Ada orang khawatir, kalau usaha perjudian online di wilayah hukum Indonesia dibiarkan maka akan memberi dampak buruk bagi apresiasi masyarakat kita terhadap Internet. Malah dikhawatirkan, kegiatan online yang bertentangan dengan moral formal bangsa ini akan membuat masyarakat kita makin menjaga jarak terhadap Internet.

Saya bukan orang yang percaya pada perjudian. Pertama, karena norma masyarakat maupun agama melarangnya. Kedua, karena hukum di republik ini juga melarangnya. Ketiga, karena perjudian tak bisa memberikan kekayaan yang bertahan lama -apalagi langgeng. Keempat, karena saya tidak berbakat untuk memenangkan taruhan apapun.

Tapi saya tidak cemas. Perjudian online tidak akan memberikan dampak buruk bagi apresiasi kita terhadap Internet. Setiap hari di berbagai media kita lihat iklan-iklan layanan obrolan esek-esek lewat telepon, dan kita tidak pernah anti telepon. Setiap hari sekian banyak orang didatangi para penipu lewat SMS (short messaging system), tapi tidak membuat kita antipati terhadap telepon selular.

Kalau apresiasi masyarakat terhadap Internet saat ini diangap masih rendah, itu lebih berkaitan dengan tiga hal utama. Pertama, harga perangkat komputer beserta sistemnya belum semurah harga handphone. Kedua, biaya bulanan akses Internet belum berada di bawah harga voucher isi ulang pulsa telepon selular pra bayar. Ketiga, ini yang sangat penting, pelayanan dan sajian Internet yang memenuhi kebutuhan masyarakat -dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka- masih sangat sedikit.

Orang enggan menyentuh Internet bukan karena Internet dianggap seperti tong sampah yang isinya melulu barang busuk dan berpenyakit. Internet, ya, seperti bumi kita. Di sebelah sana ada kandungan-kandungan jahat, di sebelah sini ada kandungan-kandungan baik. Dan orang akan merasa nyaman tinggal di bumi ini bukan jika hidup kita steril dari hal-hal buruk. Tapi, jika hal-hal baik lebih banyak ketimbang hal-hal buruk.

Seperti tanah di bumi kita, Internet lapang-lapang saja untuk menerima apapun yang akan menumpang di atasnya. Bahkan teknologi Internet memberi banyak kemudahan bagi siapapun untuk menumbuhkan apapun yang dimauinya di Internet, asal mereka tahu cara memanfaatkannya. Kalau germo memakai Internet, ya jadilah prostitusi online. Kalau bandar judi memakai Internet, ya jadilah judi online. Kalau orang atau lembaga baik-baik memanfaatkan Internet untuk kebaikan juga, maka mungkin jadilah budi online (online wise).

Nah, mana yang kita mau? Judi online ataukah budi online?

Saya khawatir, kita tak bisa menjawab pertanyaan yang tampaknya sangat sederhana itu. Bukan apa-apa, selama ini setiap kali berbicara tentang Internet maka yang muncul ke permukaan selalu saja urusan teknis dan perdagangan software dan hardwarenya.

Lihat saja, kebanyakan media hanya menempatkan wacana tentang Internet di rubrik teknologi, dengan sekian istilah teknis yang belum tentu dimengerti pembacanya. Wacana tentang Internet tak pernah ditempatkan di rubrik-rubrik yang biasanya dijadikan tempat untuk wacana politik, sosial, atau kebudayaan. Tapi, lumayanlah. Paling tidak, meski belum tentu dimengerti, istilah-istilah teknis itu bisa dipakai oleh pembacanya untuk bergaya agar tidak dikira gaptek -gagap teknologi.

Memang ada seminar-seminar tentang peran teknologi Internet untuk pertumbuhan di bidang usaha, misalnya. Tapi dalam kebanyakan seminar jenis ini, para pesertanya lebih merasakan seperti sedang didongengi tentang janji masa depan yang gemilang tapi untouchable! Bahkan mungkin selepas acara macam itu, yang usahanya berpeluang untuk tumbuh adalah para sponsor seminar tersebut. Sementara pesertanya, kalau mau dan mampu, boleh merogoh saku sedalam-dalamnya untuk membangun sistem komputer yang terhubung ke Internet, sambil menunggu nasib baik datang. Tanpa perubahan kultur dan mental kerja, tanpa pengembangan jaringan dan praktek kerja berbasis teknologi Internbet pada skala nasional, maka mengharapkan pertumbuhan usaha dengan sistem yang computerized dan Internet enable bagaikan menunggu keajaiban datang dari kabel.

Barangkali selama ini kita memang tidak pernah melihat Internet beserta kultur di dalamnya sebagai hal yang sangat strategis bagi seluruh kalangan masyarakat kita. Internet hanya digembar-gemborkan sebagai alat kemajuan di berbagai reklame, sambil dipajang di etalase sebagai komoditi bagi mereka yang cukup punya uang dan membutuhkan pergaulan dalam bahasa global. Maka sangat masuk akal bahwa di tengah masyarakat kita yang digaptek-gaptekan, Internet lebih banyak melahirkan priyayi-priyayi baru -yang harus kita hormati agar mereka memberi kita dongeng tentang masa depan.

Di negeri ini Internet belum melahirkan persamaan peluang untuk maju bersama pada skala luas; juga belum mampu merangsang gerakan dekolonialisasi epistemologis Sambil mengukur jumlah uang di saku, kita lebih terpesona dengan software-software dan hardware-hardware baru ketimbang memikirkan dan menyelenggarakan budi online (online wise).

Syukur bahwa masih ada sebagian orang yang jeli untuk mengkritisi penyelenggaraan judi online di wilayah hukum Indonesia. Syukur juga bahwa ada aparat kepolisian kita yang bisa menggulung germo online. Tapi ini saja tentu tak cukup membuktikan bahwa kita telah mengapresiasi Internet sebagai sebuah venue yang strategis.

Kita tidak terlihat cemas menghadapi fakta bahwa belum ada satu pun jujugan (destination) yang tepat di Internet bagi anak-anak kita, anak-anak Indonesia yang berbahasa Indonesia pula. Kita pun tak gelisah melihat Internet tidak dilibatkan dalam praktek pendidikan di sekolah dan kampus. Kita tidak merasa geli, ketika mengakses kebanyakan situs web pemerintah daerah, serasa menonton papan tulis kayu di kantor-kantor kelurahan yang hanya berisikan data demografi penduduk plus foto pak walikota/bupatinya. Kita pun tidak merasa aneh, di tengah kemiskinan kita, tak ada yang bisik-bisik niatan untuk mematok harga komputer, software, dan akses Internet yang lebih terjangkau oleh banyak kalangan.

Selama praktek berinternet belum menjadi bagian penting dari strategi kebudayaan bangsa ini, mungkin kita memang tak boleh berharap banyak. Tapi, omong-omong, apakah kita punya strategi kebudayaan?

(versi pra-sunting, dimuat di Koran Tempo edisi Minggu 8 Pebruari 2004)