AGAKNYA kita harus berani mengatakan, David Lynch itu orang yang ngedan. Setidaknya, itu terlihat dalam film Wild At Heart (WAH) yang disutradainya. WAH mengaduk-ngaduk emosi penontonnya, sampai-sampai boleh jadi setiap penonton juga tertulari wild at heart (terjemahannya menjadi "liar dihati" agaknnya terlalu leksikal).

Kenapa tidak? Hampir semua tokoh WAH bertemperamen liar: Salior, pemuda liar yang mengagungkan kepribadian dan kebebasan yang disimbolkan lewat jaket ularnya; Lalu, pacar sailor yang juga berimajinasi liar dalam segala hal; Marietta, ibu lula yang mempunyai kecurigaan liar terhadap Sailor sehingga berhasrat menghabisinya; Santos, pacar gelap Marietta juga mempunyai dorongan membunuh yang liar.

Bukan itu saja. Lynch menyajikan gambar-gambar yang tak kalah mengerikan dan liar, dengan tempo peralihan gambar yang cepat dan mencekam seakan-akan bagi Lynch kenyataan-kenyataan hidup itu liar; datang dan perginya pun secara liar, sehingga agak sukar mencari jalinannya dengan segera. "Dunia itu wild at heart ," katanya lewat mulut Lula. Dan bagi Lynch -- ini luar biasa -- jika seseorang benar-benar wild at heart maka "akan berjuang untuk mencapai cita-citanya". WAH menampilkan sisi anarkis hidup ini dengan cara penyajian yang agak anarkis pula.

Sayang sekali Lynch tak hadir di Yogya pada minggu keempat september lalu. Jika ia hadir, selain bisa menyaksikan premiere filmnya di Yogya, maka ia pun dapat menyaksikan keliaran dan anarki (setidaknya, begitulah secara implisit dicap) berlangsung dalam suatu simposium; bukan di Cape Fear,atau dijalan raya menuju Big Tuna, maupun di hotel New Orleans. Mereka yang wild at symposium itu pun bukan koboi seperti Sailor atau janda binal macam Marietta, melainkan bebrapa mahaisiswa Indonesia yang mewakili kampusnya masing-masing.

Oleh karena predikat pelakunya itu pula wild at symposium tersebut mengundang berbagai reaksi. Bagaimanapun, simposium merupakan forum ilmiah dan sejak dua dasa warsa lalu republik ini berniat mencitra mahasiswa yang jauh dari kesan liar dan anarkis; melainkan yang akademis, santun, rasional, tertib dan berpikir sistenaris. Oleh karenanya walk out yang dilakukan beberapa peserta Simposium Nasional Mahasiswa Indonesia 1991 akibat absensi beberapa menteri dan pembacaan puisi sarkastis oleh seorang pesertanya di depan seorang menteri, tergolong aib.

Kebanyakan tanggapan atas kericuhan tersebut dilakukan seperti cara menonton WAH. Keliaran dan anarki dinaggap muncul dari ide-ide ngedan yang lepas dari konteks. Benar bahwa beberapa pengamat, seperti halnya Mutrofin ( Bernas, 28/9/91), mendekatinya dari konteks tata terbit dan santun akdemis sehingga kericuhan itu dianggap cermin dari suatu krisis moral dalam budaya moral dalam bahaya akademis kalangan mahasiswa. Namun ukuran tersebut kiranya terlalu miskin untuk dapat ikut menghayati, memahami dan menganalis tindak-tanduk mahasiswa sebagai kaum muda yang menjadi bagian masyarakat dalam kondisi tertentu. Oleh karenanya mengutuk wildness mahasiswa di simposium itu kurang membantu menjernihkan persoalan.

Kiranya tak terlalu salah untuk sedikit belajar dari Lynch. Seliar apapun kenyataan ini pandang Lynch, begitu berhasil mengendapkan letupan emosi sehabis menonton WAH kita tahu bahwa Lynch masih menyisakan ruang kualitas dalam melihat wildness. Keliaran bermula dari kegelisahan yang terbangun oleh beberapa pengalaman traumatik yang tertimbun pada bawah - sadar. Keliaran Lula berawal dari kegelisahannya akan pengalaman traumatik perkosaan dirinya oleh sang paman dan pembunuhan ayahnya; sementara keliaran Sailor juga bisa ditelusuri dari riwayat hidupnya, yang ternyata sudah yatim piatu saat balita. Lalu, dimanakah pangkal keliaran para mahasiswa?

Walk out yang dilakukan peserta simposium itu boleh jadi berpangkal pada suatu pengalaman traumatik atas kemacetan komunikasi politik dalam birokrasi saat ini. Mereka tampak mengalami ketidakpercayaan yang akut terhadap birokrasi. Oleh karena itu di mata mahasiswa, komunikasi langsung dengan pucuk-pucuk pengambil keputusan merupakan jalan yang dapat menyelamatkannya dari gig-gigi trauma yang boleh jadi akan merobek-robek dirinya.

