ANTARA Donald Duck dan Roger Rabbit punya kesamaan dan perbedaan. Mereka sama-sama sosok cemen (animated cartoon), sama-sama sering jadi obyek kesialan dalam setiap lakonnya. Bedanya, Roger Rabbit lebih beruntung punya istri cemen berbentuk perempuan bahenol; sementara Donal harus puas dengan pacarnya yang sering uring-uringan. Wataknya pun lain: Donal itu pemarah dan penggerutu, sedangkan Roger sangat periang.

Wajar Roger -- dengan bahasa lain -- punya prinsip, "lebih baik mati ketimbang tak bisa berhibur dan menghibur". Bagi Roger, segala sesuatu dihadapi dengan pendekatan 'hibur-menghibur': enteng-enteng sajalah! Dalam film "Who Framed Roger Rabbit", ia tetap saja meng-hiburan-kan masyarakat dan memasyarakatkan hiburan meski ia dan masyarakat cemennya tengah terancam "dikedungombokan" oleh tokoh cemen lainnya.

Sosok Roger Rabbit adalah cerminan mahluk yang tak pernah bisa berkonsentrasi menatap persoalan-persoalan yang serius dengan cara yang serius pula. Roger Rabbit adalah sosok mahluk marjinal karena mereduksi kenyataan sebatas kepuasan-kepuasan emosional. Oleh karenanya, untuk mengatai --- bahkan mendeteksi --- persoalanya sendiri ia membutuhkan detektif bernama Valliant: seorang manusia bukan cemen.

Jangan dikira bahwa sosok Roger Rabbit hanya ada di dunia cemen. Amati saja sekeliling kita: ternyata tak sedikit orang bermental Roger Rabbit. Terutama dalam fenomena komunikasi, seperti juga disinggung oleh Nunung Prajarto (Bernas, 1/4/91).

Kehidupan saat ini mendesak orang untuk lebih banyak berkomunikasi, baik personal maupun massal. Bersamaan dengan itu, akselerasi teknologi komunikasi terus melaju. Dan produk-produknya mempesona banyak orang, terutama di Negara Dunia ketiga, sehingga masyarakat kita pun terbilang cukup konsumtif memamahnya.

Gejala ini ternyata menjebak munculnya penilian yang gegabah. Bertebarannya radio, televisi, antena parabola, koran, majalah, citizend band dan lain sebagainya dalam masyarakat diasumsikan sebagai gelagat yang menandai awal era informasi di sini. Penilaian ini mecuat karena fenomenanya hanya dilihat dari pemilikan infrastukturnya saja.

Sementara secara dominan banyak masyarakat mematikan pesawat radionya saat warta berita; televisi kehilangan penonton di luar tanyangan film cerita dan musik; berkomunikasi dengan atasan lebih sreg dengan tatapan-muka dari pada menggunakan telepon yang telah tersedia; obrolan-obrolan di CB dan intercom-antar-penduduk lebih banyak melantur dan cari hiburan; dan sebagainya. Dengan demikian, bukankah tidak terlalu sedikit 'Roger Rabbit-Roger Rabbit' di tengah masyarakat kita ?

Tak ada salahnya dengan hiburan dan bentuk-bentuk pemuasan emosional lainnya. Bagaimanapun, hiburan merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia. Juga, hiburan merupakan salah satu fungsi media komunikasi. Namun pertanyaan yang kemudian muncul adalah "Seberapa proporsional kita mengarahkan komunikasi kepada hiburan?"

Betapapun, komunikasi merupakan ujud dasar sosialisasi setiap manusia, dan kerja manusia yang prakondisional bagi kontrak-kontrak sosial baik pada dataran sistem nilai maupun institusinya. Media komunikasi pun berfungsi sebagai media pendidikan dan informasi, selain hiburan. Dan pada pendidikan dan informasi itulah perabot komunikasi menemukan fungsinya yang progresif. Bukan pada hiburan, yang jarang menyisakan ruang unutk mengendapkan perenungan dan daya cipta yang kuat dan dalam.

Kehidupan modern bukan cuma menuntut manusia agar lebih banyak berkomunikasi tanpa orientasi yang jelas sehingga hanya menciptakan mahluk-mahluk bawel seperti Roger Rabbit. Lebih penting dari itu, etika dan sasaran komunikasi. Kecenderungan ideal manusia modern dalam berkomunikasi mengarah kepada terciptanya kehidupan yang egaliter, terpadu, dan berlangsungnya dialektika progresifnya secara sinambung dalam kebudayaan dan peradaban.

