Lebaran sudah dekat. Sebagian dari kita sudah bersiap-atau bahkan sudah- melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman.

Mirisnya, hari-hari pertama arus lebaran 2017 ini diwarnai berita tentang kecelakaan yang menimpa sebuah keluarga pemudik yang mengendarai sepeda motor menuju kampung halamannya hari Minggu (18/6) kemarin. Balita mereka terjatuh dari gendongan ibunya setelah tersenggol mobil, dan kemudian tertabrak truk. Kecelakaan itu mengingatkan kita kepada kecelakaan-kecelakaan lain yang pernah terjadi mengiringi arus lebaran tahun lalu.

Juga selain diwarnai oleh kecelakaan lalulintas, kita ingat, kemacetan yang sangat parah terjadi pada arus lebaran tahun lalu. Di tengah kemacetan di daerah Brebes itu, belasan orang meninggal dunia akibat kelelahan maupun penyakit yang telah diderita sebelumnya.

Ketika itu kita terkejut dan prihatin. Peristiwa kematian belasan orang di tengah kemacetan arus mudik lebaran, belum pernah tercatat sebelum hari-hari itu.

Di luar peristiwa yang mengejutkan itu, angka kecelakaan arus lebaran tahun 2016 sebetulnya menurun dibandingkan tahun 2015. Pada tahun 2015 kecelakaan lalulintas pada arus lebaran berjumlah 3.172 kasus, sedangkan pada 2016 berjumlah 2.979 kasus. Artinya, turun 6 persen.

Begitu juga dengan jumlah korban yang menyertai kecelakaan itu. Korban meninggal dunia berkurang 20% dari 694 jiwa pada 2015 menjadi 558 jiwa pada 2016. Korban luka berat berkurang 15% dari 1.161 jiwa pada 2015 menjadi 989 jiwa pada 2016. Sedangkan korban luka ringan berkurang 5% dari 4.197 jiwa pada 2015 menjadi 3.987 jiwa pada 2016.

Penurunan jumlah kecelakaan maupun korban-korbannya, harus kita akui, tidak lepas dari target yang dipatok optimis oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) saat itu: zero accident. Lebaran tanpa kecelakaan. Target itu memang tampak terlalu optimis. Banyak pihak yang meragukannya. Namun, berkat target itu, kita melihat ada upaya Kemenhub yang lebih baik ketimbang tahun sebelumnya.

Tahun ini Kemenhub kembali menarget zero accident selama arus Lebaran 2017. Apakah tahun ini target tersebut akan terpenuhi?

Sejumlah kecelakaan tragis yang terjadi beberapa bulan terakhir akan membuat kita tidak terlalu optimis dengan target tersebut. Namun tentu kita selalu berharap tingkat kecelakaan lalulintas semakin hari harus semakin turun dan mengecil jumlahnya.

Pemerintah perlu membuktikan bahwa zero accident selama arus Lebaran 2017 adalah target yang bisa dicapai dengan langkah-langkah nyata. Tantangannya tentu tidak lebih ringan ketimbang tahun lalu. Apalagi jumlah pemudik diprediksi meningkat hampir 5% ketimbang tahun lalu.

Menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, seperti dikutip Kumparan, "Perkiraan Kemenhub musim lebaran tahun ini mencapai 19 juta orang pemudik, atau mengalami kenaikan 4,8 persen"

Untuk mengantisipasi kenaikan itu, Kemenhub menyiapkan 1.278 unit kapal untuk pemudik yang akan menggunakan moda transportasi laut. Pada arus mudik lebaran tahun lalu penumpang moda transportasi laut mencapai 1.674.513 orang. Tahun ini, diprediksi, akan naik 3 persen.

Pemudik yang akan menggunakan moda transportasi udara, diprediksi, akan mengalami kenaikan 9% dari jumlah tahun lalu yang mencapai 4.912.401 orang. Ada 523 pesawat disiapkan untuk mengantisipasi hal tersebut.

Sementara untuk pemudik yang akan menggunakan moda kereta api, PT Kereta Api Indonesia menyiapkan 222.014 kursi setiap hari. Itu di luar kereta tambahan.

