Banyak orang saat ini rupanya telah mempunyai ungkapan yang serba-guna, yang dapat dipergunakan untuk keperluan apapun: untuk menjawab, mengomentari atau menjelaskan berbagai hal. "Siapa dulu dong bapaknya", itulah ungkapan populer yang belakangan ini banyak diucapkan orang. Ungkapan populer ini dengan mudah dapat terdengar dimanapun, kapanpun, untuk apapun dan oleh siapapun. "Siapa dulu dong bapaknya" memang bukan satu-satunya ungkapan yang sedang populer saat ini. Masih ada puluhan (mungkin ratusan) ungkapan populer di tengah masyarakat kita. Pasangan bagi ungkapan-ungkapan populer ini adalah istilah-istilah populer. Fenomena ini telah berlangsung lama dalam kebudayaan. Tentu belum luput dari ingatan, misalnya, pada tahun 70-an banyak orang tergila-gila dengan istilah 'asoy' dan ungkapan 'mana tahan'.

Realitas Kekerasan dan Kesuraman Hidup

Kata-kata yang dipakai sebagai istilah maupun ungkapan populer sebenarnya bukanlah kata-kata baru dalam khasanah bahasa yang ada di bumi Nusantara. Bahkan kebanyakan kata-kata itu hanya dikutip dari apa yang mereka dengar atau baca dalam hidup seharihari. Namun terdapat garis yang jelas, yang dapat membeda-kan dua tipe sumber pengutipannya dengan nuansa realitas masing-masing.

"Disesuaikan", "diamankan", "ceka","gebuk", "mbalelo", "jer basuki mawa bea" adalah beberapa contoh tipe pertama istilah dan ungkapan populer; yakni tipe yang sumber pengutipannya adalah ucapan-ucapan para petinggi kekuasaan. Lazimnya, pada mulanya kata-kata tersebut tak lebih dari eufemisme para petinggi dalam menjelaskan atau menegaskan suatu kebijaksanaan (policy).

Sedangkan tipe kedua adalah istilah dan ungkapan populer yang diambil dari khasanah bahasa lisan masyarakat sendiri; seperti istilah 'memble', 'amburadul', 'cuek', 'asoy', 'ngetrend', 'mejeng' atau ungkapan 'mana tahan', 'ST (sok tahu)', 'TST (tahu sama tahu)', 'ndak tentu, ' nih ye', 'siapa dulu dong bapaknya', 'mabuk lagi, ah!'. Contoh-contoh diatas bisa saja dikutip dari iklan, syair lagu, dialek daerah, maupun folklore.

Yang terpenting dari pembedaan ini justru nuansa realitas yang dikandung oleh masing-masing tipe. Tentu saja, yang dimaksud dengan nuansa realitas dalam hal ini bukanlah makna denotatif dari setiap kata. Bukankah lebih sering sia-sia saja untuk mencerna kata secara denotatif di dalam masyarakat yang terlalu menyukai kiasan dan eufemisme ?

Nuansa-nuansa realitas yang dimaksud di sini merujuk kepada konteks psikososial. Dengan demikian tampak bahwa tipe pertama istilah dan ungkapan populer -yang dikutip dari para petinggi- cenderung menunjukan nuansa realitas kekerasan dan penekanan. Sedangkan pada tipe kedua, yang tampak adalah nuansa realitas kesuraman, keporakporandaan, kemonolitikan hidup dan eskapisme.

Persoalannya kemudian, mengapa masyarakat seakan-akan hanya mempopulerkan istilah dan ungkapan populer yang memuat realitas tertentu saja ? Kenapa masyarakat mempopulerkan kutipan 'mbalelo' dan 'cekal', dan justru sama sekali tidak menggubris ungkapan 'mandiri' (yang lebih sering muncul sebagai slogan seperti 'KB mandiri' atau 'kerja mandiri') ?. Kenapa masyarakat terlatahlatah dengan ungkapan iklan 'siapa dulu dong bapaknya', dan tidak menjadikan iklan 'enteng tapi berisi', misalnya, sebagai ungkapan populer ?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong kita kepada asumsi bahwa masyarakat mempunyai mekanisme seleksi tersendiri untuk menentukan apakah sebuah atau serangkaian kata layak dipopulerkan sebagai istilah dan ungkapan. Lebih jauh lagi, mekanisme ini pun pada akhirnya juga menyeleksi realitas-realitas tertentu.

Realitas yang Rutin dan Akut

Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih mudah terjawab dengan mengamati fenomena timbul tenggelamnya sebuah istilah maupun ungkapan. Ambil contoh ungkapan 'merdeka atau mati' dan 'siapa dulu dong bapaknya'. Kedua ungkapan itu punya nasib berbeda.

Ungkapan 'merdeka atau mati' pernah populer semasa revolusi dulu. Realitas yang termuat dalam ungkapan tersebut adalah kemerdekaan serta kedaulatan bangsa (realitas normatif) dan penjajahan (realitas struktural). Baik realitas normatif maupun realitas struktural ungkapan itu sangat dekat dengan wilayah kesadaran banyak orang pada masa revolusi. Dan keduanya merupakan problematika yang akut bagi mereka.

