MESKIPUN agak sulit ditangkap apa maunya tulisan Ahmad Subhanuddin Alwy (yogya Post, 12/8), ada satu point yang menarik dari pernyataannya. Pada akhir artikel tersebut Ahmad menulis, "pertayaan: siapakah penyair Yogyakarta kini, yang bisa dipertanggungjawabkan segala-galanya dari sisi kepenyairannya, sama sekali belum terjawab."

Ahmad, tampak memberi tekanan pada "bisa dipertanggungjawabkan segala-galanya dari sisi kepenyairannya." Dalam bahasa awam yang saya mengerti, boleh jadi Ahmad ingin mengatakan bahwa tak sembarang orang boleh disebut penyair, bahkan orang yang pernah menulis puisi sekalipun.

Ini mengingatkan kita pada pernyataan seorang petinggi setahun lalu. Sang petinggi menyatakan bahwa camat -gombal yakni camat yang tak mampu menjalankan tugasnya dengan baik mendingan jadi kondektur bis kota saja. Pernyataan ini setara dengan ucapan seorang mantan rektor sebuah universitas di Yogyakarta, "Kalau mahasiswa tak dapat santun dalam mengemukakan kritiknya, lalu apa bedanya dengan tukang becak?"

Dari tiga pernyataan tersebut terlihat bahwa penyair, camat, kondektur, mahasiswa dan tukang becak, merupakan label untuk menandai keahlian seseorang. Sejauh label-label itu dikenakan hanya untuk membedakan spesialisasi masing-masing orang, tak ada persoalaan. Namun ternyata implikasinya tidak berhenti disitu saja. Setiap label ternyata juga mengasumsikan derajat social tertentu yang hirarkis.

Bukan hal yang terlalu ganjil jika hingga saat ini begitu banyak warga masyarakat yang masih memilah-milahkan sesamanya lewar label-lebel yang hirarkis. Setiap orang agaknya telah siap dengan stempel-stempel untuk dicapkan ke jidat orang lain, yang sebenarnya, tak jarang dilakukan secara fair. Inilah salah satu persoalan dari fenomena budaya label.

Label merupakan bagian dari permainan logika. Ia masuk dalam persoalan katagorikasasi, yang dalam logika sangat penting untuk memilah-milahkan setiap hal agar jalan berpikir menjadi jernih dan sistematis. Tanpa label, kenyataan tak akan pernah bisa terkatakan, hanya the mystical saja.

Selama berada di wilayah pikiran yang kategoris, label boleh jadi bersifat netral. Di wilayah tersebut label-label tidak memberikan nilai apa pun pada barangnya. Jika seseorang disebut ningrat dan yang lainnya disebut hamba jelata, misalnya, maka lebelisasi tersebut sama sekali tidak mengandaikan bahwa ningrat lebih bernilai dari pada hamba jelata.

Baru dalam kehidupan social labelisasi menyertakan nilai. Ini terutama sangat terlihat dalam masyarakat feudal. Dalam masyarakat feudal, lebel ningrat jelas lebih bernilai daripada hamba jelata. Spesialisasi, dalam masyarakat demikian, selalu berada di tengah banyang-banyang hirarki sosial yang tak jarang cenderung tidak emansipatif.

Dengan masih kuatnya sisa-sisa nilai feodalitas pada saat ini budaya lebel dapat menyuburkan sensor diri yang tinggi. Orang akan sangat hati-hati dalam memilih spesialisasi agar tidak dicap ini itu, yang berarti pula dinilai begini begitu. Dan pada akhirnya, hal itu memuarakan kehidupan social ke arah kegamangan nilai. Sebab dalam suasana was-was dan penuh curiga dialektika kehidupan social tidak menghasilkan endapan apapun, yang berarti pula tak pernah dapat mengendapkan nilai apapun.

Dengan demikian budaya label sangat anti emansipatif dan anti kreatif, meskipun pada sudut yang kecil budaya label dapat membangun suasana kompetitif. Mensejajarkan seorang camat gombal dengan kondektur, seperti yang dilakukan sang petinggi di atas misalnya, jelas kurang fair. Camat gombal tentunya hanya sejajar dengan kondektur gombal pula. Sementara rasa was-was untuk mencap seseorang penyair atau bukan, seperti yang dilakukan Ahmad, juga lebih medorong orang untuk segera menjauhi segala macam kegiatan yang berkenaan dengan soal 'syair- menyair'.

Jika label penyair tidak boleh ditempelkan ke jidat sembarang orang di luar soal spesialisasi seperti yang dibanyangkan Ahmad, maka yang tergambar dalam pikiran kita adalah sosok penyair ala pujangga-pujangga kejayaan kerajaan (di Jawa). Pada zamannya, pujangga identik dengan kraton. Dengan demikian pujangga sekaligus menunjukan strata social tertentu, yang cukup lebih tinggi daripada massa di luar pagar kraton.

Andai pikiran demikian masih diterapkan pada masa kini maka saya kira sebuah judul film harus diganti menjadi "penyair Ketinggalan Kereta". Di zaman ini, di mana kehidupan umat manusia mulai lebih diemansipasi lewat teknologi informasi, seharusnya monopoli satu bidang oleh kalangan tertentu tak lagi terjadi; seharusnya bidang-bidang kehidupan yang satu dengan yang lainnya, melainkan hanya dipandang sebagai suatu spesialisasi saja. Seorang penyair berbeda dengan rentenir karena sang penyair menulis syair-syair, sajak-sajak, puisi-puisi. Itu saja. Sehingga bukan mustahil seorang rentenir juga sekaligus seorang penyair, jika ia menulis syair.

Pikiran sederhana ini tidak mengandaikan bahwa persoalan pertanggungjawaban segala hal dari sisi kepenyairannya, seperti yang diungkit-ungkit Ahmad, menjadi tak penting.***

(Esai ini dimuat di Harian Yogya Post, 30 September 1990)