Olahraga itu bukan hanya soal keringat. Bukan juga melulu soal memenangkan pertandingan dan pertarungan.

Di atas itu semua, olahraga bersangkut paut dengan mempromosikan nilai-nilai yang dijunjung oleh sang olahragawan dan timnya. Nilai-nilai itu tercermin dalam perilaku dan spirit tanding para olahragawan yang terlibat, dan bahkan dalam peradabannya: peralatan, teknologi, dan berbagai infrastruktur yang dipergunakannya. Olahraga adalah peristiwa kebudayaan.

Dengan cara itu pula kita bisa memahami mengapa dulu Bung Karno menjadikan olahraga sebagai salah satu alat menuju revolusi mental untuk membangun bangsa. Bung Karno berkeyakinan, selain sebagai cara membentuk jasmani, olahraga merupakan cara membangun bangsa dan karakternya.

Itu sebabnya, baik sebagai peserta maupun sebagai tuan rumah, keterlibatan sebuah bangsa dalam perhelatan olahraga internasional selalu harus dilihat sebagai sebuah bentuk diplomasi kebudayaan: menyejajarkan diri di deretan bangsa-bangsa lain dalam posisi saling menghormati dan menghargai.

Keinginan untuk berdiri sejajar dengan bangsa lain itu pula yang mendorong kita untuk memenangkan kesempatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games yang ke-4. "Kita harus mengangkat kita punya nama," kata Bung Karno kala itu.

Negara kita, Indonesia, terpilih menjadi tuan rumah Asian Games ke-4 setelah mengalahkan Pakistan. Dengan kedudukan sebagai tuan rumah perhelatan olahraga internasional itu, ada begitu banyak proyek pembangunan yang dikerjakan untuk mendukung kerja diplomasi kebudayaan itu.

Dengan uang utangan, kita berhasil membangun kompleks olahraga terbesar di Asia Tenggara pada era itu. Selain kompleks olahraga yang pembangunannya melibatkan belasan ribu pekerja sipil dan militer itu, Asian Games ke-4 itu membuat kita berhasil membangun Hotel Indonesia, memperluas sejumlah ruas jalan utama di Jakarta, termasuk jembatan Semanggi.

Di luar keberhasilan membangun berbagai infrastruktur itu, dalam Asian Games ke-4 itu kita juga berhasil memperlihatkan prestasi olahraga yang sangat membanggakan. Saat itu Indonesia menduduki peringkat kedua dalam perolehan medali, setelah Jepang.

Tahun depan, Indonesia kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games. Pada September 2014, dari 45 negara peserta, 42 diantaranya mendukung Indonesia untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games ke-18 itu.

Dengan posisi sebagai tuan rumah penyelenggara juga, dalam Asian Game ke-18 itu perhatian kita akan mengarah kepada dua hal. Pertama, memastikan kesiapan atlet-atlet kita untuk meraih prestasi di cabang-cabang olahraga yang diikuti. Kedua, mempersiapkan dan menyelenggarakan perhelatan olahraga internasional itu.

Sebagai tuan rumah, kita ingin tampil baik di depan bangsa lain. Pengembangan infrastruktur pasti tidak terelakan. Pesta olahraga bangsa-bangsa Asia itu membutuhkan sarana pendukung, baik yang terkait langsung dengan pertandingan-pertandingan maupun yang menopang kelancaran kegiatan Asian Games itu.

Pengembangan infrastruktur pendukung acara tersebut harus dilangsungkan tidak di satu kota. Adalah Jakarta yang ditunjuk sebagai tuan rumah; dan Palembang sebagai tuan rumah pendukung. Nyaris serupa dengan persiapan Asian Games ke-4 dulu, pengembangan infrastruktur pendukung pesta olahraga kali ini pun harus dikebut.

Mungkinkah sarana dan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan untuk Asian Games itu dikerjakan secara cepat?

Dua tahun lalu, tepatnya Agustus 2015, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pernah menyatakan, dua koridor LRT (Light Rapid Transit) sudah selesai dibangun saat Asian Games dimulai. Ia memastikan, seperti dikutip JPNN, selepas turun di Bandara Soekarno-Hatta delegasi dari negara-negara peserta Asian Games bisa langsung menggunakan LRT menuju Kampung Atlet di Kemayoran, Jakarta Pusat. Untuk berangkat ke Gelora Bung Karno, dari Kampung Atlet para atlet bisa menggunakan LRT.

Setahun setelah pernyataan Gubernur itu, Juni 2016, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Prasetyo Boeditjahjono memberikan pernyataan yang pesimistis. Menurut Prasetyo saat itu, pembangunan LRT di Jabodebek untuk memfasilitasi Asian Games "tidak terkejar karena waktu pengerjaannya tidak relevan."

Selain itu, dalam konteks Jakarta, hajatan Pemilihan Kepala Daerah menyita perhatian banyak pihak. Urusan persiapan Asian Games di Jakarta seolah terlupakan.

Itu baru satu urusan di satu tempat. Bagaimana dengan urusan lainnya?

Presiden Joko Widodo bersikeras penyelenggaraan Asian Games harus sukses. Presiden tampak sangat menyadari, untuk tujuan itu, perlu langkah-langkah terobosan yang bisa mempercepat persiapan pesta olahraga tersebut. Ia menunjuk Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai Ketua Pengarah kepanitiaan Asian Games 2018.

Penunjukkan Jusuf Kalla itu diharapkan bisa meningkatkan akselerasi persiapan acara Asian Games. Salah satu tugas pentingnya adalah membantu percepatan anggaran agar berbagai persiapan dapat diselesaikan sesuai target.

Urusan anggaran memang sangat penting mendapat perhatian. Di satu sisi, anggaran perlu cepat karena waktu yang tersedia tinggal 17 bulan lagi. Pada saat yang sama, perencanaan dan pengunaannya haruslah sesuai dengan tata kelola anggaran. Harus cepat namun tetap akuntabel dan tidak membuka peluang korupsi.

Wapres Jusuf Kalla, akan melakukan percepatan regulasi dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian administrasi. Misal, seperti disampaikan Menteri Pemuda Dan Olahraga Imam Nahrawi, terkait pengadaan barang dan jasa penyelenggaraan Asian Games serta regulasi terkait pencairan anggaran penyelenggaraan.

Kita berharap Asian Games dapat berlangsung dengan sukses sesuai jadwal. Kesuksesan penyelenggaraan Asian Games ke-18 itu akan menjadi kebanggaan kita sebagai bangsa.

Pada saat yang sama, sebagai pembayar pajak, kita berharap anggaran yang telah disediakan untuk pesta olahraga itu sungguh dipergunakan semestinya, tanpa ada kebocoran, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Di luar urusan persiapan berbagai sarana dan fasilitas, sebetulnya masyarakat juga perlu tahu persiapan para atlet menghadapi ajang tersebut. Kementerian Pemuda dan Olahraga sudah seharusnya juga memberikan informasi lebih baik menyangkut persiapan para atlet yang akan membawa nama negara kita.

Merawat Indonesia juga berarti menyiapkan diri untuk sejajar dengan bangsa-bangsa lain agar terbangun sikap saling menghormati.

Diterbitkan sebagai Editorial Beritagar.id
URL sumber: https://beritagar.id/artikel/editorial/mempersiapkan-diri-menjadi-tuan-rumah-asian-games