Sefiktif dan seimajiner apapun isi ceritanya dan bagaimanapun kualitasnya, sebuah film selalu membuka pintu bagi siapapun yang ingin mengintip satu dua ruas kenyataan dalam masyarakat yang menjadi latar kisahnya. Dalam film "Mustika Pemikat", misalnya, kita dapat melihat gambaran betapa kepercayaan dan praktek mistik magis masih sangat dipercaya dan terus berlangsung dalam masyarakat. Lewat film ini pula tergambar bahwa praktek mistik magis bukan saja merupakan urusan masyarakat ndeso yang belum terjamah modernitas, melainkan juga warga kota elit lengkap dengan perabot atribut dan gaya hidup modernnya.

Fenomena demikian agaknya bukan sekedar isapan jempol. Barangkali, misalnya, belum terlalu usang untuk mengingat pernyataan Mendaori Rudini di Riau 1988 bahwa banyak aparat pemerintah yang masih menggunakan jasa dukun untuk menghadapi kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah. Sungguh sukar dibantah bahwa praktek mistik magis merupakan warisan budaya yang paling mampu bertahan dalam masyarakat sampai saat ini.

Memang hal ini tidak semata-mata menimpa kebudayaan kita, namun juga pada kelompok budaya manapun. Maklum, seperti kata Cassirer, "Magi kehilangan dasar hidupnya melalui proses yang lamban". Permakluman seperti itu membuat praktek mistik magis dianggap sebagai sesuatu yang lumrah, bahkan berhasil memalingkan wajah kita dari persoalan implikatifnya.

Sebagai sebuah kenyataan dalam cakrawala hidup, keberadaan daya-daya gaib -dengan atau tanpa mistik magis- tak bisa ditampik. Namun itu tidak berarti harus melupakan dampak-dampak yang muncul dari penggunaannya secara sosial. Kita tentu masih ingat betapa repotnya seorang ibu dari Gunungkidul menghadapi tuduhan bahwa ia memelihara tuyul yang menggerogoti uang tetangganya (Bernas, 15/8/91). Nasib si ibu ini masih terhitung baik karena ia 'hanya' merasa tercemar nama baiknya. Ia tidak mengalami nasib yang lebih buruk seperti yang menimpa orang-orang yang dituduh sebagai dukun teluh/santet dengan berujung pada pembunuhan yang sadis.

Persoalannya pun lebih dari sekedar menyangkut etika maupun ketepatgunaan mistik magis bagi masa kini. Sehingga jika mencoba berikhtiar untuk mengelola daya-daya gaib untuk kepentingan yang sesuai dengan tema zaman seperti yang dilontarkan oleh seorang anggota DPR pada suatu public hearing Januari 1973, sebetulnya sangat tergesa-gesa dan reaktif. Persoalannya menjadi lebih luas lagi karena kepercayaan dan praktek mistik magis melibatkan watak penalaran dan kodrat sosial tertentu dalam pusat kendali kesadaran dan tindakan manusia sebagai pelaku kebudayaan, sehingga sekaligus membentuk corak kebudayaan tertentu.

Mistik Vs Ilmu

Kata "mistik", menurut de Jong, seperti juga kata "misteri" berasal dari kata kerja Yunani "mu-ein" yang mempunyai dua arti. Arti pertama adalah menutup mata dan mulut, dan arti kedua adalah mengantarkan seseorang ke dalam suatu rahasia lewat upacara. Pada awal penggunaannya di Barat pada abad ke-5 kata "mystical" menunjukkan suatu corak teologi yang hanya mengindahkan pendekatan yang melampaui akal dan pengalaman manusia. Pada pendekatan etimologis ini tampak bahwa mistik tak akrab dengan corak berpikir analitis akali yang menjadi watak ilmu pengetahuan.

Benar bahwa ada pakar kebudayaan yang memandang mistik magis sebagai benih-benih aktivitas teoritis dan ilmiah yang muncul dari rasa heran manusia. Namun pada magi, rasa heran tersebut tidak mampu menyingkap sebab-musabab yang sesungguhnya, bahkan menjebak orang untuk puas dengan sebab-musabab khayali. Pengetahuan dalam arti yang dipahami zaman sekarang, tak mampu dicapai lewat magi. Kalaupun belakangan terdapat upaya-upaya yang sukses dalam memerikan secara ilmiah fenomena daya-daya gaib maka pada saat bersamaan hal tersebut telah menjadi kenyataan ilmiah di luar magi.

