Gagasan Sudarsono tentang rok mini (Bernas, 14 Maret 1991) agak alot untuk dicerna, boleh jadi karena sistematika pikiran yang semerawut dan gagap sebagai akibat inkonsistensi gagasannya. Meskipun demikian benang merah masih bisa ditarik dari tulisan nya. Rok mini, menurut Sudarsono, merupakan produk sistem kapita lisme yang reifikatif, serba kasat mata dan kuantitatif. Sistem yang sama secara ekonomis mengeksploitasi keindahan perempuan.

Pertama-tama, dalam kaitannya dengan eksploitasi keindahan perem puan oleh kapitalisme, Sudarsono hanya menyetarakannya rok mini dengan mode. Kiranya ini merupakan sesat-pikir karena kekeliruan memasukkan data ke dalam kategori-kategori pikiran. Dalam hal ini, seharusnya rok mini setara dengan long-dress, hot pant, dan sejenisnya. Tak setara dengan mode.

Sebagai sebuah cerminan, eksploitasi kapitalisme terhadap keindahan perempuan lebih berkaitan dengan kedudukan rok mini sebagai salah satu jenis mode. Itu bisa dipahami dalam lingkup perbincangan sentralisasis kultural yang mendapat aksentuasi dengan ekonomi kapitalisme.

Dalam ekonomi kapitalisme, kantong- kantong modal dan mobilitas ekonomi merupakan pusat syaraf kebudayaan yang menentukan 'merah-hijau'-nya warna kebudayaan di area lain yang lebih marjinal.

Filosofi dangkal

Rok mini memang dapat dikategorikan dalam salah satu jenis mode. Akan tetapi pada mulanya rok mini lebih merupakan fenomena ekspresi estetis dan etis manusia. Ia merupakan kreasi kultural yang mengandung latar belakang filosofis yang tak dangkal. Rok mini, sebagai sebuah kreasi kultural, patut disejajarkan dengan pasar swalayan dalam cara berdagang atau dengan teknologi karaoke, misalnya.

Juga tidak fair untuk mengatakan bahwa rok mini merupakan arrival hanya bagi kebudayaan kita saja. Agaknya, persoalan waktu saja yang membedakan kebudayaan Barat (Eropa) dengan Indonesia dalam menerima kedatangan rok mini. Benar, seperti juga disebut Sudarsono, nenek moyang kita lebih akrab dengan jarik, kemben, atau kebaya. Namun agaknya kita dapat sepakat bahwa kebaya, misalnya, tidak kalah erotik dari rok mini. Bahkan kebaya lebih erotik daripada busana perempuan yang lazim dikenakan pada zaman Ratu Victoria di Barat: pada zamannya rok mini pun termasuk arrival bagi kebudayaan Barat.

Rok mini dengan demikian tak bisa diamati sebagai fenomena kultural dengan kacamata nasionalisme maupun regionalisme saja. Melainkan, busana tersebut merupakan refleksi dari pergeseran epistemologi manusia yang global. Pergeseran tersebut jelas-jelas tak bisa dihindari, sebagai keinginan untuk terus berdinamika.

Ekspresi seksualitas secara blak-blakan yang menjadi watak utama rok mini mencerminkan hasrat orang untuk mengenali seluruh realitas secara jelas. Ia mewakili kultur eksplorasi manusia modern, yang dilawankan dengan kultur 'merahasiakan' yang primordial. Kebudayaan magis (meminjam term Van Peursen) yang hidup pada masyarakat tradisional tak pernah bisa menjelaskan realitas secara utuh, melainkan tersamar karena begitu banyak realitas tak bisa dipilahkan dari manusia. Kultur 'merahasiakan' sama sekali menutup peluang bagi dorongan kecerdasan manusia untuk membongkar 'rahasia langit dan samudera'.

Kebudayaan modernlah yang kemudian mengevaluasinya dan sekaligus memberikan dorongan nilai baru menuju ikhtiar baru pula dalam 'mengadabkan' manusia.

Semangat modernitas pada awalnya adalah semangat untuk mengkaji ulang dan menisbikan batasan- batasan lama di wilayah hidup manusia, dan pada gilirannya membangun batasan baru yang lebih luas. Daerah-daerah terlarang dibongkarn ya, dan secara sinambung ditetapkan demarkasi baru antara yang terlarang dan yang boleh dijamah.

Modernitas, dengan demikian, berpihak pada sikap blak- blakan. Dengan harapan, dapat mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih egaliter, bebas, dan kreatif. Namun, seperti tercermin pada rok mini, sikap terbuka itu tidak mengandaikan bahwa semua hal bisa ditelanjangi secara total; masih ada hal-hal pelik lain yang masih tidak bisa dan tidak boleh ditelanjangi.

