JIKA Anda pernah membaca komik serial Asterix, tentu Anda kenal salah satu tokohnya yang bersama Obelix. Ya, Obelix adalah salah satu tokoh penting dalam serial komik tersebut, yang berperawakan super-gemuk dan bekerja sebagai pengantar tugu menhir diperkampungan orang Galia. Berkat kerjanyalah tugu menhir terdistribusi ke seluruh sudut perkampungan itu; sehingga tak terlalu salah jika menyebutnya sebagai "perkampungan Tugu Menhir".

Dan karena itu pula, maaf, belakangan ini saya merasa hidup bersama Obelix dan kawan-kawannya. Ini mungkin keterlaluan. Akan tetapi sulit dipungkiri betapa saat ini tugu-tugu (untuk ukuran kecil) dan monumen-monumen (untuk ukuran yang relatif lebih besar) berserakan di sekitar kita seperti halnya di perkampungan orang Galia meskipun bentuk, ukuran, fungsi maupun jenisnya berbeda.

Sedemikian banyaknya tugu, sampai-sampai seorang mahasiswa yang ber-KKN (Kuliah Kerja Nyata) baru-baru ini sempat kewalahan untuk menanggapi pertanyaan seorang warga desa, "Tugu? Teman-teman mbak sedang kerja bakti membangun tugu di balai desa? Tugu apa? Kalau memang ada cukup uang, mbok lebih baik membangun atau setidaknya, memperbaiki jalan desa sajalah".

Agaknya Anda dan saya pun bakal kelabakan untuk menjawab secara mendadak berondongan pertanyaan tersebut. Bukan karena begitu sukar mencari kata-kata, melainkan karena kita pun sadar bahwa monumen kultural kita menunjukan 'inflasi tugu'. Sedemikian rupa sehingga pada saat ini tugu maupun monumen tidak terlihat istimewa lagi di hadapan kesadaran-merdeka kita. Terlebih akhir-akhir ini, untuk beberapa jenis dan bentuk, tugu telah disepadankan dengan semacam formulir massal yang 'sebaiknya' diisi.

Sebenarnya, lazimnya, sebuah tugu maupun monumen dibangun untuk menggelitik, menggugah dan -untuk banyak kasus- untuk mengarahkan kesadaran orang akan sesuatu hal. Pada jenis tugu maupun monumen bersejarah, pembangunannya berkenan dengan suatu peristiwa atau momentum. Tugu dan monumen jenis ini sering diharapkan mampu berfungsi seperti mercusuar dipantai yang membimbing arah perjalanan kapal. Itulah, boleh jadi, idelisasinya.

Oleh karenanya tidak setiap perstiwa atau momentum dengan serta merta dapat ditugukan atau dimomentumkan. Hanya peristiwa-peristiwa yang mengandung sentuhan kesadaran dan nilai universal saja yang dipandang layak ditugukan. Lewat itulah fakta-fakta dalam suatu peristiwa ditransendir sedemikian rupa sehingga mampu mengatasi ruang dan waktu aktualnya. Inilah transendensi nilai dari spesialitas hitoris yang membangun komunikasi antara suatu anak zaman lainnya, sehingga bahasa manusia senantiasa sinambung dalam sekian proses perubahannya sesuai dengan perkembangan. Artinya, tugu maupun monumen merupakan simbol visual dari ajakan utuk mereferensi sejarah.

Namun jika sentuhan kesadaran dan nilai universal tidak menjadi sandarannya maka transendensi tersebut tak pernah bisa terjangkau. Tugu akan tetap hadir dalam imanensinya. Dan itu berarti bahwa fakta-fakta dalam suatu peristiwa tidak berhasil mengatisi zamannya. Fakta-fakta tersebut tinggallah rangkaian cerita masa lalu saja. Dalam hal ini, tugu dam monumen terjerumus pada kedudukan sebagai cindramata dan bangunan nostalgis belaka bagi sekelompok orang yang dipandang sebagai pelaku sejarah. Sayangnya, justru kecenderungan itulah yang tampak pada fenomena 'inflasi tugu'.

