Adalah Haryono Suyono yang pertama kali menggagas Hari Keluarga. Haryono, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), menyampaikan 3 pokok pikiran terkait pentingnya peringatan Hari Keluarga kepada Presiden Soeharto.

Pertama, mewarisi semangat kepahlawanan dan perjuangan bangsa. Kedua, tetap menghargai dan perlunya keluarga bagi kesejahteraan bangsa. Ketiga, yakni membangun keluarga menjadi keluarga yang bekerja keras dan mampu berbenah diri menuju keluarga yang sejahtera.

Pak Harto menyetujui gagasan itu. Dipilihlah tanggal 29 Juni sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas). Ada pertimbangan sejarah subyektif atas pilihan tanggal itu.

Tanggal 29 Juni 1970 dikenal sebagai tanda dimulainya Gerakan Keluarga Berencana Nasional. Selain itu, 29 Juni 1949 adalah hari kembalinya pejuang kemerdekaan ke keluarganya masing-masing menyusul penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Indonesia pada 22 Juni 1949. Tahun ini Harganas diperingati di Lampung 15 Juli 2017.

Terlepas dari latarbelakang sejarah itu pun peringatan Hari Keluarga menjadi momen yang baik untuk menyadari besarnya peran keluarga dalam masyarakat kita, bagi kemajuan bangsa dan negara. Sekaligus, peringatan tersebut menjadi momen yang bagus pula untuk melihat kualitas ketahanan keluarga dalam masyarakat kita.

Keluarga merupakan sumber ketahanan sosial dalam masyarakat. Ketahanan keluarga sangat akan menentukan ketahanan bangsa. Pembentukan karakter manusia Indonesia dimulai dari kualitas ketahanan keluarga Indonesia. Di dalam keluargalah pada mulanya karakter manusia dibentuk dan berkembang. Ketahanan keluarga ini pulalah yang menjadi sorotan peringatan Hari Keluarga pada tahun ini.

Meski terdengar sederhana, ketahanan keluarga melibatkan banyak faktor dan cukup kompleks. Mulai dari pemberdayaan segala potensi yang ada pada keluarga, pengasuhan anak, penguatan pendapatan keluarga, peningkatan kualitas hubungan antar anggota keluarga, dan lainnya.

Satu hal yang terlihat jelas menantang ketahanan keluarga dalam masyarakat kita saat ini adalah kualitas hubungan antar anggota keluarga. Tantangan tersebut terkait dengan mobilitas yang tinggi sehubungan dengan pekerjaan dan kegiatan utama, dan juga terkait dengan perkembangan teknologi yang mengubah preferensi kita dalam cara berkomunikasi.

Pekerjaan maupun kegiatan utama hampir setiap anggota keluarga dalam masyarakat kita saat ini bukan saja menuntut mobilitas yang tinggi, sekaligus tak jarang membuat harus terpisah cukup jauh dengan anggota keluarga yang lain. Dalam kondisi seperti itu, sangatlah sulit bagi sebuah keluarga untuk membangun kualitas hubungan yang baik.

Benar bahwa teknologi dewasa ini memberikan sejumlah solusi yang bisa menjembatani persoalan jarak dan waktu dalam hubungan antar orang, antar anggota keluarga. Teknologi memungkinkan kita untuk terhubung dengan anggota keluarga kita yang lain di manapun dan kapanpun.

Kemampuan itu malah pelan-pelan membuat banyak di antara keluarga Indonesia mengubah preferensinya dalam cara berkomunikasi bahkan dengan sesama anggota keluarga: kita sering merasa cukup dengan komunikasi yang kita lakukan secara jarak jauh dengan komputer atau telepon genggam.

Padahal kualitas hubungan yang kita peroleh dari komunikasi yang bermediakan gadget berbeda dengan kualitas hubungan yang terbangun dalam komunikasi langsung (in person). Keintiman dan kedalaman hubungan lebih bisa diperoleh lewat komunikasi yang langsung: bertemu, berkumpul, dan saling berbagi.

Perlu ada upaya yang luas dan terus menerus dalam memberi pemahaman mengenai komunikasi dan kualitas hubungan yang diperlukan oleh sebuah keluarga. Upaya-upaya itu bukankah ditujukan agar masyarakat kita meninggalkan teknologi komunikasi. Bukan. Melainkan untuk memberikan pemahaman agar tidak mengabaikan kualitas hubungan demi ketahanan keluarga.

Selain isu kualitas hubungan antar anggota keluarga, yang patut mendapat perhatian adalah tingkat perceraian dalam masyarakat kita. Sangatlah absurd membicarakan ketahanan keluarga jika mengabaikan kecenderungan perceraian dalam masyarakat kita.

Kita bahkan pernah disebut-sebut mempunyai angka perceraian tertinggi tinggi se-Asia Pasifik pada 2013. Antara kurun waktu 2009 sampai 2016, angka perceraian meningkat antara 16 sampai 20 persen. Penurunan angka perceraian hanya terjadi pada tahun 2011.

Kecenderungan tingginya angka perceraian haruslah disikapi secara sungguh-sungguh. Semakin tinggi angka perceraian, semakin rendah pula ketahanan keluarga dalam masyarakat kita; dan hal itu adalah gelagat buruk dalam konteks ketahanan bangsa.

Penyikapan atas masalah tersebut tentulah harus secara langsung menyasar penyebab utama perceraian di masyarakat kita. Peningkatan kesejahteraan, jelas, adalah salah satu hal yang harus dilakukan karena tak sedikit perceraian bermula dari problem ekonomi. Selain itu, semua pihak harus turut memastikan kematangan psikologi setiap calon pasangan pengantin.

Pencegahan pernikahan anak-anak di bawah umur merupakan salah satu langkah untuk memastikan pernikahan dilangsungkan oleh pihak yang secara psikologis sudah cukup matang. Langkah lainnya, kewajiban atas kursus pra nikah harus sungguh dipertimbangkan untuk segera direalisasikan. Ide mewajibkan kursus pra nikah telah lama terdengar tetapi belum juga terealisasi.

Membangun dan merawat Indonesia, bisa dimulai dengan membangun dan merawat ketahanan keluarga.

Selamat Hari Keluarga.

Diterbitkan sebagai Editorial Beritagar.id
URL sumber: https://beritagar.id/artikel/editorial/dari-keluargalah-ketahanan-itu-bermula