Demikian halnya dengan fenomena rok mini dalam masyarakat kita, sejauh sebagai ekspresi. Rok mini yang dikenakan para perempuan Indonesia saat ini menjadi ungkapan bawah-sadar masyarakat atas kerinduannya pada kebebasan, dan semangat untuk meninggalkan mitos dan tahayul menuju penjelasan yang terang secara akali dan empirik.

Gejala rok mini memberikan citra perlawan terhadap nilai-nilai tradisional yang mitis, yang masih tersisa dalam arus yang mengalir menuju modernitas.

Galau dan gamang

Untuk sementara, modernisasi masyarakat dewasa ini masih tampak galau dan gamang. Pada satu sisi, begitu sukar untuk menghindari arus modernisasi global. Namun pada sisi lain, begitu alot untuk mencapai akulturasi yang mulus.

Masyarakat terlalu arogan dan chauvinistis untuk segera melepaskan atribut tradisi yang tak diperlukan lagi. Kepentingan-kepentingan politik individual di tengah persaingan yang ketat merangsang orang untuk berkompetisi secara tak sehat dengan cara yang halus dan aman. Kesenjangan antara infrastruktur dan suprastruktur, lalu, tak bisa dihindari. Akibatnya, seperti tampak dalam masyarakat sampai saat ini, hipokrisi melanda di mana-mana.

Misalnya, keterbukaan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, yang mestinya segera terjadi begitu memutuskan untuk memilih modernisasi, belum berujud. Begitu sering terderang seloroh kerinduan pada demokrasi namun realitas sosiologis memperlihatkan betapa betah orang terjerumus dalam 'demokrasi bisik-bisik' atau 'amplop tender di bawah meja makan restoran', yang jelas tidak demokratis. Hipokrisi ini didukung dengan kebisuan masyarakat di tengah keinginannya untuk bersuara.

Agaknya, pada bawahsadarnyna, kebudayaan mistis dan hipokrit inilah yang hendak dilawan para perempuan lewat rok mininya. Para permpuan dengan rok mininya seakan mau mengatakan, "kenapa tak kau lihat apa yang harus dan ingin kau lihat? Kenapa tak kau lakukan apa yang harus dan ingin kau lakukan?" Keterbukaan itu indah dan perlu di tengah kesumpekan realitas sosial dan politik.

Rok mini, dengan demikian menjadi antitesa bagi sikap malu-malu dan misteri yang dijadikan bunker sikap hiporkrit. Rok mini, jika diapresiasi sebagai ekpresi bebas dan intensional, mencerminkan kemuakan masyarakat terhadap segala bentuk manipulasi. Akan tetapi ia harus berhadapan dengan norma sosial dan religius, yang cukup mempunyai basis kuat dalam masyarakat dan menjadi alat legitimasi bagi seluruh putusan etis.

Sesungguhnya, dan tentu, tak ada salahnya dengan norma sosial dan religius yang secara ontologik menggaris bawahi adanya batasan-batasan dalam hidup sehingga secara normatif ketelanjangan cukup terlarang. Cuma saja batasan-batasan itu distatiskan, kehilangan dinamikanya. Terlebih kedudukan norma sosial dan norma religius berada pada posisi dibawah kepentingan kekuasaan, karena lebih sering dijadikan stempel saja. Sehingga keduanya kehilangan dialektikan yang kreatif dangan realitas.

Semetara rok mini, sebagai arrival, tidak cukup mempunyai basis yang kuat. Kalau pun rok mini sampai saat ini tidak pernah ditolak secara terang-terangan bahkan terus menjamur, tak lain karena didukung oleh relitas emosional orang yang kian hari kian tegang. Selain itu dalam kedudukannya sebagai fenomena mode lewat ekonomi kapitalisme rok mini kehilangan daya perlawanan sebab pemakainya tak cukup mempunyai intensionalitas untuk hal itu. Ini berarti bahwa rok mini pada sisi tertentu juga justru mendukung hipokrisi kebudayaan kita.

Sebagai sebuah perlawanan, rok mini di pihak yang kalah. Meskipun begitu, rok mini akan tetap laten sebagai sesuatu perlawanan. Setidaknya, jika rok mini dikenakan dengan intensionalitas yang dalam, para perempuan kita barang kali bisa sejajar dengan para pemberontak di kalangan hippies atau fink.

Manakala kata-kata dan organisasi perlawanan begitu menakutkan untuk diujudkan, boleh jadi sepotong rok mini menjadi bahasa ujaran yang aman untuk mengungkapkan ekspresi di kalangan mayoritas yang bisu.

(Esai ini dimuat di Harian Bernas, 21 Maret 1991)