Mimih -begitulah saya memanggil bunda- tidak habis-habis herannya. Ia tetap tidak mengerti kenapa saya membeli kamus itu. Susah betul saya menjelaskan pilihan saya itu.

Kalaupun saya bisa membelah kepala sendiri agar jelas apa yang terlintas di benak saya sewaktu membeli kamus itu, saya tidak yakin mimih paham dan mau mengerti. Saya pikir waktu itu, "Mana bisa lulusan Sekolah Rakyat macam dia paham urusan yang sudah saya sukai sejak kelas 4 SD?"  Sebagai anak kelas 1 SMP waktu itu, saya memilih tutup kuping ketimbang menjawab keheranan perempuan yang mengijinkan saya membaca komik-komik yang disewanya dari persewaan komik keliling itu.

Sekarang saya lupa nama penulis kamus itu. Yang jelas, itu bukan kamus Inggris - Indonesia, atau Indonesia - Inggris. Itu kamus Bahasa Indonesia. Saya membelinya bukan karena -sebagai urang Sunda yang tinggal di pelosok pesisir utara- saya kesulitan berbahasa Indonesia. Bukan juga karena saya berminat menjadi ahli bahasa Indonesia sejak kecil. Sama sekali tidak.

Sudah saya bilang, ini melulu berurusan dengan apa yang sudah saya suka sejak Pak Dadang Ismail -wali kelas 4 A di SD saya- mengenalkan saya kepada puisi. Sejak itu -dan sampai saat saya duduk di kelas 1 SMP waktu membeli kamus itu, saya memahami puisi sebagai rangkaian kata-kata indah.

Kata-kata yang layak disebut indah dan puitis adalah kata-kata yang jarang atau bahkan tidak pernah dipakai dalam bahasa percakapan dan tulisan sehari-hari. Karya sastra yang bernilai tinggi berada di luar bahasa yang kita pakai sehari-hari. Bahasa sehari-hari adalah bahasa rendah. Bahasa sastra adalah bahasa tinggi; dan itu artinya bahasa sastra harus susah agar bisa disebut berkualitas. Semakin susah dipahami maknanya maka semakin tinggi juga kualitas tulisan itu sebagai karya sastra. Begitulah saya pikir waktu itu. Pikiran anak SD dan SMP di akhir tahun 70-an.

Jangan salahkan saya gara-gara pikiran itu. Kesimpulan itu saya dapat dari macam-macam contoh karya sastra yang disodorkan di buku-buku pelajaran bahasa Indonesia di kelas: karya sastra lawas.

Kamus bahasa Indonesia itu saya beli agar saya bisa menulis karya sastra. Saya ingin menulis puisi. Aneh rasanya, saya pikir waktu itu, jika ada seorang pembaca puisi dan deklamator yang sering manggung di acara 17-an di kampung tapi tidak bisa menulis puisi. Saya beli kamus itu agar saya bisa menemukan kata-kata yang tidak lazim dalam percakapan sehari-hari untuk saya pakai dalam puisi-puisi saya.

Beginilah manfaat kamus bahasa Indonesia yang saya beli waktu itu. Saya menuliskan gagasan-gagasan dan perasaan-perasaan saya dalam bahasa tutur sehari-hari. Lewat bantuan kamus itu, saya menggantikan masing-masing kata dalam naskah saya dengan padanannya yang kira-kira tidak dimengerti orang lain. Simsalabim! Jadilah sebuah karya sastra!

Bangga betul saya dengan puisi-puisi saya waktu itu. Bangga sekali rasanya jika ada teman yang tidak bisa memahami karya saya sebab itu menandakan karya saya berkualitas tinggi -tidak sembarang orang memahaminya. Saya sangat bersemangat menjelaskan arti sesungguhnya puisi saya kepada mereka, sambil tidak lupa untuk menyarankan mereka agar membaca kamus setiapkali mau membaca karya sastra. Begitulah kelakuan saya waktu itu. Kelakuan anak kelas 1 SMP di akhir tahun 70-an.

Saya mengira evolusi persepsi terhadap karya sastra akan terjadi kemudian. Dugaan saya salah! Pikiran dan kelakuan anak kelas 1 SMP akhir 70-an itu ternyata masih bertahan di sebagian besar orang. Celakanya, yang berpikiran semacam itu bukan cuma anak-anak melainkan juga orang dewasa, bahkan mereka yang karya-karyanya terlanjur diterbitkan.