Ini mungkin sekali terjadi pada masyarakat yang kultur kekuasaan tradisionalnya masih kuat. Dalam kultur kekeuasaan tradisional, secara statik sejarah dipandang sebagai rentetan peristiwa-peristiwa masa lalu tentang kekalahan dan kemenangan suatu kekuatan dan kekuasaan, yang pada gilirannya dijadikan alat legitimasi kekuasaannya dimasa kini dan masa depan. Sehingga seminim apa pun kandungan kesadaran dan nilai universal di dalamnya, suatu peristiwa yang mungkin dirasionalisasikan untuk melegitimasi kekuasaan, cenderung ditugukan. Dan bukankkah tugu, monumen dan prasasti merupakan prestise politik dalam kultur kekuasaan tradisional?

Prestise politis dan nostalgis tersebut, yang merupakan faktor terpenting dalam mengkondisikan inflasi tugu, justru menjauhkan kedudukan tugu sebagai simbol visual dari ajakan untuk mereferensi masa lalu dalam kehidupan aktual masa kini. Sebab kerja mereferensi merupakan kegiatan untuk melihat ketegangan antara tradisi dan perubahan sehingga kegiatan tersebut bersifat dan frogresif. Kedua sifat tersebut menjadi substansi yang lumpuh ditengah-tengah inflasi tugu. Pretensi politis dan nostalgis, yang terkandung dalam inflasi tugu, membimbing kesadaran ke arah pemihakan terhadap masa lalu dengan orientasi parenialistis; yakni, masa lalu secara mutlak dan pasti menjadi prinsip aksiomatis bagi masa depan sekaligus. Kondisi sejarah aktual, yang inhenren mengandung perubahan, dipungkiri.

Hal itu mendorong terputusnya ikatan alami dengan masa lalu. Dalam hal ini, masa lalu menjadi obyek belaka, dan tak lagi mampu 'bicara' kepada orang pada masa kini bagi hari esoknya. Ini berarti orang tengah digiring menuju ke punahan kesadaran historis. Padahal kesadaran historislah, jika digunakan secara tepat, kesadaran akan masa lalu memberi wawasan yang lebih bebas terhadap masa kini dan membesar tanggung jawab kita terhadap masa depan. Boleh jadi fenomena inflasi tugu secara imflisit setara dengan apa yang di sebut filsuf Nietzsche sebagai " cita rasa historis yang tanpa batas yang secara logis cenderung ektrem, akan membunuh masa depan". Oleh karenanya, sesungguhnya apatisme terhadap masa silam yang berjangkit di sebagian masyarakat tak dapat dengan serta merta ditudung dengan akibat kekhilapan mentalitas masyarakat itu sendiri.

Bukan itu saja, pada sisi lain, inflasi tugu mengingatkan kita kepada 'inflasi poster Bung Besar' dalam novel George Orwell yang berjudul 1984. Hal ini bisa dilihat, selain pada jenis tugu bersejarah, terutama pada tugu program; yakni tugu-tugu yang dibangun untuk mensosialisasi program (pemerintah) tertentu, yang belakangan ini menjamur di setiap pelosok kota maupun desa dan mempunyai andil cukup besar dalam mempertinggi kuantitas tugu.

Dalam novel Orweel, dilukiskan betapa setiap pojok ruang tak pernah luput dari tempelan Bung Besar (tokoh diktator dalam novel tersebut) dengan ukuran yang besar pula, seakan-akan atau memang demikian, setiap warga masyarakat tak luput dari pengawasan. Selain lewat poster-poster raksasa, Bung Besar mengawasi warganya dengan teknologi canggih yang dikuasai oleh negara; sehingga bagi masyarakat barat yang tingkat indrustrinya telah maju, novel Orwell itu mendorong pikiran tentang ancaman tegnologi terhadap kebebasan manusia.

