Belum lama ini kita mengapresiasi kerja pihak kepolisian dalam menghadapi aksi damai 4 November 2016. Dalam menjaga aksi tersebut, pihak polisi--dan juga tentara--dinilai mampu menjaga keamanan dan menegakkan ketertiban umum secara proporsional.

Namun minggu lalu kabar buruk terdengar dari Sulawesi Tenggara. Kamis (24/11/2016) belasan personel polisi dari satuan Dalmas Polres Muna, Sulawesi Tenggara, menyerbu masuk ke dalam SMKN 2 Raha.

Bukan cuma memasuki halaman, mereka merangsek masuk ke ruangan kelas--yang di dalamnya sedang berlangsung proses belajar. Mereka bahkan memukuli sejumlah siswa. Dua siswa SMKN 2 Raha dilaporkan muntah-muntah karena dipukuli polisi yang menyerbu ke kelas itu.

Hari itu seseorang dari luar pagar sekolah melempar batu ke arah sekolah. Batu itu mengenai salah satu atap sekolah. Tidak terima dengan pelemparan itu, sejumlah siswa balas melempar batu dari dalam sekolah.

Rupanya batu itu mengenai salah satu anggota satuan Dalmas Polres Muna yang sedang melintas berpatroli di depan sekolah. Itulah yang menjadi alasan sejumlah anggota Dalmas Polres Muna menyerbu sekolah.

Kejadian kekerasan oleh pihak polisi serupa ini sering sekali terjadi.

Kompas melaporkan, awal Mei 2014 ratusan anggota polisi Polres Muna mengepung dan melempari Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II Raha. Belasan dari anggota polisi Polres Muna itu bahkan sempat mengeroyok Murjanudin, salah seorang pegawai rutan.

Penyerangan itu dipicu oleh insiden di dalam rutan yang melibatkan seorang polisi yang menjadi tahanan di situ. Karena dendam diantara mereka berdua, seorang narapidana memukuli sang polisi. Kabar itulah yang menyulut penyerangan polisi ke Rutan Kelas II Raha

Kapolda Sulawesi Tenggara waktu itu, Brigjen Pol Arkian Lubis membantah adanya aksi penyerangan. Melainkan, kata Arkian Lubis seperti dikutip Kompas, "Personel kami mau menolong orang yang teraniaya dan kebetulan anggota polisi."

Januari 2016 beberapa orang polisi juga menggeruduk SMK Stella Maris Labuan Bajo. Penyerangan ini bersumber dari urusan pribadi seorang anggota Polres Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur dengan siswa di sekolah itu. Namun penyerangan itu melibatkan sejumlah polisi yang berseragam. Tiga siswa sekolah itu dikabarkan menderita luka serius dalam insiden itu.

Februari 2015 seratusan polisi dari Dit Sabhara Polda Sumatera Utara dilaporkan mengepung dan menyerang kompleks Perumahan Johor City (J City) di Medan. Penyerangan ini bermula dari teguran warga kepada sejumlah polisi yang ngebut ketika melintasi kompleks perumahan itu.

Tak terima dengan teguran itu, terjadilah adu mulut antara polisi dan petugas keamanan kompleks tersebut, yang kemudian bisa didamaikan. Ternyata, belakangan para polisi -beserta kawan-kawannya yang lain- itu balik lagi menyerang kompleks perumahan itu untuk mencari si petugas keamanan. Akibatnya, enam orang mengalami luka-luka dan harus menjalani perawatan.

Brutalitas polisi dalam peristiwa-peristiwa itu sungguh mengkhawatirkan. Di tengah tugasnya untuk mengayomi dan menegakkan ketertiban, masyarakat pasti tidak bisa menerima perilaku agresif polisi yang tidak pada tempatnya. Harus ada upaya yang serius untuk merespons peristiwa-peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh polisi agar tidak terjadi berulang-ulang.

Jika kecenderungan perilaku agresif anggota kepolisian itu lebih sering disebabkan oleh kondisi kesehatan psikologi masing-masing pelaku, tidak berarti bahwa persoalan ini terlepas dari kepolisian sebagai organisasi.

Bagaimanapun, setiap polisi di negeri ini adalah bagian dari organisasi yang bernama Kepolisian Republik Indonesia. Perilaku setiap personil polisi pasti dipengaruhi oleh kultur organisasinya.

Polisi -seperti juga tentara- merupakan petugas negara yang berada di garis depan penegakan ketertiban dan keamanan. Pekerjaan ini sangat melelahkan, penuh ketegangan yang tinggi, dan cenderung selalu berhadap-hadapan dengan situasi agresif.

Oleh karena itu, penting sekali sejak dari fase perekrutan, penyaringan calon polisi haruslah sangat ketat mempertimbangkan kematangan emosional dan kondisi kesehatan psikologi yang optimal -bahkan di atas rata-rata.

Dengan belum redanya kecenderungan perilaku agresif anggotanya, agaknya pihak kepolisian perlu juga mencermati kembali pola pemantauan dan pengelolaan kondisi kesehatan psikologis anggota-anggotanya yang selama ini berlangsung.

Kepolisian harus bisa memastikan dan meyakinkan bahwa anggota-anggotanya yang bertugas di tengah masyarakat mempunyai tingkat kematangan emosional yang bagus untuk mengayomi masyarakat.

Masyarakat juga perlu diyakinkan bahwa pihak kepolisian juga bertindak tegas terhadap anggota-anggotanya yang jelas-jelas melanggar disiplin dan hukum dalam kasus-kasus kekerasan seperti yang terjadi di kota Raha itu. Semua orang harus diperlakukan sama di muka hukum.

Diterbitkan sebagai Editorial Beritagar.id
URL sumber: https://beritagar.id/artikel/editorial/hentikan-perilaku-agresif-polisi