“Ketika si kaya mengobarkan peperangan, itulah saatnya si miskin menjemput mautnya” -Jean-Paul Sartre-

Di Jakarta, bagi sebagian orang, hari Sabtu adalah Hartanas: Hari Tawuran Nasional. Di beberapa ruas jalan, tawuran antar pelajar hampir rutin berlangsung setiap Sabtu. Entah apa istimewanya hari Sabtu bagi para petarung berseragam sekolah ini.

Jangan coba-coba menikmatinya sebagai sebuah pertunjukan. Sama sekali tak ada satu sisi pun yang menarik dari pertarungan jalanan macam ini. Yang bisa dilihat hanya muka orang marah, orang berdarah, acungan senjata, batu yang melayang tanpa arah, pecahan kaca kendaraan pribadi dan angkutan umum yang tak bersalah, dan –yang paling memuakkan- terkadang ada anak muda terbunuh sia-sia hanya karena melewati jalan atau menumpang bus yang salah.

Bagi mereka yang tergolong penyuka dan pengamat strategi, tawuran pun tetap saja tak akan bisa dinikmati. Tawuran bukanlah peperangan. Dalam sebuah peperangan, berlaku strategi-strategi untuk bertahan, menyerang dan bersiasat, yang memungkinkan orang menghibur diri sendiri dengan berlagak seperti seorang analis pertandingan sepak bola. Orang mungkin bisa berlagak mampu mengkalkulasi kemungkinan salah satu pihak kalah atau menang dengan mengaitkan berbagai faktor yang terlibat dalamnya: strategi, peralatan militer maupun kemampuan para prajuritnya. Atau, mungkin juga ada orang yang bisa menghibur diri sendiri dengan memberikan dukungan pada salah satu pihak yang terlibat, seolah-olah pihak tersebut mewakili patriotismenya.

Itu tak bisa dinikmati dalam tawuran pelajar. Tawuran pelajar hanya mengenal “melukai” dan “dilukai”; bukan kalah dan menang karena tak ada ukuran yang bisa dipakai untuk menilainya. Tawuran pelajar hanya mengenal “kami” dan “mereka” dalam batasan yang kabur; bukan soal patriotisme karena tak ada urusannya dengan soal kekuasaan –yang mensyaratkan adanya identifikasi musuh beserta kekuatannya secara spesifik. Sebuah peperangan mempunyai etika dan aturan tersendiri, sedangkan tawuran berlangsung tanpa batasan apa-apa

Hal yang serupa juga terjadi pada apa yang disebut-sebut oleh media massa sebagai E-Ganyang, gerakan mengubah wajah depan (deface) situs web berkait dengan isu perbatasan Indonesia dan Malaysia. Tak terlihat ada identifikasi musuh yang jelas dalam penyerangan yang dilakukan oleh kedua belah pihak –baik pengrajin deface Indonesia maupun Malaysia. Pengrajin deface Indonesia mengobrak-abrik apa saja yang berbau Malaysia. Begitu juga sebaliknya. Persis seperti pelajar yang melempar sebongkah batu ke arah bus yang ditumpangi oleh pelajar dari sekolah lain yang menjadi ‘musuhnya’. Dia tak peduli apakah batu itu akan melukai pelajar atau ibu hamil di dalam bus itu, yang tak tahu urusan sebenarnya.

Sejauh yang terlihat dalam pemberitaan media massa, gerakan E-Ganyang tidak memberikan kesan sebagai sebuah gerakan yang punya strategi. Para pengrajin deface dari kedua belah pihak terkesan hanya melakukan penyusupan ke dalam server apa saja yang punya kelemahan sekuriti, tanpa mempedulikan efektivitas serangannya terhadap pengambilan keputusan yang berkait dengan persoalan Ambalat yang menjadi isu utama E-Ganyang. Karena memang bukan sebuah bentuk peperangan, menganalisa strategi E-Ganyang hanya membuang-buang waktu saja.

Bagaimana dengan patriotisme? Bangsa manapun yang pernah terlibat -dan bahkan memenangkan- peperangan tak bisa menghormati serdadu-serdadunya yang merusak rakyat sipil bangsa lain. Patriotisme tak ada sangkut pautnya dengan kebencian terhadap satu ras atau bangsa. Patriotisme lebih berurusan dengan pemihakan kepada kekuasaan yang baik, yang berseberangan dengan kekuasaan yang batil, dengan identifikasi yang jelas terhadap ‘musuh’. Jadi, asal ganyang situs web susah dipahami sebagai bentuk patriotisme.

Mungkin pada awalnya, seperti juga kebanyakan rakyat Indonesia, para pengrajin deface Indonesia merasa tersinggung secara politik dalam isu Ambalat. Semangat patriotismenya terpanggil. Sayangnya, semangat yang wajar dan masuk akal ini kemudian meluruh karena mengambil bentuk yang tidak mengundang tepuk tangan dari pihak manapun: cyber gang fight (tawuran siber).

Ya, tak ada cyber war hari ini maupun hari-hari yang lalu ketika para pengrajin deface Indonesia mempermak wajah situs-situs web Australia pada akhir 2002, seiring dengan isu pengusiran warga Indonesia di Australia. Yang ada adalah cyber gang fight (tawuran siber) saja. Rasanya sayang jika sikap politik yang jelas dari sebuah kelompok masyarakat hanya berujung di sebuah tawuran, yang berisiko memakan korban tak berdosa lebih banyak karena tawuran tak mengenal etika dan aturan.

Ini tidak berarti kita sedang menunggu cyber war yang sesungguhnya. “Politik adalah peperangan tanpa pertumpahan darah, sementara perang adalah politik dengan kucuran darah,” kata Mao Zedong. Kita tentu ingin menjadi bangsa berdaulat dan dihormati tanpa harus mengucurkan darah.

 

*Versi pra-sunting. Dimuat di detikcom