Jurnalisme Urban
Meniadakan Desa

Akui saja bahwa jurnalisme yang sedang berlangsung di tengah kita adalah jurnalisme urban: jurnalisme tentang masyarakat kota, jurnalisme dengan pendekatan selera masyarakat kota, jurnalisme dengan pendekatan perkotaan.

Ini yang membuat kita kehilangan kabar tentang desa beserta dinamikanya. Desa lenyap di peta jurnalisme kota.

Itu akan membuat desa hilang dari ingatan kita. Desa akan tidak menjadi bagian dari pertimbangan di banyak keputusan dan kebijakan.

Sungguh ironis jika desa dikuburkan dengan cara itu pada masa Undang-undang Desa berlaku.

Para teroris membangun dan mengokohkan ilusi bahwa mereka sedang berada dalam situasi perang, sehingga punya alasan untuk melakukan kekerasan bersenjata.

 

Darah dan kematian bukanlah tujuan sebuah teror. Tak perlu melukai maupun membunuh siapapun untuk melakukan teror. Menyebarkan dan membangun ketakutan, itulah cara kerja terpenting dari sebuah teror.

Begitu juga yang terjadi pada Senin (26/6), hari kedua lebaran, di Jalan Veteran dekat alun-alun kota Serang, Banten. Tak ada serangan yang melukai dan membunuh tubuh siapapun. Namun tengah hari itu kertas terlipat diselipkan di wiper mobil polisi yang terparkir di pos polisi di jalan itu.

Ada tulisan tangan dengan huruf arab dan latin, serta gambar bendera ISIS di atas secarik kertas. Tulisan di kertas itu berisikan ancaman.

Di salah satu sisi kertas itu terdapat nama-nama tempat, yang ditandai sebagai "salah satu akan jadi sasaran". Di bawahnya tertera tulisan yang berbunyi, "Kami berbaiat pada Abu Bakar Al-Baghdadi. Bukan Jokowi."

Pada belahan kertas yang lain, ada semacam catatan atas sebuah denah kasar, yang menyebutkan bahwa di dekat pos polisi ada kantin yang dijaga oleh ibu-ibu dan ada satu CCTV. Sedang di sebelahnya, sebuah tulisan jelas terbaca, "Siapkan dirimu, polisi thogut. Kami akan datang. Setelah Marawi, Filipina, selanjutnya adalah Indonesia."

Terlalu gegabah jika kertas berisi ancaman itu dianggap sekadar perbuatan main-main yang boleh diabaikan begitu saja. Syukurlah, tanpa harus merasa resah, polisi merespons ancaman ini dengan serius. Karena sempat terekam CCTV, saat ini si penyebar ancaman sedang diburu oleh polisi.

Penyikapan yang proporsional atas ancaman model seperti itu memang diperlukan. Terlebih pada Minggu (25/6) dini hari, sehari sebelum penemuan kertas ancaman itu, dua orang melompati pagar Mapolda Sumatera Utara. Mereka menyerang salah satu petugas di pos jaga.

Aiptu Martua Sigalingging, yang diduga sempat melakukan perlawanan, akhirnya gugur di tangan para penyerangnya. Kedua penyerang itu berhasil dilumpuhkan oleh polisi lain yang bertugas pada dini hari itu: satu orang tewas, satu orang terluka.

Penyelidikan polisi selepas aksi penyerangan di Sumut memperlihatkan kedua penyerang adalah anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Organisasi yang berafiliasi dengan ISIS tersebut tercatat telah melancarkan sejumlah aksi teror di negeri kita, termasuk serangan ke pos polisi di Jalan Thamrin Jakarta pada awal 2016 lalu.

Dua teror pada hari lebaran lalu tampaknya harus dilihat sebagai rangkaian serangan teror lain--yang sudah dilakukan maupun yang baru direncanakan--yang jelas-jelas diarahkan kepada polisi.

Seminggu sebelum penyerangan Mapolda Sumatra Utara, Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkap dua orang anggota JAD Bima, Nusa Tenggara Barat. Dalam penangkapan itu, polisi mendapatkan bom rakitan yang siap pakai. Menurut polisi, kedua orang itu berencana menyerang Polsek Woha, Bima.

