Para pengunjung sebuah bar terpesona dengan atraksi seorang bartender dalam meramu minuman-minuman yang dipesan. Seorang bertender lain nyeletuk, "Bagaimana kalau saya bacakan sebuah puisi ?". Dan lalu, sepotong puisi mengalir. Semua orang menikmatinya. Di kesempatan lain, suara hingar bingar diskotik terhenti ketika seorang pengunjungnya dengan lantang membacakan sebuah puisi. Semua orang bersorak menyukainya. "Saya akan menimpalinya," kata bartender yang sama. Dan puisi lain pun meluncur.

Dinamika seperti ini tak terjadi di diskotik-diskotik kota ini. Ini cuma sepotong adegan film yang pernah diputar di kota ini beberapa tahun lalu. "Cocktail", judulnya.

Kok bisa, ya, sebuah masyarakat yang sering dicap sangat teknologis dan materialistik dalam khalayaknya memberi artikulasi pada puisi ? Bukankah dalam masyarakat yang demikian segala hal yang berbau sastra tak diberi tempat ? Karena, bukankah dalam masyarakat yang seperti itu orang dikotak-kotakan di kamar spesialisasinya masing-masing sehinga puisi tentunya cuma jadi urusan sedikit orang ?

Asumsi-asumsi itulah yang membokongi kepala kita ketika melihat fenomena kesepiannya kesenian ('puisi-memuisi', utamanya) dalam masyarakat saat ini. Asumsi itu pula yang membuat banyak peminat puisi jadi pesimistis menghadapi perubahan- perubahan yang tengah terjadi. Di benak mereka, hal tersebut dilogikakan seperti ini: Saat ini masyarakat tengah dibimbing sebuah jalan menuju kebudayaan yang lebih materialistik dan teknologis. Karena materi bertentangan dengan spirit maka segala bentuk aktivitas rohaniah akan diredam. Ya termasuk 'puisi- memuisi' itu. Di sisi lain, asumsi yang sama telah membuat jarak antara khalayak yang heterogen terhadap puisi. Puisi terlalu sering dipandang tak berguna.

Memang kita belum lagi menjadi masyarakat yang teknologis. Baru mau. Baru berniat teknologis. Juga, kita belum lagi menjadi masyarakat materialistik yang sama sekali tidak mentolerir hal- hal yang spiritual. Baru mau. Baru berniat. Meskipun demikian, boleh-boleh saja bersikap pesimistis. Toh ontologi tindakan kita tercermin dalam "Sesungguhnya kelakuan itu pada mulanya adalah niatnya".

Bagaimanapun gelagat arah perkembangan menuju masyarakat teknologis dan materialistik sangat kentara. Niatnya, republik ini 'diingin-inginkan' jadi NIB. Teknologi, hulu maupun hilir, disebut-sebut sasaran yang bakal kita kuasai. Juga pernah tiba-tiba kita disergemikebutuhan akan para profesional dan manajer perusahaan yang tanggguh di bidangnya. Para peminat sastra mengeluh, "Kita bakal kehilangan dunia puisi sebab banyak orang lebih ingin jadi tukang atau pedagang".

Dengan logika seperti itu, saya hampir menangis. Untungnya, sebelum air mata sempat keluar, saya ketemu Petter F. Drucker. Dia bilang bahwa di bidang ekonomi seorang manajer harus mengenal bahasa, memahami kata-kata dan artinya. Sebab, kata si profesor, tugas seorang manajer adalah memotivasi, membimbing dan mengorgenisir orang agar mengerjakan pekerjaannya sendiri.

"It can be said with little exegeration that of the commmon collage courses being taught today the ones most nearly "vocational" as preparation for management are the writing of poetry and of short stories," katanya. Lho !