Sampai langkah ini saja sudah dapat teraba potensi konfrontasi antara watak penalaran mistik magis dengan trend zaman sekarang yang berpihak pada corak berpikir analitis akali. Terlebih lagi karena ternyata telah terjadi pembalikan teori Malinowski yang menyebutkan bahwa magi hanya beraksi kalau pengetahuan gagal, menjadi bahwa berkembangnya magi telah menghambat perkembangan ilmu pengetahuan.

Ilustrasi mengenai hal tersebut sangat jelas pada isu Perang Santet yang berkembang di Bangka beberapa waktu lalu (Tempo, 25/5/91). Isu ini bermula dari berjangkitnya wabah aneh dengan simpton bahwa si penderita suka meracau, kejang-kejang, pendarahan dan tak jarang diakhiri dengan kematian. Dengan kepercayaan kepada mistik magis masyarakat setempat menafsirkannya sebagai hasil dari perang santet antar dukun. Padahal menurut Kepala Puskesmas setempat, penyakit tersebut merupakan wabah malaria.

Dalam hal ini, sekali lagi, kepercayaan dan praktek-praktek mistik magis secara luas menghindarkan orang dari telaah akali, yang menjadi salah satu corak kebudayaan umat manusia kini dan esok. Persoalannya bukan terletak pada bagaimana kebudayaan kita bisa beriringan dengan trend kebudayaan dunia belaka. Melainkan bahwa sampai saat ini terbukti ilmu pengetahuan masih sanggup memberikan konstribusinya yang besar kepada kebudayaan dan peradaban umat manusia.

Watak berpikir akali dalam ilmu pengetahuan telah memungkinkan manusia untuk melakukan petualangan dan penjelajahan dalam semesta kehidupan sambil terus menerus membuka wawasan baru pengalamannya. Cahaya akal mempunyai watak kritis, evaluatif dan selalu disertai dengan semangat menisbikan batas-batas kemampuan manusia sehingga sejarah kebudayaan dan peradaban manusia selalu ditandai dengan terbukanya hubungan-hubungan baru. Watak ilmu pengetahuan adalah memahami dan mengelola fakta-fakta lama maupun fakta-fakta baru yang ditemukan, karena cahaya akal menolak setiap kekuatan yang mencoba meresap diri manusia kedalam alam semesta.

Jarak antara manusia dan alam semesta tersebut sama sekali tak dapat ditemukan pada watak penalaran mistik magis. Dalam mistik magis, manusia lebur kedalam alam semesta. Tinggallah dua kemungkinan dalam hal ini, yakni manusia menyerap atau diserap oleh daya-daya alam. Dalam pada itu kebudayaan kemudian digiring kepada etika yang mengunggulkan sikap dan tindakan menguasai. Konsep kekuasaan dalam mistik magis memiliki corak yang berbeda dengan pemahamannnya dalam ilmu pengetahuan. Ignas Kleden melihat magi sebagai bersifat estetis, namun kiranya lebih tepat memahaminya -termasuk soal kekuasaan- sebagai bersifat emotif. Hal ini tampak pada persepsi dan praktek-prakteknya, seperti ditulis Cassirer, "Hanya jika mengalami ketegangan emosional yang luar biasa, maka manusia mencari bantuan pada upacara magis".

Walhasil, kepercayaan dan praktek mistik magis secara luas dalam masyrakat memoles corak emosional yang dominan dalam kebudayaannnya. Tantangan-tantangan dalam kebudayaan yang didominasi emosi terletak pada kualitas dan kuantitas dari kreativitas dan juga pada komunikasi dan kodrat sosial. Ini tidak berati bahwa ketika kepercayaan dan praktek mistik magis lebih besar dari saat ini kebudayaan manusia tidak memiliki daya-daya kreatif sama sekali. Bukan begitu.Kalaupun kreativitas lahir dalam kebudayaan yang emosional maka ia mempunyai batas-batas tertentu. Dalam kebudayaan yang emosional kreativitas hanya akan muncul sejauh berhubungan dan menuju sesuatu yang primordial. Begitu keluar dari wilayah-wilayah primordial, kreativitas tersebut seakan-akan mengalami aborsi.Berikutnya, kreativitas pada kebudayaan emosional gaya mistik magis dicirikan dengan kekeruhan. Dalam arti bahwa pada rea~ivitas jenis ini sangat sukar untuk membedakan antara invensi dan luapan kesedihan, kegembiraan, kecemasan, kenyamanan, kemarahan, keheranan, maupun innoncence. Kalaupun berhasil dipilah diantara keduanya, namun akan tetap ditemukan kesukaran dalam memetakan pola hubungan timbal-baliknya.

