Jurnalisme Urban
Meniadakan Desa

Akui saja bahwa jurnalisme yang sedang berlangsung di tengah kita adalah jurnalisme urban: jurnalisme tentang masyarakat kota, jurnalisme dengan pendekatan selera masyarakat kota, jurnalisme dengan pendekatan perkotaan.

Ini yang membuat kita kehilangan kabar tentang desa beserta dinamikanya. Desa lenyap di peta jurnalisme kota.

Itu akan membuat desa hilang dari ingatan kita. Desa akan tidak menjadi bagian dari pertimbangan di banyak keputusan dan kebijakan.

Sungguh ironis jika desa dikuburkan dengan cara itu pada masa Undang-undang Desa berlaku.

suatu ketika,
perempuan-perempuan bunting mengitari bumi.
tak ada jalan tanpa gejolak kaki bayi dalam kandungan.

perempuan-perempuan bunting,
perempuan-perempuan yang dicinta setiap manusia,
menutup seluruh lalulintas hidup
karena digelisahkan ia oleh degup jantung jabang bayi
dalam rahimnya.

tapi ketika lain,
para orang tua terkesiap
beratapkan tanah dan berpijak di awan
waktu dilawan keangkuhan
maka perempuan-perempuan bunting,
mereka yang dicintanya,
terbayang bagai ujung mata pedang
mereka hendak dienyahkan
dengan impian keabadian yang menguntitnya di seluruh malam.
maka jabang bayi dalam kandungan pun terdengar bagai kokok ayam pagi hari
yang mengusik bunga tidurnya:
mereka hendak dilenyapkan
tapi siapa yang berani menentang pagi hari?

karena cintanya ia pada jabang bayi, pada kehidupan ini,
perempuan-perempuan bunting,
perempuan-perempuan yang bakal lahirkan matahari,
dengan gumam pemberontakan yang menyusuri sungai-sungai,
yang merambah belantara,
yang menjelajah segara,
yang melintasi kaki pelangi,
yang berarakan ke angkasa,
"allah, allah, allah, allah, allah, allah, allah, allah, allah, allah,
siapakah jabang bayi yang kukandung?
anak Nuh ataukah Ibrahim ia?

Yogyakarta, 9 Pebruari 1990