Jurnalisme Urban
Meniadakan Desa

Akui saja bahwa jurnalisme yang sedang berlangsung di tengah kita adalah jurnalisme urban: jurnalisme tentang masyarakat kota, jurnalisme dengan pendekatan selera masyarakat kota, jurnalisme dengan pendekatan perkotaan.

Ini yang membuat kita kehilangan kabar tentang desa beserta dinamikanya. Desa lenyap di peta jurnalisme kota.

Itu akan membuat desa hilang dari ingatan kita. Desa akan tidak menjadi bagian dari pertimbangan di banyak keputusan dan kebijakan.

Sungguh ironis jika desa dikuburkan dengan cara itu pada masa Undang-undang Desa berlaku.

Penangkapan terhadap perempuan calon pelaku bom bunuh diri membuat kita bertanya, seberapa efektifkah upaya deradikalisasi selama ini?

 

Aksi terorisme di Indonesia memang bukan baru terjadi dalam 16 tahun terakhir ini saja. Namun sebelum peristiwa teror bom di Bali 2002, kita mungkin tidak pernah menyangka bahwa ada orang Indonesia secara radikal berani bunuh diri dalam suatu aksi terorisme yang dijalankan di Indonesia pula.

Pada tahun-tahun berikutnya kita juga terhenyak menyaksikan video yang merekam pernyataan pelaku bom bunuh diri sebelum menjalankan aksinya. Semula kita menyangka pemandangan semacam itu hanya akan kita lihat dalam adegan film di layar bioskop atau dalam sebuah berita tentang peperangan di daerah konflik.

Banyak di antara kita juga terkejut dan sedih mendapatkan fakta bahwa salah seorang teroris yang meledakkan diri dalam peristiwa pengeboman di Jakarta pada 2009 adalah seorang remaja. Dani Dwi Permana, nama remaja itu, belum genap berumur 18 tahun ketika meledakkan diri dalam aksi teror tersebut.

Kita kembali terkaget di pengujung 2016 ini. Sabtu 10 Desember 2016 tim Densus 88 menangkap 3 orang yang diduga terlibat dalam rencana aksi terorisme. Satu di antara tiga orang itu adalah perempuan. Dian Yulia Novi, namanya.

Yang mengejutkan kita, bukan semata karena satu di antara tiga terduga teroris itu adalah perempuan. Dian bukanlah perempuan pertama yang ditangkap polisi dalam kasus terkait terorisme.

Kita terkejut karena Dian ternyata adalah perempuan Indonesia pertama yang bersiap menjadi pelaku bom bunuh diri, seperti tersirat dalam surat yang sudah ia tulis dan ditujukan kepada keluarganya. Perempuan radikal berada di antara kita.

Kesediaan Dian untuk menjadi pelaku bom bunuh diri dalam rencana aksi teror tersebut membuat kita bertanya-tanya mengenai upaya deradikalisasi yang dilakukan oleh pemerintah. Seberapa efektifkah deradikalisasi yang selama ini sudah dijalankan?

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), sebagai lembaga yang bertugas melakukan deradikalisasi, seringkali mengusung kisah Ali Imrom dan Umar Patek sebagai bukti sukses deradikalisasi.

Ali Imron adalah terpidana kasus bom Bali 2002, yang belakangan berubah haluan dan mengaku bersalah atas tindakan teror yang yang pernah ia lakukan. Ia sering diminta menjadi pembicara dalam kegiatan deradikalisasi.

Sementara video keterlibatan Umar Patek--juga terpidana terorisme--dalam sebuah upacara bendera di penjara Porong Jawa Timur sering dianggap bukti bahwa ia sudah berubah. Deradikalisasi dianggap sukses mengubah sikap Umar Patek.

Tunggu dulu. Bagaimana dengan Bahrun Naim dan Juhanda?

Bahrun Naim, mantan penjaga warung Internet, pernah ditangkap pada tahun 2011 dalam kasus kepemilikan senjata ilegal. Apakah setelah dipenjara selama tiga tahun Bahrun mengalami deradikalisasi?

Pada 2015 Bahrun bergabung dengan ISIS. Lalu Januari 2016, polisi meyakini, Bahrun mengoordinasikan aksi teror di Jalan Thamrin Jakarta. Bahrun pula yang disebut-sebut melatih secara online para pembuat bom yang akan diledakkan oleh Dian itu.

Juhanda juga tampaknya bukan kisah sukses deradikalisasi. Lelaki ini terlibat dalam aksi bom buku pada tahun 2011. Ia dihukum 3,5 tahun penjara pada 2012. Pada November 2016 teroris yang sering dipanggil Jo ini melemparkan bom molotov ke Gereja Oikumene di Samarinda.

Program yang ditujukan bagi para terpidana terorisme seperti itu barulah satu bentuk deradikalisasi yang diemban oleh BNPT. Bentuk program deradikalisasi yang lain diarahkan ke masyarakat umum. Program yang kedua itu tampaknya jauh lebih sulit ketimbang deradikalisasi yang ditujukan kepada terpidana terorisme.

Dalam kaitannya dengan program deradikalisasi yang diarahkan kepada terpidana terorisme, BNPT mungkin punya kewenangan berkoordinasi dengan Lembaga Pemasyarakatan. Tapi bagaimana dengan deradikalisasi yang diarahkan kepada masyarakat umum?

Masyarakat kita saat ini begitu terbuka untuk mengakses informasi. Lewat Internet, salah satunya.

Sadar atau tidak, ketika memasuki Internet, kita telah menyerahkan diri untuk berada di tengah-tengah perang informasi, berada dalam pertarungan propaganda berbagai pihak; termasuk propaganda para teroris. Keadaan ini membuat upaya deradikalisasi menjadi lebih kompleks.

Di satu sisi kita tidak ingin terpapar oleh paham radikalisme para teroris yang bisa secara terbuka disebarkan lewat Internet. Di sisi lain kita juga tidak ingin kebebasan berpendapat dan mendapatkan informasi yang telah dijamin oleh undang-undang menjadi terluka gara-gara sensor yang berlebihan.

Penangkapan Dian, calon pelaku bom bunuh diri, sebaiknya menjadi momentum bagi semua pemangku kepentingan untuk melihat kembali konsep dan pelaksanaan deradikalisasi.

Dengan keadaan yang kompleks saat ini, jelas akan membuat deradikalisasi menjadi upaya yang membutuhkan tenaga dan konsentrasi yang penuh, serta biaya yang besar. Namun itu tidak bisa menjadi alasan yang menyurutkan tekad untuk menanggulangi terorisme.

Kita adalah masyarakat yang tidak ingin memberi tempat sesempit apa pun kepada teror.

Diterbitkan sebagai Editorial Beritagar.id
URL sumber: https://beritagar.id/artikel/editorial/apa-kabar-deradikalisasi