Para orangtua panik. Desas-desus tentang penculikan anak menyebar massif lewat media sosial. Siapa yang tidak panik kalau terkait urusan anak yang kita sayangi?

Desas-desus tentang penculikan anak itu datang dengan beragam variasi. Tapi ada satu hal yang sama: desas-desus itu menyebut para penculik bisa menyamar sebagai orang gila. Informasi ini menyebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari Majalengka, Karawang, Batang, Kendal, Cilacap, Sidoarjo, Madura, Siantar, Tomohon, dan mungkin ada di kota lain yang tak diberitakan media massa.

Hasilnya, kecemasan dan kepanikan melanda masyarakat. Kita bercuriga ke orang-orang baru yang memasuki lingkungan kita. Terutama, bercuriga kepada siapapun yang tampak seperti orang gila.

Media mencatat sejumlah kasus penganiayaan terhadap orang gila akibat desas-desus itu. Dan celakanya, orang-orang gila itu tak lebih dari korban kabar bohong belaka. Polisi sudah memastikan bahwa desas-desus tentang penculikan anak-anak oleh orang-orang yang menyamar jadi orang gila adalah kabar bohong belaka. Hoax.

Hal semacam ini pernah terjadi lebih dahsyat di masyarakat kita pada 1998. Menyusul peristiwa Mei 1998, di Banyuwangi terjadi peristiwa yang dikenal sebagai pembantaian dukun santet. Namun pada peristiwa itu, yang menjadi korban bukan melulu orang yang disebut-sebut sebagai dukun santet. Pembantaian itu malah cenderung menyasar para kiai dan santri.

Pada masa itu muncullah desas-desus bahwa pelaku pembantaian berpakaian menyerupai ninja, berpakaian serba hitam. Jika ada orang yang dicurigai sebagai pembantai tertangkap, orang itu akan berpura-pura gila. Begitulah desas-desus beredar.

Bahkan beredar juga kabar bahwa di beberapa kota di Jawa Timur muncul banyak orang gila berbaju hitam. Menurut desas-desus itu, orang-orang gila itu bisa merespons apapun yang ditanyakan kepadanya dengan baik, terkecuali jika mereka ditanyai seputar asal-asulnya: mereka langsung bertingkah sebagai orang gila. Itulah yang menimbulkan sangkaan bahwa orang-orang gila terlibat dalam pembantaian.

Dampaknya bisa ditebak. Ketika aksi balas dendam muncul, salah satu kelompok korban adalah orang-orang gila yang kebetulan berkeliaran di luar rumah. Banyak orang gila yang dibantai oleh massa yang sedang marah dan dalam suasana saling curiga saat itu.

Orang Indonesia yang sudah menggunakan surat elektronik (email) pada 1998 hampir bisa dipastikan pernah mendapatkan atau meminta kiriman foto-foto yang merekam pembantaian orang-orang gila pada era itu. Gambar-gambar itu terlihat sadis dan sukar kita terima dalam kondisi waras.

Penganiayaan terhadap orang gila yang terjadi pada Maret 2017 ini, seperti juga pembantaian orang gila pada 1998, menunjukkan bahwa masyarakat kita sedang mengalami histeria massa.

Histeria massa tidaklah berdiri sendiri. Ada kondisi-kondisi yang bisa memicunya. Boleh jadi, di belakang mata curiga kita terhadap orang gila itu, ada situasi yang perlu kita waspadai.

Histeria massa bisa dipicu oleh lima hal.

Pertama, orang bisa termotivasi untuk melompat ke kesimpulan yang tak masuk akal ketika diliputi oleh ketakutan atas ketidakpastian. Penelitian menunjukkan histeria massa yang besar lebih mungkin terjadi pada saat masyarakat merasa berada ketidakpastian dalam hidupnya.

Kedua, stres yang berlebihan juga bisa membelokkan orang ke kesimpulan yang tak masuk akal. Orang cenderung terjebak ke arah delusi ketika berada dalam stres yang parah.

Ketiga, sugesti yang kuat. Bagaimanapun otak manusia sangat mudah menerima saran; apalagi jika saran itu disampaikan dengan sugesti yang kuat.

Keempat, kepanikan cenderung membuat orang berpikir tidak rasional. Dalam keadaan panik, apapun yang diterima oleh otak cenderung masuk ke bawah sadarnya dan berubah menjadi suatu keyakinan.

Kelima, histeria massa juga sering kali memang dimunculkan untuk menarik perhatian. Orang dengan sengaja melibatkan dirinya ke dalam histeria massa agar ada pihak lain yang memberikan perhatian kepada dirinya.

Nah, pertanyaannya, apakah yang sedang terjadi di masyarakat kita saat ini? Ketidakpastian, stres, dan kepanikan apa yang sedang dihadapi oleh masyarakat? Apakah itu semua sungguh dihadapi masyarakat ataukah merupakan buah informasi manipulatif yang sengaja disebarkan dan ditanamkan dalam kesadaran masyarakat kita?

Kita perlu mencari tahu persoalan-persoalan itu. Bukan saja agar tidak terjadi lagi histeria massa yang memakan korban. Melainkan justru karena histeria massa menyangkut kepada diri kita sendiri, bukan saja kepada para korban amuk. Bagaimanapun, kitalah yang menerima informasi--yang ternyata kabar bohong itu; kitalah yang merespons dan menangani informasi itu; dan kita pula yang menentukan tindakan berikutnya.

Sangatlah naif jika kita menganggap kabar bohong tentang penculikan anak oleh orang yang menyamar sebagai orang gila itu hanyalah tindakan pihak-pihak yang semata-mata iseng. Informasi menyesatkan tentang penculikan anak itu sama sekali tidak lucu dan tidak bisa kita terima sebagai tindakan iseng belaka.

Pihak kepolisian harus tetap didorong untuk menemukan pihak-pihak yang dengan sengaja menyebarkan kabar bohong itu. Dengan begitu, motif-motif para penyebar kabar bohong itu bisa terungkap.

Para penyebar kabar bohong tentang penculikan anak itu layak untuk diproses ke meja hijau. Mereka telah menyebarkan kecemasan ke tengah masyarakat. Bukankah upaya untuk membangun kecemasan secara massif itu tergolong sebuah tindakan teror?

Di sisi lain, peristiwa ini juga mengingatkan kita bahwa para gelandangan psikotik--begitulah sebutan orang gila yang berkeliaran di jalan--selama ini belum benar-benar tertangani dengan baik dalam masyarakat kita. Pemerintah daerah harus mempunyai program yang lebih baik bagi mereka.

Orang gila adalah juga manusia, seperti kita. Bedanya, kita mungkin lebih waras ketimbang mereka. Oleh karena lebih waras, sudah seharusnya kita mempunyai perhatian yang lebih baik kepada mereka. Dan sebagai pihak yang waras, seharusnya kitapun bersikap kritis terhadap desas-desus apapun yang mencoba memanipulasi kesadaran kita.

Diterbitkan sebagai Editorial Beritagar.id
URL sumber: https://beritagar.id/artikel/editorial/orang-gila-histeria-massa-dan-kewarasan-kita