Aha, rupanya kunci yang mematikan sikap pesimis terhadap dinamika kehidupan 'puisi-memuisi' di tengah perubahan yang tengah terjadi di masyarakat, terletak pada karakter kebudayaan global manusia masa kini: informasi. Komunikasi menjadi aktivitas yang tak terelakan setiap sepersekian detik dalam kehidupan modern. Dan alatnya adalah retorika, yang dipahami sebagai "seni yang melukiskan hati manusia untuk mencintai pengetahuan yang benar" Inilah celah-celah yang mau tidak mau akan sangat menuntut dukungan kegiatan estetis, 'puisi-memuisi' utamanya.

Seperti juga dunia usaha itu, saya dengar Melvin Kranzberg berseloroh bahwa teknologi merupakan suatu prakondisi bagi pengembangan kesenian. Gagasan profesor sejarah teknologi ini boleh jadi tak bisa dicerna mentah-mentah untuk Indonesia. Keberangkatan statementnya berasal dari latar sejarah masyarakat industri Barat yang khas dan berbeda dengan kondisi historis masyarakat kita.

Yang bisa dipetik dengan agak mulus dari analisis Krazberg adalah bantahannya tehadap anggapan bahwa teknologi menghancurkan kesenian dan tidak melayani kebutuhan estetis, spiritual dan emosional manusia. "Catatan sejarah menunjukkan hal yang sebaliknya," katanya. Pada masa awal kedatangan teknologi industrial di abad kesembilan belas, di Britania justru lahir bentuk baru kesusastraan besar: novel. Para penyair juga cukup banyak lahir di abad yang sama.

Ada dua pendekatan berbeda antara Krazberg dan Drucker. Pada satu sisi, Krazberg memandang kesenian sebagai salah satu bentuk rekreasi masyarakat modern. Yang akan semakin terdukung olmh waktu luang masyarakat yang memadai -sebagai perpanjangan kondisional teknologi. Pada sisi lain, Drucker memandang puisi sebagai media bagi kedigjayaan manusia modern (di bidang manajemen).

Implikasi dari kedugnya adalah, pertama, bahwa terdapat kesejajaran yang saling berkait antara masalah-masalah spritual dan material. Hal ini belakangan agak sukar ditemui di dataran pemikiran masyarakat sehubungan dengan inkonsistensi konseptualnya. Pada satu saat masyarakat begitu yakin bahwa terdapat korelasi yang jelas antara aktivitas spiritual dengan aktivitas material, antara nilai dan fakta. Namun pada dataran prilaku sosial saat ini lebih memperlihatkan sebuah demarkasi yang tegas antara spirit dan materi. Puisi lebih dipahami sebagai produk dan sumber aktivitas yang hanya meladeni kebutuhan spiritual dan emosional belaka. Hal ini memang akan ditemui dalam catatan historis kebudayaan kita, yang membagi-bagi pekerjaan secara hirarkis dan spesial dalam hal nilai. Pada saat bersamaan, kebudayaan yang lebih material -yang gencar masuk belakangan- hanya diminati dalam ujudnya sebagai infrastruktur: kita lebih terpesona kepada perabot ketimbang ilmu dan nilai untuk mengendalikannya.

Implikasi lain dari gagasan dua profesor itu adalah bahwa puisi tidak mengambil jarak terhadap realitas sosial yang paling fenomenal sekalipun dalam tema maupun bentuk. Dengan cara ini, penyair menempatkan dirinya sebagai bagian yang tak terpisah dengan sosialitasnya. Penyair beserta puisinya dengan demikian mengalami desakralisasi.

Hal tersebut berbenturan dengan semangat kepenyairan yang dominan saat ini. Sisa-sisa pandangan tradisional ternyata terlalu kukuh dianut: puisi dan penyairnya adalah bukan sesuatu yang profan, sangat istimewa dan 'berani tampil beda'. Arogansi kekanak-kanakan dan tradisonal itu membuat puisi dan penyairnya teralienasi secara sosial.

Sambil menikmati cocktail bersama Drucker dan Krazberg, saya melihat bayangan diri di cermin seberang mengejek, "Masih beranikah kamu melihat wajahmu sendiri ?"

(Tulisan ini untuk Dialog Budaya & Forum Penyair Bulaksumur Putaran III, Fak. Hukum UGM, 16 Maret 1991)