Sehingga wajar 'merdeka atau mati' sangat populer pada saat itu. Namun ungkapan ini pun tenggelam ketika persoalan kemerdekaan dan penjajahan bangsa tidak lagi menjadi problematika mereka yang akut, serta jauh dari kesadaran mereka karena kedudukannya telah digantikan persoalan lain.

Tidak demikian halnya dengan ungkapan 'apa dikira punya bapak moyangnya ?' yang sekurangnya sempat populer sampai tahun 70-an. Saat ini ungkapan tersebut tak lagi terdengar, namun mengalami metamorfosis menjadi 'siapa dulu dong bapaknya'. Kedua ungkapan ini mempunyai sentuhan emosi yang berbeda namun menunjuk kepada realitas yang sama, yakni nepotisme.

Metamorfosis ini -yang berarti banyak orang menerima 'siapa dulu dong bapaknya' sebagai ungkapan populer- terjadi karena fakta bahwa nepotisme sampai saat ini masih merupakan realitas yang sangat dekat dan rutin dengan wilayah keasadaran banyak orang dan menjadi persoalan yang akut. Setidaknya, banyak orang di warung-warung kecil berseloroh, "siapa dulu dong bapaknya" ketika mereka -maaf, ngrasani persoalan BPPC yang hangat belakangan ini.

Dengan demikian tampak jelas bahwa istilah dan ungkapan populer, pada satu sisi, menjadi media masyarakat untuk menunjukan persoalan sosial budayanya yang telah akut dan karatan. Pada sisi lain, juga merupakan cara mereka untuk menghadirkan kembali beberapa endapan realitas yang tersimpan dalam cadangan pengetahuan sosialnya.

Setelah melewati proses penghadiran-ulang ini, endapan-endapan pengalaman dan ke-nyataan tersebut hadir secara berbeda dan lebih istimewa dari sebelumnya. Sebab, bagaimanapun, proses tersebut memungkinkan peningkatan intensionalitas masyarakat dalam menghadapinya.

Peningkataan intensionalitas ini pada gilirannya memberikan kesempatan kepada si subyek untuk mengambil jarak terhadap kenyataan yang tampil kembali itu sehingga memungkinkan ia untuk mengevaluasinya. Penghadiran-ulang beberapa realitas lewat istilah dan ungkapan populer, dengan demikian sekaligus berarti mempertanyakan-ulang atau bahkan menggugatnya

Dengan mengucapkan "mabuk lagi, ah!" (yang ternyata berkembang menjadi "PHK lagi" ketika musim PHK tiba bulan-bulan lalu atau menjadi "Gus Dur lagi" saat menjelang berlangsungnya rapat akbar NU baru-baru ini), misalnya, banyak orang beranjak dari sekedar mempertanyakan kembali menjadi menolak berbagai kenyataan monolitik; sebagai cermin dari kerinduannya atas keragaman, pembaharuan, dan kreativitas.

Keputusasaan Kultural.

Bahasa sebenarnya mampu berbuat lebih banyak lagi. Pengalaman kaum Sofis Athena menunjukan bahwa kata dapat ditugaskan untuk mendorong orang agar bertindak. Namun hal itu, pada prakteknya, tak bisa berlangsung dalam masyarakat kita saat ini. Ungkapan dan istilah popler hanya berhenti sebagai media kritik sosial. Bahkan seringkali justru berbalik ke situasi yang fatal.

Pertama-tama, situasi ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat untuk memandang bahasa sebagai urusan semantis belaka; bahasa hanya menjadi wadah ingatan mengenai kenyataan alami, pengalaman, dan media ekspresi emosional. Hal ini diperparah lagi oleh kenyataan bahwa retorika sipil ternyata lebih lemah dalam menghadapi retorika negara, sebagai konsekuensi logis dari dominasi negara dalam kebudayaan. Merujuk kepada pengalaman Athena, bagaimanapun, retorika sipil tak bisa efektif tanpa iklim demokrasi.

Dalam kondisi demikian, bahasa yang memuat gagasan apapun tak mampu menjembatani manusia kepada tindakannya yang konkrit dan praktis, bagaikan firman Tuhan tanpa Jibril (hanya manusia setangguh Nabi Musa saja yang mampu menerimanya). Kritik sosial yang terkandung dalam istilah dan ungkapan populer jadi tinggal kritik saja. Bahkan, tanpa dibarengi tindakan, kritik yang dilontarkan berkali-kali cenderung berubah menjadi proses internalisasi dengan tanpa disadari.

Itulah nasib yang menimpa masyarkat kita. Ungkapan dan istilah populer, yang boleh jadi pada mulanya dimaksudkan sebagai bentuk kritik sosial, berbalik menjadi internalisasi realitas yang dikandungnya. Dengan cara itu realitas kekerasan, penekanan, keporakporandaan, kesuraman, kemonolitikan, dan eskapisme secara perlahan diterima oleh masyarakat sebagai kenyataan yang wajar.

Kalaupun Anda sempat mendengar seorang tetangga mengucapkan "memble aje" dengan nada sumbang, maka sesungguhnya yang Anda dengar bukanlah kritiknya terhadap kenyataan sosial yang semerawut. Namun sebenarnya ia tengah merintih, mengucapkan solilokui keputusaasaan kulturalnya.

Masih akan muncul lagikah istilah dan ungkapan populer lainnya? Istilah lagi, ah! ***

(Esai ini dimuat di Harian Bernas, 20 Maret 1992)