"Namaku Suto !"
"Bukan ! Rambate-rate-rata .., rambate-rate-rata ..."

suleymanSuto bersikeras menegaskan namanya. Tapi sekelompok orang yang menjadi lingkungan tempat hidup Suto tak bisa menerima nama individua. Yang ada, bagi kelompok itu, hanya simbol kelompok: rambate-rate-rata ! Menyebutkan nama diri berarti pembangkangan terhadap kelompok; dan oleh karenanya harus diredam. Maka Suto pun dihabisi oleh kelompok Rambate-rate-rata. Begitu pula nasib Fatima, nama perempuan yang dicintai Suto.

Itulah puncak konflik yang dibangun Rendra dalam "Selamatan Anak Cucu Suleiman" (SACS), yang dipentaskan di Prambanan sejak 27 Oktober lalu. Konflik itu pula satu-satunya konflik yang dibahasakan dengan kata-kata dalam drama itu. Sementara sebagian besar konflik lainnya hanya divisualisasi lewat gerak tubuh, mimik wajah dan gumam. Maklumlah, namanya saja teater mini kata.

Kenapa harus "nama" yang menjadi penarik picu klimaks drama ini? Tentu bukan tanpa alasan. Dan, menurut hemat saya, di sinilah justru titik gagasan yang hendak disampaikan Rendra pada penontonnya.

***

Apalah artinya sebuah nama. Begitu kita terbiasa mengutip ungkapan seorang pujangga dunia. Namun sepulang menonton SACS, segera ungkapan itu berubah menjadi "Betapa berartinya sebuah nama". Sebab nama lalu bukan sekedar sebuah sebutan.

Yang penting, tentu, bukanlah bahwa seseorang bernama Abdul yang artinya hamba; dan orang yang lain bernama Sugih yeng berarti kaya, misalnya. Sebab tidak jarang dalam hidup ini ditemui ketidaksesuaian antara arti leksikal nama dengan 'nasib' serta 'watak' orang yang memilikinya. Boleh jadi orang yang bernama Abdul justru mempunyai kekuasaan yang luar biasa, atau orang yang bernama Sugih justru pada kenyataannya termasuk orang yang serba kurang berkecukupan dalam soal harta.

Dengan demikian nama tidak saja melampaui makna estetik. Namun sekaligus melampaui pula makna etik. Meskipun dalami masyarakat kita banyak keyakinan bahwa nama membawa nasib tertentu bagi pemiliknya.

Bahwa banyak orang mempunyai nama yang sama, itu pun tidaklah sedemikian penting. Letak kebermaknaan nama dalam hidup manusia justru terdapat pada kenyataan bahwa dengan nama diri seseorang segera mempunyai identitas diri yang membedakan satu dengan lain.

Dalam semesta raya, sebagai makrokosmos, setiap benda mempunyai nama. Dengan cara itulah semua benda alam menjadi bermakna di hadapan manusia yang berpikir dan berperasaan. Begitu pula dalam kumpulan manusia, sebagai mikrokosmos, nama diri masing-masing orang memberi makna bagi dirinya dan orang lain.

Keunikan manusia, lewat nama, pada gilirannya mendapat posisi penting dalam masyarakat manusia. Dengan menyadari keunikan manusia berarti juga memasuki pemahaman tentang kemerdekaan masing-masing orang. Sebab kemerdekaan atau kebebasan hanya mungkin diwujudkan dalam pilihan-pilihan sadar setiap orang. Seseorang yang tidak mampu menentukan pilihannya sendiri dapat dipastikan dirinya dalam keadaan terbelenggu, tidak bebas.

Menyebut nama seseorang berarti pula mengakui adanya kemerdekaan dalam dirinya sendiri dan orang lain. Memperkenalkan nama diri pada orang lain merupakan maklumat bahwa saya bisa berpikir sendiri, berperasaan sendiri, memilih tindakan sendiri seperti juga anda. Nama seorang manusia adalah simbol kemerdekaan dirinya.

***

Pada zaman ini tantangan yang dihadapi oleh martusia dalam mempertegas keunikannya adalah proses massifikasi. Proses ini hadir dengan kekuatan yang luar biasa untuk menyeragamkan semua orang. Identitas diri setiap manusia yang unik direduksi ke dalam bentuk “kebanyakan orang".

