latihan dan disiplin. Menulis merupakan kemampuan membahasakan pikiran dengan jernih. Secara umum, menulis juga bermanfaat untuk kesehatan. Dengan menulis, secara psikologis, kita tidak memendam apa-apa. Apa yang mau kita kemukakan, ya, kita tulis; lalu tulisan itu dinikmati banyak orang, menjadi diskusi, banyak dikomentari oleh orang lain  sehingga ada proses dialektika. Karena di dalam prosesnya terdapat upaya untuk melihat kemungkinan-kemungkinan untuk menjadi pemahaman-pemahaman baru, maka menulis adalah proses kreatif dan survive. Menulis non artikel juga sama. Setiap tulisan selalu menyodorkan pengalaman-pengalaman baru. Pengalaman baru yang kumaksud bukan berarti kejadian yang tidak dialami oleh pembaca, melainkan juga cara berpikir baru yang bisa selalu didialogkan. Itulah sumbangan seorang penulis dalam masyarakat: selalu memberikan hal baru.

Dari penjelasan tersebut didapat bahwa menulis adalah hasil dari membahasakan pikiran, latihan, disiplin, proses kreatif, terbuka terhadap pemikiran baru, terbuka untuk berdialog, terbuka dengan perbedaan. Dengan menulis portofolio sangat mungkin akan memunculkan sikap-sikap tersebut, apalagi portofolio sebagaimana yang RosE-Portfolio dijalankan dengan kedisiplinan, yang apabila seorang peserta didik belum mengumpulkan portofolionya, maka secara otomatis sistem mengingatkan guru untuk memberi motivasi kepada peserta didik tersebut. Hal ini membentuk sebuah sikap disiplin bagi peserta didik, dan begitu seterusnya dengan sikap yang lain.

3.     Portofolio dan Ranah Psikomotorik

Menurut Elizabet Jane Simpson dan Annita J. Harrow (1977 dalam M. Atwi Suparman, 2001: 89) ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemam­puan bertindak yang terdiri dari enam aspek, yakni gerakan refleks reflek movement, keterampilan gerakan dasar (basic fundamental movements), kemampuan perseptual (perceptual abilities), gerak keterampilan (skilled movement), dan komunikasi wajar (non-discursive communication). Menurut Martinis Yamin (2005: 38-39) kawasan psikomotoris adalah kawasan yang berorientasi pada keterampilan motorik yang berhubungan dengan anggota tubuh, atau tindakan (action) yang memerlukan koordinasi antara saraf dan otot. Dengan demikian maka kawasan psikomotor adalah kawasan yang berhubungan dengan seluk beluk yang terjadi karena adanya koordinasi otot-otot oleh fikiran sehingga diperoleh tingkat keterampilan fisik tertentu. Misalnya keterampilan membongkar dan memasang mesin, mereparasi mesin, mengatur muatan kapal, menggunakan berbagai alat atau perkakas bengkel, membuat grafik dan lain-lain.

Hubungan antara aspek psikomotorik dengan RosE-Portofolio terlihat dari makin bagus portofolio yang ditampilkan peserta didik memberikan indikasi penguasaan aspek psikomorik oleh peserta didik. Hal ini keterkaitan bahwa kreasi menulis sangat membutuhkan kreativitas peserta didik yang meliputi: merancang, menyusun, menciptakan, mendesain, mengkombinasikan, mengatur dan merencanakan. Kreativitas peserta didik ini adalah merupakan jenjang taksonomi ranah psikomotorik sebagaimana yang diidekan oleh Atwi Suparman (2001: 89-91). Menurutnya jenjang taksonomi psikonmotorik meliputi: 1) Persepsi yang secara kata kerja operasional meliputi memilih, membedakan, mempersiapkan, menyisihkan, menunjukkan, mengidentifikasi, menghubungkan; 2) kesiapan yang secara kata kerja operasionalnya meliputi memulai, mengawali, mempersipakan, memprakarsai, menanggapi, mempertunjukkan, bereaksi; 3) Gerakan terbimbing yang kata kerja operasionalnya meliputi mempraktekkan, memainkan, mengikuti, mengerjakan, membuat, mencoba, memperlihatkan, memasang, membongkar; 4) Gerakan terbiasa yang kata kerja operasionalnya meliputi mengoperasionalkan, membangun, memasang, membongkar, memperbaiki, melaksanakan, mengerjakan, menyusun, menggunakan, mengatur, mendemonstrasikan, memainkan, menangani; 5) Gerakan kompleks yang kata kerja operasonalnya meliputi membangun, memasang, membongkar, memperbaiki, melaksanakan, mengerjakan, menyusun, menggunakan, mengatur, mendemonstrasikan, memainkan, menangani; 6) Penyesuaian pola gerakan yang kata kerja operasionalnya meliputi mengubah, mengadaptasikan, mengatur kembali, membuat variasi; 7) kreativitas yang kata kerja operasionalnya meliputi merancang, menyusun, menciptakan, mendesain, mengkombinasikan, mengatur dan merencanakan.