Contoh menarik dari perilaku sosial yang berhulu pada kebudayaan emosional adalah kasus tabloid Monitor, baik pada saat kejayaannya maupun keambrukannya. Siapapun sukar menyangkal bahwa pada masa jayanya tabloid Monitor merupakan salah satu produk pers nasional yang cukup diminati banyak orang. Dalam fenomena ini sukar sekali memilah antara terpuaskannya emosi pembaca dengan invensi para koki tabloid tersebut dalam meracik konsep jurnalisme Lher-nya yang tergolong baru untuk ukuran pers kita. Begitu pula sebaliknya ketika histeria umat menandai keamburakannya, sungguh sukar mencari garis pemisah antara emosi primordial dan kebencian terhadap pornografi dengan keinginan membangun konsep jurnalisme yang sehat dalam pers nasional. Betapapun, barulah belakangan banyak orang tersadar bahwa pencabutan SIUPP Monitor merupakan kemunduran dalam kehidupan pers nasional yang dipetik dari kekeruhan emosi massa.

Komunikasi dan Kodrat Sosial

Barangkali memang harus dicatat bahwa kepercayaan dan praktek mistik magis secara hakiki bercorak sosial. Sangat jarang atau bahkan tak ada mistik magis yang sejak awal keberangkatannya bercorak individual atau personal. Dan justru pada coraknya itulah muncul beberapa kerepotan sosial.

Kerepotan ini muncul, pertama-tama, dengan asumsi bahwa masyarakat saat ini semakin heterogen dalam berbagai hal. Sehingga dalam komunikasi sosial perlu suatu kesamaan bahasa yang mengatasi segala macam perbedaan, sebuah epistemologi sosial untuk merumuskan kenyataan obyektif. Dalam masyarakat modern hal tersebut ditunjukkan lewat kenyataan obyektif yang empirik dan akali. Dan kepercayaan dan praktek mistik magis tak bisa memenuhinya, karena watak penalarannya yang mengatasi akal dan pengalaman sehingga realitas pun nisbi secara subyektif.

Dengan demikian praduga-praduga sosial pun menjadi sukar dijernihkan. Bayangkanlah, betapa sulit pengadilan meng-iya-kan atau menolak tuduhan bahwa seseorang memelihara tuyul untuk mengeruk harta tetangganya jika, misalnya, kasus tuyul di Gunungkidul sempat naik ke pengadilan (Bernas, 15/8/91). Dan bukankah praduga-praduga sosial itu pula yang mengantar banyak orang yang dituduh dukun santet/teluh ke liang lahat, dan sekaligus menyeret warga kampung yang membunuhnya ke penjara dengan dakwaan melakukan tindak kriminal yang oleh mereka dianggap tindak kebajikan ?

Kesulitan lain, disamping dalam komunikasi sosial, terletak pada kodrat sosial yang diimplikasikan oleh kepercayaan dan praktek mistik magis. Implikasi sosial mistik magis adalah bahwa masyarakat tersusun dalam hirarki yang kekal. Instansi guru maupun dukun dalam praktek mistik magis adalah sosok sentral yang tertinggi dan tak terbantahkan, karena dialah satu-satu instansi yang terdekat dengan kekuatan supranatural. Sosok mereka analog dengan sosok 'orang yang tahu' dalam konsep politik Socrates, yang diklaim paling berhak memerintah dan wajib ditaati.

Dari sini sudah teraba betapa kepercayaan dan praktek mistik magis membuka jalan kepada kehidupan politik yang antidemokrasi secarq halus. Kenyataan-kenyataan supranatural yang diklaim hanya bisa didekati lewat kemampuan gaib para gurua dan dukun menjadi alat untuk melegitimasi kekuasannya yang mutlak. Disadari atau tidak, para klien dan murid mereka kehilangan 'hak suara'-nya.

