SEKARANG hari apa? Jika sekarang Rabu, tentu Denok alias Dwi Salamah Widayatinah sedang dirubung banyak orang. Bukankah setiap Rabu malam banyak orang berharap cemas dengan nomor undian SDSB? Dan bukankah Denok - bocah kecil asal Yogya -- itu diyakini mampu memberikan nomor buntut, atau setidaknya, kode SDSB?

Tak tahu persis, apakah Denok punya andil juga dalam membobol milyaran rupiah dari bandar SDSB, sehingga frekuensi penarikan undian tersebut ditambah, seperti yang diisukan belakangan ini. Yang pasti, dikabarkan oleh koran ini, banyak orang dewasa meminta nomor atau menantikan kode buntutu dari Denok. Dengan irrasional mereka menduga dan menafsirkan gerak tangan dan jemari Denok sebagai kode nomor bunutut.

Sepintas, fenomina tersebut memperlihatkan seakan-akan para orang dewasa disubordinasikan oleh bocah kecil. Asalkan kecipratan rezeki buntut, para pecandu SDSB begitu patuh dan menurut pada apapun yang dilakukan dan diminta si bocah. Seperti halnya banyak orang tua merasa diperbudak oleh permintaan dan tuntutan dari putra-putrinya yang masih bocah.

Namun kenyataan justru terbalik. Denok, misalnya, merupakan contoh konkret yang menunjukan betapa masyarakat secara luas dan terang-terangan telah merampas dari dunianya sendiri. Boleh jadi di luar kesadaran orang dewasa, secara prematur Denok telah dipaksa untuk berhadapan dengan wilayah persoalan orang dewasa: irrasionalisme publik, poltik kebudayaan SDSB, kemiskinan, keserakahan mateiral, dan hipokrisi masyarakat.

Denok tidak sendiri. Masih ada 'denok-denok' lain. Ia berkawan dengan penjaja koran, penyemir, pengemis, pengamen di jalanan dan buruh pabrik yang juga tergolong bocah, dengan upah yang cukup rendah.

Tidak itu saja, wilayah ekspresi para bocah pun mulai tercemar. Ambil contoh pentas hiburan anak-anak di TVRI setiap minggu siang. Pada acara tersebut tampak bahwa bahasa ujaran, gaya, perilaku, dandanan bahkan ekspresi si bocah di atas panggung sebisa mungkin diarahkan mirip aktris panggung dewasa.

Kenyataan ini sangat memprihatinkan. Para bocah terancam kehilangan dunianya yang lugu, sederhana, ceria, damai,penuh imajinasi, bebas, dan serba ingin tahu secara alami. Proses mereka menuju tingkat kehidupan dewasa terancam tidak mulus dan wajar.

Rekayasa kultural semacam itu hanya menimbulkan revolusi mental yang membuat para bocah terlampau cepat memasuki wilayah orang dewasa tanpa kematangan jiwa. Produknya adalah mereka yang pada gilirannya menjadi generasi yang serba gamang, resah dan rapuh sebab meraka teralienasi dari dunianya sendiri. Pada kondisi demikian boleh jadi jangan terlalu berharap akan kemunculan kemandirian dan kebebasan yang menjadi modal bagi kreativitas.

Hal tersebut tervisualisasi dengan baik pada film Kindergarten Cop (KC). Sekelompok bocah di sebuah kelas taman kanak-kanak tiba-tiba kehilangan nafsu bermain dan belajarnya setelah tokoh Kimble dalam film itu (yang diperankan cukup menarik oleh Arnold Schwarzenegger) mencoba menghentikan 'keriangan' mereka dengan bentakan keras. Bagi tokoh Kimble, seorang polisi yang menyamar sebagai guru taman kanak-kanak,'keriangan' murid-muridnya ditafsirkan sebagai 'keributan'; dan tentu, keributan adalah musuh dari polisi.

Seperti yang dilakukan Kimble, terdapat kecenderungan pada orang dewasan untuk merancukan dan menyamakan dunia kanak-kanak dengan dunia orang dewasa. Inilah kirannya faktor terpenting yang memungkinkan para bocah kehilangan dunianya sendiri. Sementara terdapat perbedaan antara dunia kanak-kanak dengan orang dewasa dalam mempersepsi dan melogikakan realitas, kekhilafan atas perbedaan tersebut membuka pintu bagi masuknya sikap otoriter orang dewasa terhadap para bocah dengan kadar yang keterlaluan. Oleh karenanya pula orang dewasa terlalu sering menganggap sah unutk menghadapkan para bocah dengan kekerasan fisik maupun rohani, mentalitas maupun struktural.

Ada pula orang dewasa yang tidak terlalu ekstrem menyamakan dunianya dengan dunia kanak-kanak. Melainkan mereka memandang bahwa dalam rangka pendidikan sosial, para bocah patut mendapat 'introduksi' mengenai wilayah orang dewasa dengan langsung menghadapkan para bocah dengan dunia orang dewasa sejak dini. Pandangan inilah yang selama ini membuat orang dewasa tak merasa berdosa melihat para bocahnya secara perlahan dan pasti meninggalkan level kehidupannya yang alami bukan pada waktu yang tepat.