Terdapat dua hal yang dapat dipetik dari fenomena ini. Pertama, tercermin kerinduan akan suatu dialog vertikal yang tulus, tanpa distorsi dan tepat pada sasaran. Juga sekaligus memperlihatkan kerinduan akan seorang bapak yang bisa mengenal dan memahami persoalan serta aspirasi anak-anaknya. Oleh karenanya, hal yang sama dapar diartikan sebagai pengakuan atas adanya pemusatan kekuasaan pada kantong-kantong politik tertentu. Dalam konteks ini tampak bahwa mahasiswa tidak melakukan budaya-tanding (counter culture), dengan mempercayai dan memberikan dorongan kepercayaan diri kepada ranting kekuasaan yang lebih bawah.

Kedua, menunjukan suatu keinginan yang kuat untuk membalikkan posisi sosial politik mahasiswa. Mereka menginginkan kesejajaran dengan kalangan profesional yang saat ini lebih strategis dan terkesan lebih diperhatikan oleh para menteri (Bernas, 25/9/91). Inilah pembalikan posisi, sebab selama ini posisi sosial politik mahasiswa boleh jadi telah melorot sejajar dengan posisi siswa SMA.

Di samping itu semua, wild at symposium menggaris bawahi ketidakpercayaan mahasiswa terhadap efektivitas komunikasi sosial politik lewat bahasa akademis, dan mempertanyakan peran kampus dalam persoalan-persoalam sosial politik. Itulah kiranya yang terselip di balik pembacaan puisi sarkastik, selain sebagai cermin dari kemuakan kaum muda terhadap bahasa yang eufemistis. Boleh jadi ini berkait dengan kenyataan bahasa ilmiah sering terkesan bertele-tele, berbelit-belit dan alot unutk dicerna. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa tak sedikit oknum dalam birokrasi agak segan berhadapan dengan uraian-uraian ilmiah dari suatu penelitian sosial, misalnya, karena terlalu dipenuhi tabel dan teori.

Ini berarti tamparan yang keras bagi para pendidik dikampus. Dalam hal ini terkesan bahwa kampus masih gagal dalam menginternalisasi budaya ilmiah kepada penghuninya (mahasiswa). Dan dalam kaca mata kebijaksanaan pendidikan dua dekade lalu, hal ini menunjukan tak bersisanya kebijaksanaan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK).

Konon menurut gagasan besarnya, salah satu tujuan utama NKK adalah mengarahkan para penghuni kampus untuk menjadi manusia penganalis. Namun ternyata yang dominan adalah 'ekses'-nya, yakni depolitisasi mahasiswa. Ironis, memang, bahwa yang terjadi adalah suatu dialektika negatif dengan hasil: mahasiswa yang tak peduli urusan sosial politik dan tak menjunjung budaya ilmiah.

Hal ini disebabkan oleh kemacetan pengembangan infrastrukutr maupun sistem pendidikan secara keseluruhan pada prakteknya. Sampai tahun lalu, misalnya, masih ada pengelola perpustakaan kampus yang mengeluh belum adanya anggaran tetap untuk perpustakaannya, sehingga wajar jika pihak penerbit menklaim bahwa dari 80 milyar omzet penerbitan, hanya 5% berasal dari perpustakaan (Mutiara, III/6/90). Padahal buku merupakan salah satu tiang utama bagi terbangunnya manusia penganalis. Oleh karenanya ,wajar pula jika sampai saat ini kampus masih gagal memberikan kepercayaan diri kepada mahasiswa bahwa peran dunia ilmiah sebenarnya sangat potensial bagi perkembangan sosial.

Pemaparan di atas hanyalah sedikit segi yang bisa di petik dari kericuhan wild at symposium. Kalaupun masih bersikeras untuk memandang peristiwa itu sebagai cerminan dari krisis moral dalam budaya ilmiah (akademis), selayaknya ditempatkan secara tepat. Suatu krisis sebaiknnya tidak dilihat sebagai kemunduran kualitas berdasarkan level yang pernah ada, melainkan sebagai indikasi adanya situasi yang mempertanyakan -ulang kontekstualitas nilai dan fakta, kenyataan normatif dan kenyataan struktural. Dengan demikian, wild at symposium menyangkut urusan di luar pagar kampus juga.

Setidaknya dengan krisis ini (kalau memang ada) dunia keilmuan pautut mempertanyakan posisi dirinya, dan segera berbenah diri. Sebab agaknya tema zaman ini mulai memperlihatkan pemihakkan terhadap pentingnya pisau analisis ilmiah. Sungguh saya membiarkan para penghuni kampus terjebak kedalam anarkisme, yang oleh Benjamin R Barber disebut sebagai gerakan imajinasi yang solipstik dan pertama-tama hanya mengunjungi nilai estetika.

Tapi entahlah. Tulisan ini sekadar opini dari seorang penonton film yang masih menaruh harapan kepada kaum muda dan dunia ilmu.

(Bernas, RABU, 2 OKTOBER 1991)