Hal ini secara historis bermula dari Revolusi Industri, yang mengawali penggunaan mesin sebagai alat produksi yang dominan. Lewat cara ini bukan saja suatu komuditas dikerjakan secara massal, namun sekaligus juga menggunakan ukuran, selera, dan cita rasa massal. Manusia individual tidak lagi dipahami sebagai pribadi yang unik, melainkan sebagai konsumen yang dibagi dalam kategori nomor

Pakaian yang umumnya kita kenakan tidak didasarkan atas ukuran tubuh kita sendiri. Pada saat ini orang dituntut untuk menyesuaikan diri dengan nomor ukuran yang disediakan pabrik-pabrik yang memproduksi barang-barang konsumsi. Di luar nomor ukuran yang telah ditentukan maka seorang warga masyarakat industri akan tersingkir dari hidup-bersama orang lain.

Tidak hanya dalam ukuran fisik saja terjadi massifikasi. Selerapun kemudian diukur secara massal. Hal ini merupakan titik balik logika ekonomi suatu masyarakat industri.

Pada awal proses produksi barang boleh jadi pabrik-pabrik menyesuaikan diri dengan selera masyarakatnya. Namun pada titik tertentu, yakni pada saat para konsumen mulai percaya kepada hasil produksi pabrik, logika dibalikkan: selera konsumen yang disesuaikan menurut hasil produksi. Dan untuk lebih memperlancar keberhasilan pemasaran hasil produksi maka para produsen akan mulai menggunakan papan-papan reklame, spanduk-spanduk, billboard untuk meyakinkan bahwa hasil produksinyalah yang paling memenuhi selera peradaban manusia. Di luar itu, hanya ada selera-selera manusia yang rendah. Cuci-otak pun dimulai.


******

Krisis dalam diri manusia pada masyarakat industri adalah krisis identitas. Manusia gamang melihat dirinya sebagai pribadi yang lain dari manusia lainnya. Manusia menjadi sangat gelisah untuk menentukan pilihan pribadinya di tengah kekuatan massal yang sedemikian hebat mereduksinya. Terlalu berisiko bila mempunyai selera yang berbeda dengan kebanyakan orang. Tersingkir dari sekelilingnya merupakan siksaan yang berat ragi seorang manusia dalam suatu masyarakat industri.

Dalam drama "Selaratam Anak Cucu Suleiman" hal itu tergambar ketika tokoh Suto kembali tergoda untuk bergabung dengan kelompok Rambate-rate-rata yang massal. Namun oleh Rambate-rate-rata, Suto terlanjur dicap sebagai pembangkang sehingga harus terus dimusuhi. Suto kecewa. Ia kesepian, sampai kemudian datanglah Fatima, kekasihnya. Keduanya kembali berani untuk mempertahankan namanya masing-masing di tengah ancaman dari kelompok Rambate-rate-rata yang massal.

Karya Rendra ini merupakan dramatisasi perjuangan manusia untuk mempertegas eksistensinya sebagai pribadi yang unik dan merdeka, tanpa reduksi dari kelompok yang massal. Rendra seakan mengajak untuk melihat diri sendiri sebagai manusia yang utuh agar tidak gampang terombang-ambing oleh suara atau slogan-slogan massal yang belum tentu mengandung makna selain kekompakan belaka. Meskipun hal itu jelas mengandung resiko yang tinggi. Lihat, Suto dan Fatima yang berjuang seperti itu pun akhirnya dieksekusi.

Drama ini benar-benar menylndir kehidupan modern masyarakat industri. Keikut sertaan manusia dalam arus selera dan slogan-slogan yang massif tak lebih hanya upaya untuk menyelamatkan diri dari ancaman gelombang kuat dari kelompok. Penyeragaman manusia oleh kekuatan produksi industrial telah melemparkan manusia kepada penghayatan hidup yang fiktif. Lihat, bagaimana warga kelompok Rambate-rate-rata sebetulnya tak pernah menyentuh langsung tubuh Fatima yang dieksekusinya. Lain dengan Suto yang berhasil memeluk dan mencium Fatima secara langsung.

Betapa hancurnya Suto dan Patima sebagai pribadi yang dianiaya kelompok Rambate-rate-rata merupakan simbol kehancuran atas kebebasan manusia dalam masyarakat industri. Meskipun demikian optimisme akan munculnya generasi yang menjunjung kebasasan manusia sebagai suatu pribadi yang khas, tetap perlu dipegang. Seperti Rendra mengakhiri “Selamatan Anak Cucu Suleiman" ini dengan adegan Suto yang memberi nama Fatima kepada bayi yang baru lahir.

Betapa berartinya sebuah nama.


* Esai ini ditulis sehabis menonton pertunjukkan “Selamatan Anak Cucu Suleiman” yang dipentaskan Bengkel Teater Rendra di Candi Prambanan 27 Oktober 1989