Serangan teroris yang diarahkan kepada polisi pada tahun ini mulai terlihat pada bulan April. Pada awal bulan itu polisi melakukan penangkapan terhadap sejumlah anggota JAD di Lamongan, Jawa Timur. Menurut polisi, salah satu anggota JAD itu berencana akan melakukan penyerangan terhadap kantor Polsek Brondong.

Selang sehari dari penangkapan itu, di Tuban Jawa Timur sekelompok orang menembaki polisi yang sedang berpatroli. Di ujung hari, dalam baku tembak, polisi berhasil menewaskan 6 orang penyerang. Menurut polisi, aksi penyerangan tersebut merupakan perintah dari salah satu anggota JAD yang ditangkap di Lamongan sebelumnya.

Masih pada bulan yang sama, seorang lelaki bercadar menyerang Mapolres Banyumas. Dengan bersepeda motor, lelaki itu menerobos masuk ke Mapolres Banyumas dan melukai sejumlah polisi. Lelaki ini, menurut polisi, tercatat sempat berkomunikasi dengan salah satu penyerang yang tewas di Tuban.

Bulan Mei lalu, JAD kembali berulah. Dua bom bunuh diri meledak di kawasan Kampung Melayu Jakarta. Dalam aksi itu, selain menewaskan si pembawa bom, tiga orang polisi gugur. Enam polisi juga terluka di antara 11 orang korban lainnya.

Kita bisa melihat sederetan serangan lain yang diarahkan kepada polisi oleh kelompok-kelompok teroris pada tahun-tahun sebelumnya. Kecenderungan untuk menjadikan polisi sebagai target teror sudah terlihat sejak 7 tahun lalu.

Padahal sebelumnya, kelompok teroris tampak lebih banyak menyasar simbol-simbol kepentingan dan kultur masyarakat Barat--seperti terlihat dalam serangan bom di Bali, di Kedutaan Besar Australia di Jakarta, di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton.

Kecenderungan mengarahkan bidikan teror kepada polisi bisa jadi terkait dengan dua hal.

Pertama, lewat Densus 88, polisi berhasil melumpuhkan dan melakukan penangkapan atas sejumlah orang yang diduga terkait dengan terorisme. Penaklukan dan penangkapan sejumlah orang yang diduga teroris itu menyulut dendam perlawanan.

Kedua, dengan memfokuskan penyerangan kepada pihak polisi saja, kelompok radikal ini membangun dan memperkokoh ilusi bahwa mereka sedang berada dalam situasi perang.

Hal itu terkait dengan kritik tajam penggunaan kekerasan bersenjata yang dilakukan pada masa damai. Dengan membangun ilusi perang itu, kelompok teroris memberikan alasan kepada dirinya sendiri dan kepada kelompok radikal lainnya untuk menggunakan pendekatan kekerasan bersenjata dalam mengekspresikan ideologinya.

Ilusi tersebut sungguh berbahaya. Ilusi tersebut bisa memberikan alasan kepada orang per orang--tidak harus ikut berkumpul secara fisik sebagai sebuah pasukan--untuk melakukan aksi terorisme yang mematikan.

Bukan itu saja. Ilusi tersebut sebetulnya tidak mempunyai mata dalam mengarah sasaran terornya. Meski diniatkan menyasar polisi, warga masyarakat biasa juga rentan menjadi korban dari ilusi tersebut--seperti terjadi dalam bom bunuh diri di Kampung Melayu itu.

Tindakan represif terhadap kejahatan terorisme tentu dibutuhkan. Namun kita juga membutuhkan upaya yang sungguh-sungguh terarah dan terukur untuk memperlihatkan kepalsuan-kepalsuan ilusi itu.

Kita tidak dalam kondisi berperang. Kita juga hidup dalam negara bangsa yang menghormati perbedaan dengan cara yang damai dan beradab. Oleh karena itu tidak ada alasan yang dapat membenarkan kejahatan terorisme atas nama apapun.

Upaya meruntuhkan ilusi itu harus dikerjakan bersama-sama oleh semua pihak. Sebab terorisme tidak punya mata. Kengerian dan ketakutan yang disebarkannya bisa menggerogoti siapapun.

Diterbitkan sebagai Editorial Beritagar.id
URL sumber: https://beritagar.id/artikel/editorial/teror-itu-bukan-cuma-untuk-polisi