Orang Bajau --suku pengelana samudera yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Maluku dan Flores-- sedang bingung. Sementara mereka dikepung oleh persoalan ekonomi dan kebudayaan yang muncul dari praktik-praktik kebijakan yang sentralistis, orang-orang yang hidup di leppa (perahu kecil yang menjadi tempat tinggal, alat mencari nafkah dan transportasi) ini pun agaknya sedang gamang berada dalam pijakan nilainya sendiri.

Ekonomi mereka terdesak oleh kekuatan-kekuatan modal besar dan perusakan ekologi lautan yang dilakukan oleh "orang darat". Sebagai nelayan yang dirundung persoalan ini, mereka disodori beberapa "orang darat" untuk membinanya. Secara kultural, mereka dikesankan sebagai "masyarakat terasing". Dan oleh karenanya mereka pernah diupayakan untuk dimukimkan di darat dan bahkan diarahkan menjadi "orang darat", menjadi petani.

''Orang darat tahu apa soal Bajau? Mereka kirim orang untuk melatih nelayan Bajau, tapi mereka tidak lebih tahu soal laut dan ikan daripada orang Bajau sendiri. Mereka bikin pemukiman untuk orang Bajau di darat, tapi sejak kapan ikan laut bisa hidup di air tawar?'' kata seorang Bajau dalam sebuah obrolan santai di Museum Nasional Jakarta, ketika mereka diperkenalkan kepada "orang darat" bulan-bulan lalu.

Rupanya mereka terlanjur percaya bahwa setiap kelompok kultural dalam masyarakat punya ruang hidup kebudayaan yang khas dan patut dihargai. Dengan kata lain, mereka menentang sentralisasi kebudayaan dan menantang para pengambil keputusan untuk menyandarkan diri pada demokratisasi kultural dalam menyusun berbagai kebijakan. Ini sebenarnya boleh jadi bukan melulu keyakinan orang Bajau, tapi juga orang Sasak, mBojo, Asmat, Kajang, Bali, Sunda, Jawa dan sebagainya. Pandangan itu pun bukan cuma dipercayai oleh indigenous people melainkan juga oleh kalangan LSM, cendekiawan, ilmuwan, mahasiswa, wartawan, pedagang asongan dan juga politikus.

Wajar bahwa sentralisasi kebudayaan pada saat ini telah sangat disangsikan. Setidaknya, sentralisasi kultural telah terbukti gagal mewujudkan janji-janjinya untuk secara linear meningkatkan kebudayaan dan peradaban manusia. Pola-pola kebijakan kultural yang sentralistis telah gagal untuk mengakui dan mengakomodasikan kebinekaan manusia beserta seluruh sistem nilainya lewat demokratisasi kebudayaan.

Pada tahun lalu, kesangsian banyak orang terhadap sentralisasi kebudayaan boleh jadi mendapat dukungan kuat lewat kampanye internasional dari berbagai sisi mengenai desentralisasi dan relativisme kebudayaan. Sejalan dengan pencanangan tahun 1993 sebagai Native People Year, dalam rangkaian kegiatannya tahun lalu kalangan LSM internasional mendengungkan hak hidup suku asli yang terdesak oleh pusat-pusat kekuatan modal. Sementara kaum intelektual dilanda demam pengkajian post modernism, yang salah satu tesisnya menekankan kehancuran struktur pemusatan nilai --dan pengakuan pada satuan-satuan kecil yang hidup dan nisbi. Kampanye-kampanye ini, harus diakui, mempunyai pendukung-pendukungnya di negeri ini yang tak kalah seru melanjutkan kampanyenya.

Cuma saja, agaknya kita baru sampai pada tingkat kesangsian saja. Itu pun belum menampakkan wajahnya yang jernih. Ini bukan saja karena kenyataan sosial politik masih memperlihatkan model-model yang sentralistis. Tapi bahkan, pada tingkat kesadaran pun, visi-visi non-sentralistis yang muncul pun masih terkesan gagap, terbata-bata dan keruh. Bahkan tak jarang harapan-harapan dan penyelesaian bagi persoalan nyata pun masih merujuk serta menyandarkan diri pada sentralisme yang justru disangsikan.

Untuk menjawab persoalan yang dihadapinya, seorang Bajau --contohnya-- meminta, ''Cobalah kami diorganisir. Dengan cara itu hidup kami lebih baik.'' Permintaan ini agak ganjil, sebab bukankah jika meyakini hak hidup kebudayaan yang khas maka organisasi pun tak bisa "dipanggil" begitu saja dari rumusan-rumusan kebudayaan umum secara generalistis?

