Berita itu dibuka dengan paragraf yang bunyinya:

 

"Setelah diamati dan diteliti, situs yang diisukan dibuat teroris itu sempat menghilang dan berpindah-pindah alamat hosting. Pantas saja, situs itu dari hasil carding atau penipuan kartu kredit."

 

Kalau anda tidak terlalu paham dengan istilah-istilah dalam budaya cyber, paragraf di atas kira-kira sama dengan rangkaian kalimat seperti ini:

"Setelah diamati dan diteliti, rumahnya sempat tak bisa ditemukan dan sering berpindah-pindah alamat. Pantas saja, rumahnya itu hasil rampokan."

Sekarang sudah lebih jelas? Baguslah kalau anda sudah lebih paham. Nah, apakah paragraf di atas tergolong masuk akal bagi anda?

Ya! Saya berdiri di pihak anda, kalau anda menilai paragraf tersebut mengandung sesat pikir. Paragraf di atas mengandung kesalahan dalam berlogika yang sangat gamblang.

Dimana letak kesalahan berlogikanya? Di sini:

  1. Sebuah situs web sempat hilang atau tidak bisa diakses bukan akibat dari (dan tidak ada hubungannya dengan) tindakan carding. Sebuah rumah bisa saja sempat tidak bisa ditemukan, tapi penyebabnya pastilah bukan karena rumah itu hasil rampokan.
  2. Tindakan carding tidak akan membuat situs web pelakunya hilang atau tidak bisa diakses. Sebuah perampokan tidak akan membuat rumah pelakunya menjadi tidak bisa ditemukan.
  3. Situs web yang dibangun dengan uang hasil carding tidak akan dengan serta merta tidak bisa diakses atau menghilang. Rumah yang dibeli dengan uang hasil rampokan tidak dengan serta merta tidak bisa ditemukan.
  4. Situs web yang berpindah-pindah tempat hostingnya tidak ada hubungannya dengan carding. Anda bisa memindahkan tempat hosting situs web anda sesering mungkin dan kemana pun anda mau tanpa harus melakukan carding. Alamat rumah anda bisa berpindah-pindah, meskipun anda bukan perampok.
  5. Tindakan carding tidak akan membuat situs web pelakunya berpindah-pindah tempat hosting. Tindakan merampok tidak akan membuat alamat rumah si perampok menjadi berpindah-pindah.
  6. Uang yang melimpah ruah hasil carding atau rampokan tidak serta merta membuat si pemiliknya memindahkan tempat hosting situs web atau rumahnya.

Sesat pikir dalam paragraf pertama berita yang saya kutip tadi terjadi karena penulisnya membuat kesimpulan yang tidak relevan dengan premisnya. Tidak ditemukannya sebuah situs atau rumah tidak ada relevansinya dengan tindakan carding atau merampok.

Dalam bahasa Latin, sesat pikir jenis ini disebut Ignoratio Elenchi. Dalam metafora kultur masyarakat Barat, ini biasanya disebut "ikan herring merah". Metafor ini berasal dari olahraga berburu rubah. Di tengah perburuan itu ikan herring merah diseret melintasi jalur rubah supaya anjing-anjing pemburu lari ke luar arena.

Jadi, kalau anda seorang penulis, jangan pernah menyeret ikan herring merah di hadapan pembaca. Mereka yang tidak paham persoalan akan menjadi tersesat. Sementara mereka yang tahu duduk perkaranya akan tertawa terbahak melihat kekacauan cara berpikir anda.

Menulis adalah soal berpikir.