"Selagi para hacker menjadi terpolitisasikan dan selagi para aktivis menjadi terkomputerkan, kita akan melihat peningkatan jumlah aktivis-cyber yang masuk ke dalam apa yang akan menjadi lebih dikenal sebagai Pembangkangan Sipil Elektronis (Electronic Civil Disobedience)." Stefan Wray

Akui saja, hacktivisme sudah tumbuh dalam masyarakat kita tanpa gembar gembor. Wujudnya baru muncul hanya jika para hacktivis keluar dari sarangnya. Yakni, pada saat pandangan dan keyakinan mereka terusik; pada saat mereka merasa harus melancarkan protes atau pembangkangan atas "ketidakadilan" dan "ketidak-fair-an" yang menimpa mereka. Dan, tentu saja, "ketidakadilan" dan "ketidak-fair-an" itu dalam versi masing-masing hacktivis.

Penggantian halaman web secara massal (mass defacing) terhadap situs-situs web berdomain Australia adalah kemunculan terbaru (para) hacktivis asal Indonesia. Sebelumnya, tindakan penggantian halaman web (defacing) yang bermotifkan politik oleh para hacktivis juga pernah dilakukan dengan tema yang berbeda.

Dalam isu ini, selain problem-problem etika dan penegakan hukum, kita menghadapi problem tentang cara kita memperlakukan kemunculan hacktivisme di tengah kita. Selama ini opini publik diarahkan untuk memahami bahwa tindakan-tindakan para hacktivis tak lebih dari problem psikologis remaja puber; seposisi dengan tawuran pelajar atau pemakaian narkoba dalam krisis identitas remaja.

Mereka hanya disebut sebagai pengguna kiddie script -program-program sederhana yang biasanya dipakai oleh para pemula- belaka. Mereka hanya disebut sebagai vandalis selayaknya remaja yang membuat grafiti di tembok-tembok sekolah lawannya. Mereka hanya disebut sebagai kelompok anak muda yang menyalurkan energi dan keterampilannya di jalur luar norma sosial. Mereka hanya disebut sebagai orang yang mencari popularitas. Mereka hanya disebut sebagai orang yang bertindak tanpa menyelesaikan masalah.

Mengumbar cara pandang semacam ini secara berlebihan hanya akan membuat kita lupa bahwa tindakan-tindakan para hacktivis merupakan bentuk-bentuk baru komunikasi politik di era cyber dengan karakteristik dan skala-dampak yang baru pula.

Tidaklah penting bahwa beberapa hacktivis hanya menggunakan kiddie script saja, seperti halnya tidak penting untuk menilai bentuk fisik kerikil yang digengggam oleh tangan anak-anak Palestina ketika melawan tentara Israel. Seperti halnya berlangsung dalam segala jenis aktivisme, sasaran pertama komunikasi politik adalah mengekspresikan sikap politik kepada pihak-pihak lain.

Berbeda dengan jenis aktivisme lain, komunikasi politik dalam hacktivisme tidak harus memerlukan proses afiliasi individual ke dalam kelompok-kelompok kepentingan politik secara formal. Hacktivisme dapat dijalankan secara perorangan dengan dampak sama besarnya dengan gerakan yang dijalankan secara bergerombol. Ini tergantung pada tingkat kemampuan dan keterampilan di bidang teknologi dan komunikasi.

Artinya, dapatlah terjadi bahwa sebuah gerakan hacktivisme dilakukan oleh sekian banyak orang yang tidak saling terkait satu sama lain. Itulah sebabnya penumpasan dan penutupan akses terhadap seorang hacktivis adalah upaya yang sia-sia. Karena pada dasarnya para hakctivis adalah konvergensi antara hacker dan aktivis, maka bunyi Hacker Manifesto akan dapat terbukti kebenarannya, "Kau mungkin dapat menghentikan ini secara perorangan, tapi kau tak dapat menghentikan kami semua".

Pada praktek hacktivisme, apa yang disebut sebagai organisasi tidaklah harus merupakan kumpulan individu. Organisasi dapat saja berupa sekumpulan peralatan dan software yang dapat diakses dan di bawah kendali manajemen seorang hacktivis.

Karakteristik lain dari hacktivisme adalah risiko skala-dampaknya yang lebih luas ketimbang bentuk-bentuk aktivisme lainnya. Di tangan para hacktivis, problem lokal dapat berdampak bilateral, atau multilateral, atau bahkan global. Ini adalah buah yang dipetik oleh para hacktivis dari pohon peradaban jaringan teknologi dan komunikasi global: Internet.

Di pohon ini pula kebanyakan para hacktivis dibesarkan -dan bahkan dilahirkan. Mereka berasal dari epistemologi era cyber, "Aku online maka aku tahu". Mereka besar dalam ontologi era cyber, "Aku online maka aku ada".

Hampir sebagian besar pengetahuan mereka didapat dari informasi-informasi yang dibagikan di ladang Internet, dan mengasah keterampilan teknisnya di Internet pula. Sebagai kelompok dari sub-kultur online, mereka menghabiskan banyak waktunya di dunia cyber. Pandangan dan sikap politik merekapun -sadar atau tidak- dipupuk oleh berbagai informasi yang amat deras berseliweran di Internet.

Sayangnya, belum semua pengguna Internet memahami bahwa informasi yang deras mengalir ke komputernya tidaklah selalu berarti informasi yang akurat dan pengetahuan yang sejati. Ketimbang berada dalam surga informasi, kita -para pengguna Internet- lebih sering berada di tengah perang perang propaganda berbagai kelompok kepentingan politik, ekonomi, dan budaya.

Dan perang propaganda di Internet ini dapat mengambil peran penting dalam membentuk hacktivisme. Pemenang dari perang propaganda di Internet akan mampu mendominasi pandangan dan sikap para hacktivis. Dalam kasus mass defacing situs-situs web Australia, di mata para hacktivis tampaknya pemerintah Australia duduk sebagai pecundang dalam perang propaganda isu terrorisme.

Terlepas dari metoda dan padangan politiknya, tindakan mass defacing baru-baru ini bukanlah problem psikologis pubertas sang hacker. Bagi saya, itu adalah ekspresi sikap politik. Entahlah bagi si hacktivisnya sendiri.

 

Dimuat di detikcom 6 Nopember 2002