Bahkan bukan hanya orang dewasa, para bocah yang terengut masa kanak-kanaknya merasa kehilangan apa-apa dengan kondisinya yang ada saat ini. Terbentuknya sikap demikian pada para bocah (terutama dalam kasus para bocah yang turut mencari nafkah tambahan) dilandasi oleh moralitas yang secara kultural masih dipandang berkedudukan tinggi, yakni moralitas bakti. Berkombinasi dengan pandangan kontaminasi dunia kanak-kanak dengan orang dewasa di atas, moralitas bakti membutuhkan ideologi palsu di kalangan para bocah bahwa dengan mengambil alih kewajiban orang dewasa maka para bocah mencapai tingkat moral yang cukup tinggi.

Dengan dalih moralitas bakti itu pula banyak orang dewasa berhasil menyembunyikan faktor struktural pada isu ini. Denok tentu tidak paham mengapa banyak orang keranjingan SDSB dan mengapa undian tiu digelar di negri ini sehingga setiap menjelang rabu ia 'harus' berpropesi seperti orang dukun. Setidaknya-mengerti para bocah buruh pabrik dan pemungut rezeki jalanan tentang kemiskinan para orang tuanya. Muramnya nasib 'denok-denok' ini merupakan produk langsung dari impotensi orang dewasa dalam mengatasi persoalan struktur hidupnnya. Para bocah memang merupakan obyek kompensasi sosial yang paling aman karena mereka serba takberdaya.

Namun demikian situasi ini justru lebih genting. Perlawanan para bocah zaman ini justru akan berlangsung di masa depan lewat konsekuensi perkembangan kejiwaanya yang telah tercacat. Membiarkan mereka kehilangan dunianya sama halnya dengan mengulangi sikap awal tokoh Kimble dalam KC yang berkata " Apa susahnya mengatasi anak-anak usia 6 tahun?" Namun beberapa saat kemudian Kimble harus kelabakan menghadapi mereka. Ia telah mengabaikan asumsi terpenitng bahwa para bocah mempunyai dunianya sendiri yang khas. Meninggalkan sumsi itu sesungguhnya berarti mengingkari historitas manusia: perkembangan tahap demi tahap. Dengan memperhatikan asumsi tersebut juga kita telah mendorong para bocah untuk berani menemukan, memilih, dan menciptakan bagi dirinya sendiri yang akan melatihnya unutk selalu secara kritis menuntut kualitas. Dengan jalan itu selera dan pikirannya terbentuk dan sejara etik mereka terbiasa dengan pilihan-sadarnya.

Implikasi pada sisi pendidikan secara metodis menuntut upaya pelurusan cara memperkenalkan wilayah hidup orang dewasa beserta tugas-tugasnya, nilai-nilai maupun berbagai moralitas sosial. Dalam pada itu, yang bisa dilakukan hanya mencapai tahap membuat simulasi yang kontekstual dengan dunia kanak-kanak, tanpa sama sekali berpretensi menerjunkannya secara langsung di dunia orang dewasa yang lebih komplek. Dengan cara demikian tokoh Kimble toh juga mampu memberikan pemahaman tentang makna keterlibatan dan kedisiplinan tanpa merusak kedamaian dan keceriaan para bocah.

Di sisi lain, pada dataran filosofis, kesemuaannya itu mempertanyakan pijakan konsep manusia yang selama ini dipegang oleh mayoritas umat manusia. Hal itu sehubungan dengan upaya substansi upaya perumusan dan penjabaran konsep manusia yang selama ini berpijak pada Manusia yang terdapat dalam dunia orang dewasa, dan menyisihkan Manusia-nya dunia kanak-kanak. Sehingga dalam setiap rancangan strategi kebudayaan, posisi para bocah selalu berada pada 'dalam kurung', yang artinya bahwa para bocah dan dunianya boleh-boleh saja disubstitusikan dengan dunia orang dewasa.

Sampai saat ini oleh karenanya, sangat sukar untuk membaca paradaban dunia kanak-kanak; sebab sejarah peradaban umat manusia yang dicatat hanyalah sejarah perdaban orang dewasa. Sama sukarnya untuk menemukan, misalnya, sebuah museum khusus untuk anak-anak yang berisi boneka dan mainan dari berbagai budaya bangsa dan kurun waktu, seperti yang diusulkan pematung Argentina bernama Alicia Penalba.

Sebenarnya dengan memberikan perhatian yang layak kepada para bocah, orang dewasa telah memulai membangun kepercayaan terhadap masa depan yang baik. Tak ada kata lain: Biarkan denok-denok bermain!

(Bernas, 5 AGUSTUS 1991)