Ada empat strategi yang direncanakan oleh Kemenhub untuk mengatasi persoalan-persoalan arus mudik Lebaran. Yaitu koordinasi yang intensif dengan para stakeholder, ramp check, pelayanan posko terpadu, dan fasilitas mudik gratis.

Beberapa langkah strategis itu, menurut Kemenhub, sudah dilakukan lebih cepat ketimbang tahun lalu. Kegiatan ramp check, misal.

Tahun lalu kegiatan ramp check baru dilakukan seminggu sebelum arus mudik lebaran dimulai. Tahun ini ramp check mulai dilakukan sejak April lalu: dua bulan sebelum arus mudik lebaran dimulai.

Dengan ramp check, Kemenhub memeriksa kelayakan jalan setiap moda transportasi. Ini adalah langkah penting untuk memperkecil potensi kecelakaan lalulintas.

Kita tentu masih ingat, kecelakaan-kecelakaan tragis yang terjadi beberapa bulan terakhir kebanyakan disebabkan oleh kendaraan yang tidak layak jalan. Membiarkan kendaraan yang tidak layak jalan untuk tetap beroperasi itu sama saja dengan membiarkan pembunuh berkeliaran bebas di tengah banyak orang.

Kemenhub mengklaim, ramp check moda transportasi udara, laut dan kereta api dianggap relatif memuaskan. Namun tidak begitu dengan moda transportasi darat. Sampai akhir minggu pertama Juni lalu 25% bus yang disertakan dalam ramp check dianggap tidak layak jalan.

Dinas perhubungan DKI Jakarta punya pengalaman berbeda dengan ramp check yang dijalankannya. Dari 971 bus yang diperiksa, 624 diantaranya dianggap tidak layak jalan. Secara persentase, jumlah itu sangat besar.

Kendaraan yang lolos ramp check akan diberi stiker penanda. Kendaraan yang tidak berstiker ramp check tidak akan diperbolehkan beroperasi. Kendaraan-kendaran yang tidak layak jalan tersebut harus dibenahi terlebih dahulu sampai memenuhi standar kelayakan jalan.

Jika langkah ramp check ini dilakukan secara seksama dan menyeluruh, bolehlah kita berharap potensi kecelakaan akan bisa lebih ditekan. Kita patut memberi apresiasi atas langkah tersebut.

Begitu juga dengan strategi mudik gratis. Terutama sekali pengangkutan sepeda motor secara gratis. Langkah tersebut menjadi sangat penting karena kecelakaan banyak menimpa para pemudik yang menggunakan sepeda motor.

Dengan anggaran sebesar Rp90 miliar, pemerintah menargetkan 208.435 orang penumpang dan 44.741 unit sepeda motor yang bisa mengikuti fasilitas mudik gratis tersebut. Fasilitas mudik gratis itu tersedia dengan moda transportasi laut, truk, dan kereta api.

Titik krusialnya adalah pada perhitungan-perhutungan yang terkait dengan perencanaan dan faktor alam. Ada banyak anomali cuaca yang sukar dipediksi yang bisa memengaruhi keselamatan transportasi.

Sabtu (17/6) lalu, misal, sebuah kapal motor yang mengangkut 392 penumpang yang terdaftar sebagai perserta mudik gratis Pemerintah Provinsi Jawa Timur kandas di perairan Raas. Kapal tersebut berangkat dengan rute Situbondo menuju Jangkar Raas, Sumenep.

Sebetulnya program mudik gratis tersebut hanya untuk sekali pelayaran. Namun karena jumlah peminatnya membludak, maka kapal yang sama berangkat kembali untuk pelayaran yang kedua. Pada saat itulah kapal mengalami kandas akibat terlalu mengambil jalan meminggir ketika akan berbelok.

Kita sangat berharap semua pihak sungguh-sungguh berupaya untuk mewujudkan target zero accident pada lebaran tahun ini. Itu pastilah melibatkan kita juga, para penumpang dan pengendara, untuk menjaga ketertiban dan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh keselamatan dalam perjalanan.

Diterbitkan sebagai Editorial Beritagar.id
URL sumber: https://beritagar.id/artikel/editorial/mewujudkan-zero-accident