Bagi kita, sebelum sampai menariknya ke fenomina kehidupan teknologis yang belum lama berjalan, ada baiknya mangaitkan 1984 kepada inflasi tugu yang sudah jelas-jelas terlihat. Setidaknya peran poster raksasa Bung Besar dalam 1984 analog dengan berbagai tugu program maupun tugu sejarah yang berserakan disana-sini. Keduanya sama-sama mensosialisasi gagasan pusat kekuasaan ke setiap kepala warga masyarakat dengan metode 'pagar betis' yang daya kerjanya mirip dengan brain wasbing.

Ungkapan di atas mungkin dikira terlalu berlebihan. Namun ternyata tidak demikian apabila melihat hasil kerjanya yang didukung oleh praktek-praktek lain dalam kehidupan politik. Masyarakat, mulai dari pidato orang dalam acara sambung rasa sampai penyanyi dan pelawak, sudah terbiasa mengucapkan,"Kami akan menyukseskan program pemerintah" atau "Yah, itung-itung ikut menyukseskan program pemerintah". Ucapan yang tampak sederhana dan biasa-bisa saja ini sesungguhnya mengungkapkan besarnya invasi negara dalam kesadaran personal warga negara, dan fallacy (sesat pikir) dalam logika praktek demokrasi.

Dari paparan di atas tampak bahwa fenomena inflasi tugu menyangkut implikasi kultural yang tak sempit, dan menjadi pertanda mengenai beberapa persoalan kultural yang harus segera diantisipasi. Dua diantaranya adalah, pertama, kesadaran historis masyarakat terancam lumpuh; kedua, pilihan sadar masyarakat berada pada wilayah yang kurang memadai sebagai akibat invasi negara yang tak remeh terhadap kesadaran personal warganya. Dan tentu saja tak boleh dilupakan ucapan sang warga desa, seperti telah dikutip di awal tulisan, bahwa terdapat kebutuhan-kebutuhan pragmatis terentu yang sebenarnya dirasakan lebih mendesak untuk dipenuhi ketimbang pembangunan tugu-tugu.

Lumpuhnya kesadaran historis mencuatnya kesukaran dalam memetakan perkembangan dalam kebudayaan yang selama ini berlangsung. Seperti yang telah dirasakan, saat ini betapa sulit membaca kebudayaan kita dalam keutuhannya; yang jelas terbaca adalah bahwa kebudayaan kita tak lebih seperti sebingkai mosaik; terputus satu sama lain meskipun dalam satu bingkai. Dengan demikian kontradiksi-kontradiksi, ambivalensi dan bahkan hipokrisi yang berlangsung dalam proses kebudayaan selama ini sukar dijelaskan, dan tak membuahkan suatu dialektika yang kreatif.

Hal ini menyulitkan kita untuk merancang strategi kebudayaan yang tepat. Di tengah globalisasi dan semesta perubahan yang berlangsung , akan sulit untuk membedakan antara reaktivitas dan kreativitas tanpa suatau kesadaran historis yang jelas. Terlebih dalam kurang memadainya wilayah pilihan sadar masyarakat, kreativitas pun kurang leluasa berkembang.

Persoalan tersebut agaknya menuntut suatu praktek deregurasi mental secara menyeluruh; yang tentunya diimbangi oleh deregurasi yang bersifat struktural. Bukankah harapan kita yang selama ini selalu diomong-omongkan adalah kebudayaan yang terbuka bagi kreativitas yang progresif?

Saya kira, tak ada ruginya meninggalkan hobi membangun tugu maupun monumen dengan sembrono di antara sekian hobi kita lainnya. Setidaknnya, dengan demikian, kita tak akan terlalu payah untuk menjawab pertayaan, "Benarkah kita bertetangga dengan Obelix dan Bung Besar?" ***

(Tulisan ini dimuat di BERNAS Kamis, 18 JULI 1991)