BEBERAPA minggu lalu, lebih dari seribu mahasiswa Yogya (baik PTN maupun PTS) ditarik kembali kekampus masing-masing dari lokasi KKN(Kuliah Kerja Nyata) mereka. Sederet daftar program yang telah dilaksanakan maupun bangunan fisik yang telah dibangun pada kegiatan tersebut boleh dipajang panjang-panjang. Namun tentu menilai keberhasilan KKN hanya dari seberapa banyak bangunan fisik dan program yang telah diwujudkan akan sama berbahayanya dengan menilai keberhasilan pembangunan nasional dengan seberapa tinggi tugu dan monumen yang telah dibangun tanpa memperhatikan sisi kualitatif manusia.

Tulisan ini tidak berpretensi mengukur tingkat keberhasilan kegiatan KKN. Melainkan hanya ingin melihat ulang beberapa hal yang telah berlangsung selama masa KKN; terutama yang berkenan dengan sisi mahasiswa sebagai si pelaku. Sebab beberapa anggapan telah beredar. Pertama, mahasiswam KKN dipandang sebagai kaum idealis kampus yang merumuskan idealismenya secara kongkrit di kalangan masyarakat bawah (pedesaan). Kedua, terutama beredar di kalangan masyarakat desa, terdapat anggapan bahwa mahasiswa KKN adalah para donor material.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, sebaiknya dilontarkan pertanyaan, "bagaimanakah sesungguhnya persepsi para mahasiswa terhadap KKN?" Apapun jawaban yang dikemukakan, yang dan pasti terlintas di benak setiap mahasiswa adalah bahwa KKN hanya merupakan salah satu mata kuliah wajib-tempuh untuk mensyarati gelar kesarjanaan yang akan diraihnya. KKN tak ubahnya sebagai ritus seremonial kampus yang harus dilewati oleh setiap mahasiswa, yang sering juga dijadikan ukuran prestise akademis seorang mahasiswa.

Dan kiranya sukar dibantah bahwa kebanyakan mahasiswa cenderung tidak mempersoalkan apa dan bagaimana permasalahan desa serta upaya antisipasinya sejak dini,sejak sebelum kegiatan KKN ditempuhnya. Yang terbayang di kepala para mahasiswa KKN menjelang keberangkatannya cuma suatu laku prihatin, sebagai konsekuensinya berbagai kekurangan dalam fasilitas dan infrastruktur khalayak di lokasi kegiatan. Oleh karenanya, tak berlebihan jika banyak mahasiswa menyamakan KKN dengan kegiatan perpeloncoan yang pernah dilangsungkan pada masa awal memasuki gerbang kampus.

Anggapan tersebut di atas sama sekali bukan ilusi para mahasiswa yang gugup menghadapi berbagai keterbatasandan kekurangan yang ada di lokasi kegiatan. Beberapa instansi cukup punya andil memperkuat kesan KKN sebagai bentuk berikutnya dari perpeloncoan.

Sejak masa coaching, misalnya, yang muncul secara kuat justru bukan transfer pengetahuan dan keterampilan, melainkan kisah-kisah lucu dan menakutkan tentang buang hajat di sungai, wilayah tanpa listrik dan bioskop, kesukaran komunikasi dengan masyarakat lapisan bawah dan lain sejenisnya. Hal ini ternyata berdampak psikologis yang tidak menguntungkan bagi mahasiswa: mereka semakin yakin akan dipelonco lagi lewat KKN.

Pada prakteknya, kenyakinan itupun terbukti; dengan didukung oleh anggapan masyarakat desa bahwa KKN adalah kegiatan para donor material atau kerja bakti mahasiswa sebagai suatu upacara ruatan bagi para calon sarajana. Hal itu terjadi, terutama, ketika lembaga kekuasaan desa/dusun - baik yang formal maupun yang informal - meminta dan menuntut ini itu di luar akal sehat intelektual mana pun. Misalnya saja, menunut para mahasiswa KKN agar menyumbang dana, pikiran dan tenaga untuk membangun Tugu Anu, sementara persediaan dana, baik swadaya maupun para mahasiswa, sangat minim; dan padahal pula, menurut akal sehat, masyarakar ternyata lebih membutuhkan pembuatan dan perbaikan jalan desa.

Seperti terjadi pada setiap situasi perpeloncoan apapun, kegiatan tersebut cenderung menumbuhkan kesadaran moral yang heteronom. Ketaatan pada kewajiban yang dilakukan pada kasus seperti ini tidak lahir dari sikap sadar, melainkan dari rasa tertekan. Kesadaran moral heteronom semacam itu, seperti diungkapkan Magnis Suseno, jelas merendahkan manusia.

Namun dampak tindakan yang dilatarbelakangi oleh kesadaran moral yang heteronom memang tidak selalu bersifat negatif; kadang kala bersifat posotif. Hal itu tervisualisasi, meskipun dalam sebuah fiksi, pada salah satu penggalan cerita film We're No Angel ( unutk selanjutnya ditulis WNA ).