Saya tidak tahu bagaimana cara anda menulis, tapi saya masih terlalu sering mendapatkan naskah -entah itu puisi, cerpen, novel, esai- yang berbahasa aneh dan memaksa orang untuk membuka kamus agar bisa memahaminya. Saya mendapat kesan kuat bahwa kebanyakan naskah yang saya baca itu ditulis dengan semangat menemukan dan merangkai kata-kata yang tidak lazim sebagai bagian terpenting dari kosmetika karya tulis. Naskah-naskah macam itu seperti dibikin oleh anak-anak yang baru puber, yang tidak tahu cara memilih dan memakai lipstik, bedak, parfum, pomade, atau jel rambut. Naskah menjadi cemong -belepotan bahan kosmetik, genit, dan artifisial.

Saya tidak harus menyebut satu pun  naskah yang tergolong sebagai karya macam itu. Anda bisa menemukannya di toko buku, koran, majalah, atau -jika anda cukup tabah dan punya kekuatan hati- mungkin juga anda bisa mendapatkannya di folder My Document di komputer anda.

Berikut ini sedikit pegangan saja untuk mengidentifikasi naskah-naskah macam itu:

  • Kerutan di dahi anda semakin kuat ketika mencoba memahami kata-kata yang dipakai oleh si penulis untuk mengemukakan gagasan atau ceritanya
  • Anda seperti dilempar ke masa silam ketika membaca halaman pertama naskah itu, karena bahasa yang dipakai oleh si penulis nyaris mirip dengan bahasa yang dipakai dalam sastra tahun 20-an sampai 70-an.
  • Anda merasa malu sendiri, terganggu, dan risih membaca naskah karya orang lain (atau karya sendiri) karena anda menemukan kalimat atau ungkapan yang dituliskan dengan pilihan kata yang terasa mengada-ada. Anda merasa, sebetulnya penulis bisa mengungkapkan gagasannya secara lebih lugas tanpa kehilangan keindahannya lewat pilihan kata yang lebih enak.
  • Anda merasa jengkel membaca bagian-bagian pertama naskah itu, karena anda seolah-olah sedang menyusuri jalan yang berkabut, remang-remang, bahkan gelap.


Beberapa penulis mengaku, memilih (atau bahkan menciptakan) kata-kata aneh dalam naskahnya sebagai bagian dari eksperimentasinya dalam mengeksplorasi bahasa. Tidak ada larangan untuk melakukan eksperimentasi, tentu saja. Tapi eksperimentasi yang membuat repot dan risih pembaca tanpa memberikan keunggulan tambahan, apa gunanya? Asal aneh, asal beda, dan-asal-asal yang lain, lebih tepat digolongkan sebagai sebuah kegenitan ketimbang sebuah eksperimentasi.

Sastra, tentu, tidak wajib melulu memakai kata-kata yang dikenal dalam komunikasi sehari-hari. Ada banyak karya sastra, yang bagus, yang memanfaatkan kata-kata di luar perbendaharaan kata yang kita gunakan setiap hari. Tapi cobalah perhatikan, dalam karya-karya sastra yang bagus, penulisnya memberi kesan bahwa ia tidak berkonsentrasi untuk menggunakan kata-kata yang cantik atau aneh.

Sastrawan yang mumpuni pasti memilih kata. Tapi agar karyanya disebut indah, si sastrawan tidak akan menyia-nyiakan hidupnya untuk mencari kata-kata yang cantik atau aneh di kamus. Keindahan karya sastra muncul dari kemampuan si sastrawan dalam menyajikan gagasan lewat kata-kata yang bisa dipahami dan sekaligus merangsang syaraf imajinasi pembacanya untuk mengembara ke pengalaman-pengalaman baru.

Kalau saat ini di sebelah anda ada bacaan yang mengandung banyak kata yang memusingkan kepala, tutup saja dan tunggulah pembeli barang bekas yang berkeliling mendorong gerobaknya. Timbanglah dan jual. Bacaan jenis itu pasti lebih bermanfaat sebagai kertas daur-ulang ketimbang sebagai santapan pikiran dan rohani kita.

Dimuat di Harian Pikiran Rakyat 29 Maret 2006