Asumsi tentang Internet yang paling cantik dan menggoda banyak orang adalah bahwa Internet dapat mendorong masyarakat manusia ke arah demokratisasi. Asumsi ini ditopang oleh kemampuan teknologi Internet yang menipiskan batas antara kreator dan resipien dalam tatar politik informasi. Sumber-sumber informasi tidak lagi harus berada di tangan penguasa pemerintahan atau lembaga-lembaga bisnis media besar.

Sayangnya, cukup banyak individu, organisasi masyarakat sipil maupun organisasi non pemerintah yang tidak optimal memanfaatkan media Internet untuk tujuan-tujuannya, dan gagal mengelola media berbasis Internet. Susah sekali kita menemukan situs web kelompok ini yang masih dikelola. Banyak yang sudah tewas.

Ada yang masih bertahan hidup. Dan banyak diantaranya tidak menarik perhatian untuk dikunjungi karena berbagai alasan: susah diakses, sajiannya tidak menarik untuk dibaca dan dilihat, navigasinya membingungkan, struktur informasinya berantakan.

Dalam kondisi itu, asumsi bahwa Internet dapat mendorong orang ke arah demokratisasi tinggallah melulu asumsi; susah dirasakan dan diwujudkan.

Isu ini pertama-tama berkaitan dengan cara pandang kita terhadap Internet itu sendiri. Kebanyakan diantara kita lebih memandang Internet sebagai melulu atau paling utama sebagai urusan teknologi saja.

Cara pandang ini tidak salah jika dipakai oleh para pengembang teknologi. Namun jika hal ini dipakai oleh para pengguna Internet itu sendiri, maka banyak sekali godaan yang dapat memalingkan kita dari tujuan pengunaan teknologi Internet itu sendiri.

Internet pertama-tama lebih layak diperlakukan sebagai urusan media; sebagai sebuah media baru yang punya karakteristik yang khas. Sehingga sasaran pemanfaatan Internet -secara umum- lebih terarah pada mempertemukan pengirim dan penerima pesan, seperti lazimnya pemanfaatan berbagai media yang telah dikenal sebelum Internet.

Dan teknologi yang berada di belakangnya melulu berfungsi sebagai penyangga jenis komunikasi ini. Teknologi harus tunduk pada tujuan-tujuan komunikasi ini. Tak bisa dibalik.

Pijakan awal pengembangan sebuah media berbasis Internet adalah elaborasi terhadap sebuah pertanyaan primitif: "Beri saya alasan mengapa saya harus mengunjungi media Anda?"

Beberapa orang menganggap pertanyaan ini sangat mudah untuk dijawab. Namun kebanyakan jawaban yang muncul cenderung kabur dan keruh sehingga seringkali tidak cukup dapat membantu untuk merumuskan situs web yang akan kita kembangkan.

Elaborasi atas pertanyaan, "Beri saya alasan mengapa saya harus mengunjungi media Anda?" setidaknya harus menghasilkan rumusan mengenai:

  • Tujuan dan sasaran media
  • Isi dan features yang disediakan
  • Cara mengemas isi dan features
  • Keuntungan dan kelebihan nyata yang dapat dipetik oleh kelompok yang disasar

Pengelola media seharusnya memilih teknologi Internet yang akan dipakai sebagai penyangganya berdasar pada rumusan dan rencana implementasi hal-hal tersebut di atas.

Tidak berhenti di sini. Sekurangnya, ada 3 isu lain yang sering diabaikan oleh pengelola media berbasis Internet.

Pertama, pengelolaan isi (content management). Beberapa perbincangan dengan para pengelola situs web yang gagal menunjukkan bahwa kebanyakan mereka tidak dilengkapi dengan cara untuk mengelola isi secara mudah. Ini membuat updating sajian informasi di situs mereka terhambat karena para pengelola isi, umumnya, tidak terlalu paham seluk beluk teknis meng-online-kan content.

Alat bantu untuk mengelola isi situs web sebaiknya telah dipersiapkan sejak dini. Alat bantu ini harus benar-benar dapat memudahkan siapapun yang tidak terlalu memahami seluk beluk teknis dari teknologi Internet untuk menata, mengelola, dan meng-update isi media.

Kedua, marketing. Pemasaran situs web itu sendiri lebih penting pada tahap awal. Bagaimanapun, Internet adalah rimba raya yang maha luas; dan situs web kita bisa jadi hanyalah gubug kecil dalam peta besar Internet. Barangkali tak seorang pun akan mampir ke gubug kecil itu jika tak ada yang tahu keberadaan dan alamatnya.

Ketiga, pengelolaan komunitas pengakses. Pengelolaan komunitas pengakses harus disasarkan untuk menumbuhkan loyalitas mereka kepada situs web kita.

Pentingnya kehadiran berbagai media berbasis Internet yang dikelola dengan baik oleh kelompok di luar penguasa pemerintahan dan lembaga-lembaga bisnis media besar terletak pada tumbuhnya perimbangan kekuatan dalam politik informasi. Bersamaan dengan itu, proses dekolonisasi pengetahuan pelan-pelan akan berjalan sebagai persemaian masyarakat multikultural yang demokratis.

Dimuat di newsletter akubaca edisi 02 - September 2002, semula tulisan ini adalah sebuah pesan email kepada teman-teman LSM yang sedang mengembangkan media pendidikan lingkungan lewat Internet