Dalam film itu dikisahkan tentang janda miskin beranak satu yang semula dilukiskan sebagai penghujat agama. Namun si janda memperoleh penyadaran keimanan setelah mendengarkan khotbah seorang romo (pastor ). Padahal si romo yang bernama Brown sesungguhnya hanyalah seorang narapidana yang tengah buron dan dalam usaha pelariannya ke negara lain; sehingga sebenarnya khotbah yang dilakukan Romo Brown gadungan itu merupakan tindakan yang didasari oleh kesadaran moral yang heteronom.

Dalam hal ini tindakan heteronom Romo Brown memang berdampak posoitp bagi si janda. Namun tentunya penilaian atas pengalaman ke dua tokoh cerita tersebut tak bisa disadarkan semata-mata dari hari akhir saja, melainkan juga prosesnya.

Pencerahan keimanan yang dialami si janda tak lebih dari efek samping sebuah penipuan. Hal serupa itulah, kiranya, yang juga menimpa para mahasiswa KKN dam masyarakar desa.

Agak aneh memang bahwa ternyata film WNA dapat menjadi semacam analogi praktek mahasiswa KKN. Kesamaan profil antara kedua buronan dalam WNA dengan mahasiswa KKN bukan terbatas pada kesamaan penyakit moral yang diderita kedua pihak ini. Mereka pun sama-sama mampu survive di tengah lingkungannya berkat imaji otoritas yang dilekatkan pada mereka.

Pada WNA, nama Romo Brown dan Romo Reily mempunyai otoritas tersendiri di lingkungan gereja lewat karya literernya yang terkenal. Sehingga berbagai keganjilan yang dilakukan kedua buronan itu selama penyamarannya senantiasa mendapat rasionalisasi. Sementara di pihak lain, predikat "mahasiswa" jelas mengasumsikan otoritas tertentu pula di kalangan masyarakat desa yang pendidikan formal warganya relatif lebih rendah. Oleh karenanya, seusang dan seabsurd apapun gagasan maupun pengetahuan yang dilontarkan para mahasiswa selalu akan diterima dengan baik oleh masyarakat.

Otoritas yang dimiliki oleh para mahasiswa KKN memang merupakan tempat persembunyian yang baik, pada saat sang mahasiswa tidak cukup mempunyai motivasi yang kuat, pengetahuan dan keterampilan yang tepat-guna di tengah kegiatannya. Sungguh pun demikian, otoritas tersebut justru dapat berbalik mendangkalkan peran mahasiswa itu sendiri. Pembalikan ini dimungkinkan karena, pertama-tama, otoritas tersebut sesungguhnya bersifat semu.

Hal itu bisa terjadi pada saat mahasiswa KKN - dengan otoritas semuanya itu - "ditunggangi" oleh satu dua kelompok kepentingan tertentu dalam masyarakat, yang pada gilirannya hanya mendudukkan mahasiswa tak lebih sebagai legitimator saja. Pada situasi ini sikap kritis para mahasiswa terpaksa tak bisa naik kepermukaan. Sebab salah satu faktor terpenting yang memungkinkan hal tersebut adalah tingginya tingkat konformitas sosial. Yang lazimnya memang subur pada masyarakat desa yang primordial, yang terpaksa diadopsi oleh para mahasiswa sebagai seorang "tamu" untuk menjaga kohesivitas dan harmoni sosial yang telah berlangsung.

Sayang jika semua hal yang dipaparkan di atas masih terus berlangsung pada KKN di masa berikutnya. Sebuah kemunduran jika para mahasiswa tingkat akhir kembali dipelonco seperti masa awalnya. Sayang pula jika sikap kritis yang telah dibangun bertahun-tahun rontok dalam beberapa bulan saja.

Pertama-tama, boleh jadi, krisis motivasi mahasiswa KKN selayaknya direspon dengan upaya menanamkan pemahaman dan penghanyatan berbagai persoalan pembangunan yang menimpa masyarakat yang terletak jauh dari jantung pembangunan itu dilakukan sejak dini; bukan hanya diujung masa kuliah. Tak kalah penting, tentu saja, persiapan pengetahuan dan keterampilan tepat-guna sepantasnya dipertajam agar mampu mencegah kesemuaan otoritas yang dengan demikiam berarti mengubah "otoritas nama" manjadi "otoritas karya".

Pemaparan di atas sama sekali tidak berpretensi menghapus beberapa manfaat dan keberhasilan KKN yang telah berlangsung sejak belasan tahun. Sehabis KKN, seperti halnya menimpa kedua tokoh romo gadungan dalam WNA, terjadi polarisasi visi mahasiswa tentang pemihakannya terhadap masyarakat bawah pedesaan. Kutub pertama, seperti terwakili oleh sosok Romo Reily dalam WNA, adalah mahasiswa yang penyakit moral heteronomnya semakin kuat. Sementara di kutub lain, seperti sosok Romo Brown yang malah jatuh cinta unutuk mengabdi pada agama, adalah para mahasiswa yang mendapat 'pencerahan idealisme' di tengah jalan, sehingga selepas KKN malah semakin tingggi kecintaannya pada masyarakat desa.

Dan sungguh, ketika akan meninggalkan kampus, para mahasiswa KKN berseru dalam batinnya, We're No Angel. Ya,mereka memang orang biasa.

(Tulisan ini dimuat di BERNAS Sabtu, 6 JULI 1991)