JADI penulis bukan lagi hal yang mustahil buat anak muda. Sekolah atau workshop terus mencetak penulis muda berbakat.Belajarnya cepat,hasilnya tidak mengecewakan.

Sekitar tiga tahun belakangan, sekolah, kursus, atau workshop penulisan novel atau skenario semakin menjamur saja.Kebanyakan para pendiri sekolah ini adalah mantan penulis buku atau wartawan. Bahkan, ada juga yang masih aktif menulis buku dan skenario.

Sebut saja Yayan Sopyan, mantan wartawan tabloid Detak Detik yang bikin sekolah penulisan Jakarta School bareng penulis AS Laksana. Atau,Junro yang mengelola beberapa situs untuk belajar menulis. Sementara itu, Salman Aristo, si penulis skenario Brownies dan Catatan Akhir Sekolah bikin sekolah Bunga Lotus.

Di luar itu, ada juga puluhan workshop singkat (biasanya dua atau tiga hari) yang digelar oleh berbagai komunitas atau lembaga tertentu. Mulai lembaga berbau seni hingga Sampoerna Foundation pun pernah menggelar workshop penulisan singkat seperti ini. Bahkan, perusahaan kosmetika raksasa The Body Shop, belum lama ini juga bikin workshop penulisan skenario buat anakanak SMA yang mau bikin film.

Profesi Menjanjikan?

Tak ada asap kalau tak ada api. Menjamurnya sekolah penulisan ini ternyata diikuti dari pasar penulis skenario yang kian membengkak. Banyak orang yang ramai-ramai ingin jadi penulis. ”Penulis saat ini menjadi salah satu profesi yang paling diminati. Anggapan menulis sebagai sesuatu yang sakral dan sulit dilakukan sudah gugur. Sekarang, menulis dapat dilakukan dan dipelajari. Siapa pun bisa melakukannya,” papar Yayan Sopyan.

Sementara itu,Salman Aristo melihat kalo sekolah ini muncul karena ada peluang dari sebuah industri kreatif yang melihat penulis skenario sebagai profesi alternatif. ”Kalo zaman ’90-an anak mudanya pada ngeband.Pada 2000- an ini ya bikin film, nulis skenario,” ungkap penulis yang biasa disapa Aris ini.

Maka itu, enggak heran kalo semakin lama, orang yang pengin ikutan sekolah menulis jadi makin banyak. ”Peminatnya bertambah terus. Tiap angkatan juga bedabeda modelnya.Misalnya,waktu saya buka angkatan pertama kebanyakan yang ikut para profesional. Angkatan kedua banyak yang orang awam, sedangkan yang terakhir ini kebanyakan anak muda SMA, mahasiswa, dan kerja,”paparnya.

Zaman sekarang, anak-anak sekolahan atau kuliah emang udah punya mimpi pengin jadi penulis. Terbukti juga, mimpi itu bisa jadi kenyataan dengan banyaknya penulis teenlit yang masih berstatus pelajar, seperti Margareth (Amore, Guruku Keren Sekali) atau Adzimattinur Siregar (Bubble Gum, Adddicted to You).

Melihat minat anak muda yang besar untuk jadi penulis, Jakarta School dan penerbit Gagas Media bahkan sampai bikin program road showkeliling sekolahan buat nyari pelajar yang berbakat untuk menjadi penulis.

”Programnya sudah jalan sejak tahun lalu dan sudah terpilih beberapa orang. Rencananya, Agustus ini kami memberikan mereka beasiswa untuk belajar penulisan lebih dalam lagi,”tutur Sopyan.

Enggak cuma di darat aja bahkan sekolah penulisan onlinejuga ada.Belajarmenulis.com, misalnya,dirintis oleh Junro.Sekolah ini menggunakan sistem belajar lewat e-mail, chatting, dan konferensi yahoo messenger. ”Kami sadar kalau kondisi orang itu beda-beda, makanya kami membuat sekolah online yang lebih fleksibel,” tutur Junro.

Sedikit Teori, Banyak Praktik

Kayak apa sih, belajar penulisan novel atau skenario? Enggak kayak belajar di sekolah atau di kampus yang banyak teorinya, sekolah atau workshoppenulisan lebih straight to the point karena waktunya juga cuma beberapa bulan. Teori diberikan sedikit, selebihnya langsung mempraktikkan teori yang didapatnya.

”Jadi,dalam satu pertemuan selalu ada kegiatan menulisnya. Lalu,setelah selesai pertemuan kami beri tugas.Tugas itu akan dievaluasi pada pertemuan berikutnya,” ungkap Yayan seraya menambahkan kalau pertemuannya bisa satu atau dua kali seminggu, tergantung kelas yang diambil.

Sementara itu, teori singkat ala pemberian kiat dan tips dilakukan oleh Sekolah Menulis Online.Kiat-kiat kayak menulis di blog, menulis dan menerbitkan buku, atau kiat menulis ala Chicken Soup for the Soul diberikan sebelum dilakukan pelatihan.

”Kalau di Bunga Lotus, sistemnya lebih pada klinik atau pendampingan. Di kelas advance atau penulisan skenario, satu kelompok hanya dua orang dan kami bimbing secara intensif untuk bisa menghasilkan skenario hasil dari ide mereka sendiri,” ujarnya. Nah, gimana, kesempatan buat jadi penulis semakin gampang kan? Kalo masih nganggep kalo menulis itu susah,simak nih kata-katanya Yayan Sopyan.

”Menulis itu bisa dilakukan siapa saja. Menulis bukan masalah bakat, tapi soal keterampilan,” tegasnya.

Dikutip dari Koran Sindo, edisi 31 Juli 2007.( )