Benar bahwa dalam diskursus mengenai mistik magis selalu dibedakan antara magi hitam dan magi putih. Artinya terdapat jenis praktek mistik magis yang dipandang masih bermanfaat. Dalih inilah yang juga sering membuat kita masih permisif bahkan ikut mempertahankannya.

Namun demikian sejak awal tulisan ini yang menjadi persoalan bukanlah manfaat dan tidaknya praktek mistik magis. Melainkan bahwa kepercayaan dan praktek mistik magis mempunyai logika dan kodrat kultural tertentu. Dan sampai pemaparan di atas terlihat bahwa hal tersebut dapat menjadi ganjalan bagi perjalanan menuju kebudayaan nasional esok yang lebih baik.

Pendidikan dan Demokratisasi

Betapapun, arah kebudayaan esok menantang bangsa ini untuk mampu bersaing dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dan menunutut upaya humanisasi seluruh pelaku kebudayaan, yakni seluruh umat manusia. Dalam arti, kebudayaan esok bercirikan nilai-nilai dan struktur yang memungkinkan orang untuk mengumbar kreativitas secara merdeka untuk menyeimbangkan perkembangan lahir dan batinnya. Orientasi kebudayaan esok mengacu kepada penemuan-penemuan baru -lahir maupun batin- untuk membuat kehidupan umat manusia lebih nyaman, bukan kepada penguasaan antar manusia.

Kreativitas yang jernih menjadi kata kunci dalam kebudayaan esok.|Bangsa-bangsa yang kehilangan daya kreatif yang jernih karena mabuk oleh daya-daya gaib yang mistik, agaknya akan tergilas oleh putran roda sejarah kebudayaan masa depan. 'Tergilas' yang dimaksud disini adalah bahwa negara mereka hanya akan menjadi musium-hidup.

Oleh karenanya beberapa upaya memperkenalkan kebudayaan modern yang telah dilakukan selama ini patut mendapat dukungan dari sektor lain. Kiranya tak cukup hanya memeperkenalkan masyrakat dengan cerobong-cerobong asap, gedung-gedung kaca, komputer atau antena parabola. Yang terpenting agaknya adalah memalingkan muka masyarakat dari katup-katup mistik magis.Setidaknya terdapat dua hal yang mendorong orang membuka katup-katup mistik magis. Pertama, katup mistik magis terbuka pada saat orang tidak mempunyai referensi lain untuk membuka rahasia kehidupan. Dalam hal ini pendidikan ilmiah menjadi sangat penting untuk moncegahnya.

Namun pendidikan ilmiah harus dipandang sebagai syarat awal saja, yang tidak menjamin eliminasi terhadap mistik magis secara menyeluruh. Selama materinya masih membuat masyarakat terasing dari persoalannya yang nyata, pendidikan hanya menjadi gengsi tanpa mampu menjadi kacamata yang dapat menerangkan realitas. Jika manusia mulai sumpek dengan sampah ilmu pengetahuan maka mistik merupakan tempat persembunyian yang baik.

Dan lebih penting dari itu adalah mencegah munculnya frustrasi sosial yang ditimbulkan oleh tidak berfungsi serta berkembangnya berbagai institusi sosial, dan macetnya partisipasi sosial. Lagi-lagi, frustasi sosial pun menyulut masyarakat untuk meminjam kekuasaan lewat daya-daya gaib dalam praktek mistik magis demi meluruskan emosinya. Ketika kekuasaan yang timpang tak bisa dijelaskan maupun dibenahi secara tulus maka manusia pun tergoda untuk bermain kekuasaan sosial imajiner lewat daya-daya gaib.

Secara hakiki setiap orang menuntut kekuasaan, yang dengan itu ia mengekspresikan jati dirinya sebagai pelaku kebudayaan. Dalam arti bahwa setiap orang menuntut pengakuan atas kemampuannya dalam kehidupan sosial yang terimplementasi dari terbukanya kesempatan bagi partisipasi. Dengan demikian, masih adakah soal lain yang lebih mendesak selain keterbukaan dan demokratisasi?

(Berita Nasinal, 21 - 22 Oktober 1991)