Hal tersebut berkenan dengan watak modernitas yang merahimi disiplin dan bidang-bidang baru yang lebih spesifik, sementara dibutuhkan integrasi agar mencapai kreasi yang lebih sempurna. Dari sinilah titik mula pemahaman terhadap apa yang disebut 'era informasi'.

Namun demikian kultural informasi modern yang maksud di dalamnya tidak bisa digambarkan sebagai kehausan, pemilikan dan penguasaan data saja. Melainkan, kultural informasi modern mengadaikan suatu kerja keras yang serius unutk menggali dan mengolah sekian banyak data menajdi peta kenyataan baru, yang merupakan sintesa dari peta kenyataan lama dengan relasi-relasi baru, semangat era informasi adalah semangat invensi dan integrasi.

Dalam konteks itulah pergaulan kultural antar bangsa berjalan secara kompetitif dalam memberikan kontribusi kepada kebudayaan dan peradaban seluruh umat manusia. Mengelak dari kancah tersebut berarti bergerak menuju bangsa marjinal, yang yak pernah diperhitungkan sebagai subyek melainkan obyek.

Ini tentu tantangan yang cukup berat. Selama 'mentalitas Roger Rabbit' masih bertahan, akan sulit mencapai kultural informasi yang modern. Sebaba kultural informasi dalam 'komunikasi gaya Roger Rabbit', yang lebih diarahkan unutk mencapai hiburan, hanya akan berwjud pergunjingan-pergunjingan. Invensi akan mustahil berkembang dalam situasi casual.

Tantangan yang pertama-tama muncul adalah keberanian untuk melakukan transformasi cara berpikir, dari yang dogmatis dan doktriner menjadi kritis. Cara berpikir dogmatis dan doktriner menutup peluang bagi upaya pemahaman baru, dan mencegah proses dialektis dengan mempertahankan legitimasi status quo. Dan pada gilirannya hal itu hanya menyulut frustasi dan ketergantungan yang fatal. Inilah pintu masuk menuju eskapisme hedonis dan apatisme: orang cenderung memilih lari mencari kesenangan yang dangkal bersikap masa bodoh terhadap tantangan yang serius ("enteng-enteng sajalah!")

Berpikir dogmatis dan doktriner ternyata bukan semata-mata mentalitas bawaan. Dalam keseharian hal tersebut juga diperkokoh oleh strukutral kekuasaan yang lebih memungkinkan arus kehendak baku bergerak satu arah; sedemikian rupa sehingga upaya merumuskan mengantisipasi sendiri menjadi sesuatu yang mahal. Hal yang sama berlangsung pula pada mekanisme pendidikan yang terbiasa menyuapi murid denga kesimpulan-kesimpulan tanpa melatihnya agar mahir menganalisis. Dengan demikian transformasi menuju cara berpikir kritis melibatkan upaya perubahan mentalitas secara personal, sekaligus disertai tranformasi yang struktural.

Lewat cara tersebut apresiasi terhadap teknologi komunikasi yang mutahir dapat diluruskan. Teknologi dan modernitas harus tidak diapresiasikan sebagai perabot-parabot yang memberi citra mewah (luxury). Perabot-perabot tersebut difungsikan secara tepat guna.

Namun juga sia-sia mengeser cara berpikir dogmatis dan doktriner tanpa mengubah pandangan terhadap sejarah perkembangan nilai. Noral ideal yang berlaku saat ini telah mendesak orang berlaku pesimis. Sebab sejarah perkembangan nilai yang tengah berlangsung dianggap bergerak secara devolutif. Kita terlanjur percaya bahwa puncak sejarah nilai berada dimasa silam. Yang terjadi kemudian adalah bahwa jawaban bagi tantangan kontemporer diukur dengan jawaban-jawaban sukses masa lampau.

Buntutnya, situasi kondisi hidup menjadi akan ahistoris dan tak kontekstual. Bagaimana mungkin intensionalitas dalam mengupayakan relasi-relasi baru, yang menjadi watak kulutr informasimodern, dapat terbina dalam kegamangan demikian? Dan, tidakkah kegamangan merupakan prakondisi bagi terciptanya makhluk eskapis, seperti sosok Rorabbit ?

Paparan di atas, sekali lagi, sama sekali tidak berpretensi agar manusia harus menghindari hiburan, kegembiraan dan keriangan. Kultural informasi modern bukanlah budaya manusia pecemberut dengan dahi berkerut saking seriusnya. Kultur informasi modern justru mengupanyakan perimbangan: mencapai progresivitas kualitas hidup dengan cara yang lebih nyaman.

Akhirnya tinggallah pertanyaan, "Kemana kita handak menuju? Ke kebudayaan dan peradaban manusia? Ataukah ke dunia cemen?"

(Bernas, SABTU, 6 APRIL 1991)