Orang Bajau tampak bingung dengan dirinya sendiri. Dan dalam masyarakat kita sekarang sesungguhnya sangat banyak "orang-orang bajau" dengan wajah yang macam-macam: bertampang mahasiswa, LSM, partai politik, intelektual dan cendekiawan, dan sebagainya.

Boleh jadi kebingungan-kebingungan ini mengisyaratkan bahwa pada praktek hidup keseharian sebenarnya sentralisasi kebudayaan belum benar-benar tercuci bersih dari kesadaran kultural kita, meskipun kita menyangsikannya. Bagaimanapun, lewat tekanan struktural yang cukup ketat, sentralisme kebudayaan telah mengcengkeram dengan kuat. Ia bahkan telah menjadi benalu yang rimbun dalam kesadaran.

Dari situlah muncul tahayul-tahayul politik bahwa kekuasaan dipersonifikasikan secara tunggal dan menjadi ukuran mutlak kebenaran, kebaikan serta keindahan. Sudah bisa ditebak, tahayul-tahayul ini hanya melahirkan ketakutan, disorientasi, halusinasi, dan mimpi-mimpi.

Dengan gampang orang takut mencari alternatif bagi patron-patron kultural yang justru disangsikannya sendiri. Orang mengalami disorientasi ketika melakukan penilaian etis. Di dataran kerja pragmatis --misalnya-- orang berharap mendapat anugerah kolusi, padahal dalam pernyataan moral sosialnya justru dicaci. Dalam mekanisme kerja apa pun yang sentralistis, memang hanya kolusilah yang mampu memberikan keuntungan material kepada para pelakunya.

Tahayul itu pula yang membuat orang mengalami halusinasi dalam memberi makna perannya. Para petani, misalnya, merasa menjadi partisipan heroik yang berjasa besar bagi lancarnya mekanisme pasar dan menangguk keuntungan yang besar dari mekanisme ini. Padahal petani bermodal kecil itu sebenarnya justru memasok keuntungan berlebih, yang semestinya dinikmatinya, kepada para retailer yang bermodal besar di supermarket-supermarket.

Tahayul-tahayul politik yang menjadi istri sah dari kebudayaan yang sentralistis bahkan mampu membelokkan mimpi-mimpi mereka yang anti-sentralisme kultural sekalipun. Tahukah Anda, apa yang diimpikan orang Bajau? Di tengah kredo "ilmu Bajau setinggi langit, sedalam samudra", dengan bangga seorang Bajau berkata, ''Sebenarnya bukan tak mungkin pada tahun 3000 orang Bajau punya video dan telvisi, punya mobil dan pesawat terbang. Bahkan bukan tak mungkin kamilah yang pertama kali sampai di antariksa.'' Kenapa pengelana lautan seperti suku Bajau memimpikan pesawat terbang? Kalau memang mau mencitrakan capaian material, kenapa mereka tidak memimpikan yacht yang lebih dekat dengan watak kebaharian mereka? Mimpi mereka pun rupanya telah dicemari oleh ukuran-ukuran "orang darat" yang saat ini memang mengklaim diri sebagai pusat dan standar capaian kultural dan peradaban.

Barangkali sebenarnya kita mengharapkan pasokan mesiu intelektual untuk lebih bisa memetakan diri dalam kenyataan kultural yang membingungkan ini. Tapi sayang, tak jarang kampanye kaum intelektual untuk menentang sentralisasi kebudayaan justru bukan menambahkan kejernihan wawasan kita. Kaum intelektual, yang lebih sering meminjam gagasan konseptual dari model masyarakat lain, sering gagal memberikan ilustrasi sosiologis yang tepat dan kontekstual dalam kampanyenya. Kampanye mereka lebih hanya memberikan dukungan psikologis untuk menentang kebudayaan yang sentralistis tanpa menyiapkan metodologi sosiologis yang jernih, tuntas, dan sesuai dengan kondisi yang dihadapinya.

Ketika bercermin di awal tahun ini, yang kita dapati barangkali bukan wajah kita sendiri. Siapakah dia? Oedipuskah? Anak yang membenci --bahkan membunuh-- ayahnya justru untuk mempersunting ibunya? Oedipus yang masih tercenung, menduga-duga macam apakah wajah anaknya kelak?

(Tabloid DeTIK, edisi 5 Januari 1994)