Soalnya adalah penerjemahannya sangat buruk.

Saya tak bisa bilang bahwa penerjemahnya tidak memiliki kamus. Saya yakin, kamus yang dipakainya ketika menerjemahkan karya-karya ini cukup tebal; dan boleh jadi lebih dari satu kamus.

Jika dilihat kata demi kata, penerjemahan buku berwarna sampul coklat muda ini nyaris tanpa salah. Seluruh kata bisa ditemukan di kamus dengan tepat dan sesuai. Si penerjemah juga sudah berupaya merangkainya dalam satu kalimat. Tapi, bacalah kalimat-kalimat ang disusunnya. Saya tidak bisa menangkap maknanya. Nggak bunyi.

Memang, teks asli naskah itu tidak sederhana. Bukan kalimat sehari-hari. Bukan gagasan dan metafora sehari-hari. Tapi seorang penerjemah tidak bisa dimaklumi dengan dalih itu. Seorang penerjemah harus melihat kesulitan ini sebagai bagian dari tantangan dan seni dalam kerjanya.

Tugas seorang penerjemah bukanlah mengalihkan teks dari satu versi bahasa ke versi bahasa lain saja. Ia bertugas mewakili pengarang aslinya untuk memberikan pemahaman tentang sebuah gagasan kepada sebuah kelompok pembaca dengan bahasa tertentu.

Semula, saya menduga, buku ini dikerjakan tanpa editor. Dugaan saya salah, ternyata. Buku itu jelas-jelas menyebut nama seseorang sebagai editornya. Celaka! Seorang editor yang tidak kompeten telah dipekerjakan oleh sebuah penerbit! Pembaca  yang kecewa, seperti saya, harus mengarahkan telunjuk ke tiga pihak yang bertanggungjawab atas buruknya buku terjemahan itu: penerjemah, editor, dan penerbit.

Ada dua kemungkinan yang bisa kita lihat. Pertama, penerbit ini memang tidak kompeten untuk urusan buku terjemahan. Kedua, penerbit ini lalai dalam memastikan kualitas produknya. Dan keduanya bisa bermuara pada satu hal: godaan uang telah membuatnya abai.

Akui saja, sekarang ini, industri buku sedang menanjak. Bukan saja sekadar mulai menggeliat, para penerbit buku tampak sangat antusias untuk menerbitkan sebanyak-banyaknya judul. Ya, para pembaca buku yang berduit lebih banyak menghabiskan uangnya di toko buku belakangan ini.

Antusiasme macam ini membuat banyak penerbit gelap mata. Selama ada pemebeli, jual judul sebanyak-banyaknya. Ini seperti logika penangkap ikan yang kaya raya, yang menebar kail sebanyak-banyaknya di berbagai tempat.

Tapi saya -dan mungkin pembaca buku lainnya- toh lama-lama akan mengenali pemilik kail yang ditebar di toko buku. Saya akan segera bisa menghindar dari umpan yang dilempar oleh penerbit-penerbit buruk.