Pada eranya, rezim Orde Baru tidak memungkinkan warga negara berpolitik secara terang-terangan dan lantang. Politik, pada era itu, adalah praktik bisik-bisik yang mencekam.

Ketika rezim Orde Baru berakhir, praktik politik dalam masyarakat kita tidak lagi mewujud dalam kediam-diaman. Pada era Reformasi, berkebalikan dengan era sebelumnya, politik adalah praktik yang berisik. Barangkali tidak semencekam pada era Orde Baru, praktik politik bagi kebanyakan awam saat ini lebih terasa menegangkan, menjengkelkan, menggoda amarah dan menyedot banyak energi.

Tidak pernah terjadi pada era Orde Baru, warga negara sebegitu mudah mengekspresikan pendapatnya dalam berbagai unjuk rasa. Tidak pernah terjadi pula pada era itu, warga negara sedemikian terbuka memperlihatkan sikap dan pandangan politiknya di muka umum. Baik itu yang sejalan dengan pihak yang berkuasa, maupun yang sejalan dengan dengan pihak oposisi. Baik itu yang sesuai maupun yang tidak sejalan dengan konstitusi negeri ini.

Warga negara yang tidak punya waktu atau keberanian untuk berkumpul dan turun ke jalan untuk berunjuk rasa, saat ini punya saluran lain yang memberikan keleluasaan untuk mengekspresikan dan menyampaikan sikap dan pandangan politiknya: media sosial. Sekarang, selain menjadi cara membangun jaringan perkawanan, media sosial adalah tempat yang sangat gaduh dengan percakapan dan ekspresi politik warga negara.

Mereka yang berada di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sekarang pun tidak lagi sejinak pada saat rezim Orde Baru berkuasa. Mereka lebih banyak bersuara, memberikan komentar, dan menyampaikan dalih-dalih.

Haruslah diakui, dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 kita menyaksikan fenomena keriuhan politik yang belum pernah kita lihat selama 30 tahun sebelumnya. Warga negara sebegitu aktif terlibat dalam menyampaikan dukungannya kepada kandidat pilihannya.

Meski tidak ditandai dengan benturan fisik, gesekan antar pendukung tak terhindarkan. Berbagai propaganda yang berseliweran selama masa Pilpres 2014 membuat kegaduhan semakin menjadi-jadi, tensi politik meninggi, dan secara emosional banyak menguras energi.

Mungkin ada sejumlah orang mengira, ketika Pilpres 2014 usai maka habis jugalah seluruh ketegangan. Nyatanya, dugaan itu keliru. Kontestasi dalam politik jelas bukanlah sebuah kompetisi olahraga, yang benar-benar usai ketika seseorang memenangkannya. Praktik politik adalah dialektika yang tak mengenal waktu.

Selain itu, dalam setiap peristiwa pemilihan, kontestasi politik bukanlah semata urusan para kandidat dan pendukungnya. Beragam kelompok kepentingan ikut bermain di dalamnya; bahkan juga kelompok yang nyata-nyata tidak punya ikatan apa pun dengan para kandidat yang sedang bertarung.

Peristiwa pemilihan seringkali dipakai sebagai momen untuk berbagai kepentingan di luar urusan pemenangan kandidat. Mulai dari memperkenalkan dan mempromosikan sikap dan pandangan politik, sampai ke urusan menjajal reaksi sosial atas suatu isu. Hal itu turut menyumbang bertahannya ketegangan politik, terutama di level akar rumput, meski Pilpres 2014 sudah usai.

Kita mengalami situasi politik yang gaduh kembali saat menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2017. Terutama sekali, Pilkada DKI Jakarta.

Pilkada Jakarta belum usai. Begitu juga kegaduhannya dan tinggi tensi politiknya.

Kita sudah sepatutnya menyadari, kombinasi antara kegaduhan dan ketegangan politik yang tinggi di akar rumput bisa menggiring masyarakat kita ke situasi yang tidak sehat. Kohesivitas sosial menjadi kendur. Masyarakat lebih terfragmentasikan. Situasi itu juga memudahkan siapa pun untuk melupakan akal sehat dalam bersikap.

Baiknya, dalam situasi begitu, kita memberi waktu kepada diri sendiri untuk melakukan refleksi dalam keadaan yang jauh lebih tenang. Refleksi yang mengarah kepada diri sendiri dan lingkungan kehadiran kita itu dapat membuat kita lebih jernih dalam melihat peta, sikap dan pilihan praktik politik kita dalam bermasyarakat. Kita memerlukan situasi yang sunyi, bukan untuk berdiam, melainkan untuk menyegarkan diri agar bisa menjalani kehidupan sosial yang jauh lebih baik.

Dalam hal spiritual, saudara kita yang beragama Hindu hari ini sedang merayakan Hari Raya Nyepi. Hari ini penganut Hindu melaksanakan Catur Brata penyepian: amati geni, amati karya, amati lelunga, dan amati lelanguan.

Dalam ritual itu suara, cahaya, gerak, keriangan bukan dimatikan, melainkan disurutkan ke titik nol. Secara spiritual, Nyepi menjadi perayaan untuk mengikhlaskan diri menuju ke kesucian dan kejernihan diri dalam menyongsong hari-hari baru pada tahun yang baru.

Kejernihan diri itu pula yang sekarang kita butuhkan untuk merawat Indonesia. Dengan kejernihan itu, kontestasi politik tidak semestinya membuat kita tercerai berai secara sosial. Justru, kejernihan diri itu bisa membantu kita untuk memastikan bahwa kita makhluk politik yang berbudaya dan beradab.

Mari merawat Indonesia.

Selamat Hari Raya Nyepi

Diterbitkan sebagai Editorial Beritagar.id
URL sumber: https://beritagar.id/artikel/editorial/kejernihan-diri-yang-kita-butuhkan