Seorang teman di Arkansas, AS, beberapa hari lalu mengirim pesan lewat email. "Beberapa hari yang lalu ada peringatan dari salah seorang teman yang kebetulan kerja di restauran Cina. Dia diingatkan oleh istri pemilik restauran untuk memperingatkan teman-teman Indonesia agar tidak datang ke restaurannya dulu untuk sementara waktu, sebab suaminya mau bikin perhitungan. Perhitungan apa yang dimaksudnya, aku juga tidak tahu," tulisnya. "Yang jelas," lanjutnya, "sampai sekarang banyak orang Indonesia ketakutan untuk makan di restauran Cina."

Sang teman tidak memberitahu saya siapa pemilik restauran itu. Tapi saya yakin, seyakin-yakinnya, pemilik restauran itu bukanlah Acong yang belakangan ini sering kita lihat di layar TV. Meski mungkin saja pemilik restauran itu bernama Acong juga, tapi pasti dia bukan Acong yang yang sepermainan dengan Joko dan Sitorus. Bukan juga Acong yang mau berbagi ketika Sitorus kehilangan bekal sarapannya. Bukan juga A Cong yang berterimakasih kepada Joko yang meminjaminya raket badminton ketika kayu pemukul shuttle cocknya patah.

Pemilik restauran itu boleh jadi hanya salah seorang dari sekian banyak etnis Cina di dunia yang geram dengan kejadian yang menimpa saudara-saudara seetnisnya di Indonesia dalam kerusuhan Mei lalu. Berapa banyak etnis Cina yang marah? Ah, saya tak bisa membayangkannya.

Betapapun, etnis Cina merupakan etnis terbesar di dunia. Dan yang pasti, demonstrasi-demonstrasi anti penindasan etnis Cina Indonesia terus berlangsung dari hari ke hari di berbagai negara. Terakhir, terdengar seruan untuk melangsungkan demonstrasi besar-besaran di Beijing 17 Agustus ini.

Harus diakui, Internet punya andil besar dalam menggalang solidaritas etnis Cina sedunia atas nasib saudara-saudaranya di Indonesia. Penyebaran informasi, rumor, opini lewat Internet mengenai berbagai hal yang berkait dengan nasib etnis Cina di Indonesia mulai santer pada bulan Maret lalu, pada saat tensi kerusuhan di Indonesia mulai meninggi. Dan puncaknya, beberapa hari setelah kerusuhan Mei. Jumlah akses ke situs Web World Huaren Federation (WHF), misalnya, naik 20 kali lipat sejak kerusuhan Mei meletus. Bahkan server situs Web yang didirikan oleh dua orang etnis Cina asal Kanada dan Selandia Baru ini seringkali kewalahan menampung jumlah pengaksesnya yang semakin tinggi.

Situs-situs Web sejenis yang dikelola oleh etnis Cina Indonesia juga mendapat respon yang luar biasa dari para pengakses Internet sedunia. Sebut saja dua nama situs Web yang populer saat ini: IndoChaos dan Indonesian Huaren Crisis Center (IHCC). Pengelola IHCC mengaku situs Webnya diakses 37 ribu kali dalam sehari. Angka yang luar biasa untuk sebuah situs Web organisasi non-profit. Bandingkanlah dengan situs Web sebuah media hiburan di Indonesia yang diakses 40 ribu kali setiap harinya. Dengan catatan jumlah akses seperti itu, belum lagi jumlah pesan email yang beredar, bukanlah hal yang susah untuk membangun opini dunia mengenai Indonesia dan warganya yang beretnis Cina.

Terlebih, di situs-situs Web jenis ini terdapat sajian yang dapat menggugah emosi pengaksesnya: foto-foto dan kisah-kisah derita etnis Cina di Indonesia. Pernah suatu ketika beredar serangkaian foto yang diaku sebagai foto-foto wanita etnis Cina korban perkosaan dalam kerusuhan Mei. Foto-foto yang menggambarkan seorang wanita yang disiksa oleh sekelompok orang berseragam itu tersebar lewat email dan terpajang di beberapa situs Web. Kesadisan yang tergambar dalam rangkaian foto itu sangat mengerikan, dan dengan mudah menyulut emosi.

Reaksi-reaksi keras dari etnis Cina sedunia bergemuruh di Internet menyusul tersebarnya foto-foto tersebut. Kecaman dan hujatan bertubi-tubi ditujukan kepada pemerintah, pribumi, dan kelompok agama Indonesia. Selama seminggu, saya sendiri termangu-mangu kehilangan nafsu makan sehabis melihat foto-foto itu. Meski belakangan terbukti bahwa foto-foto tersebut sama sekali tidak berkait dengan nasib etnis Cina pada kerusuhan Mei, emosi orang terlanjur meledak dan opini terlanjur terbangun. Kemarahan tak bisa diredakan.

Sebetulnya saya berharap pemerintah memberikan keterangan resmi tentang foto-foto itu untuk memperjelas duduk perkaranya. Meski boleh jadi tidak bersangkut-paut dengan peristiwa Mei, di dalam foto itu tampak sekelompok orang berseragam sehingga bisa-bisa saja orang berpikir, "Ini mungkin bukan foto tentang kerusuhan Mei. Tapi siapa tahu kejadian seperti tergambar di foto itu juga berlangsung selama kerusuhan."

Namun ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Sadar atau tidak, ekses atau bukan, publikasi-publikasi tentang kerusuhan Mei bukan saja telah mampu membangkitkan empati Internasional, tapi juga dengan mudah akan terjebak ke arah membangun kesadaran kebangsaan rasial di kalangan etnis Cina sedunia.

Simptom-simptom ke arah itu dengan mudah dapat ditunjukkan ke beberapa pesan yang terpampang di message board yang ada di beberapa situs Web. Kata "huaren", misalnya, menjadi lebih populer dari sebelumnya. "Huaren" berarti "etnis Cina perantauan". Banyak orang mulai lebih suka menyebut dirinya sebagai Indonesian huaren, Malaysian huaren dan seterusnya. Penyebutan semacam ini memberi kesan kuat pengidentifikasian diri ke kesadaran kebangsaan berdasarkan ras.

Sebuah pesan di message board sebuah situs Web huaren berbunyi, "Remember my chinese brothers and sisters, we are an invisible empire." Di message board yang lain, seorang pengakses menulis, "The Indonesian can still stand today is because the power of Chinese. Without Chinese, the Indonesian are notthing!!!"

Beberapa pengelola situs Web huaren mulai menyadari kecenderungan ke arah sikap chauvinistik ini. Mereka belakangan tak henti-hentinya menyeru sesama huaren untuk meredam emosinya. Mereka tampak bekerja keras untuk meluruskan apa yang mereka mau: pengakuan yang sama terhadap hak asasi etnis manapun. Akankah mereka berhasil? Entahlah. Sepanjang kemarahan dan kekecewaan huaren tetap terpelihara maka boleh jadi sepanjang itu pula risiko ke arah chauvinisme huaren tetaplah ada juga. Dan pelan-pelan, ini bukan lagi hanya urusan Indonesia. Kerusuhan Mei di Indonesia telah menginspirasikan huaren sedunia untuk memonitor perlakuan yang diterima huaren di negara-negara lain. Selain ke Indonesia, mata huaren dunia sedang tertuju ke Malaysia dan Australia.

Ah, saya jadi ingin segera pulang. Kangen pada TV kecil saya. Menyaksikan Acong, Joko dan Sitorus terasa lebih sejuk ketimbang membayangkan demonstrasi-demonstrasi di depan kedutaan-kedutaan besar Indonesia di beberapa negara.

(Adil, 1998)