Di dunia manajemen, nama Peter F Drucker dianggap sebagai salah satu Guru. Ya, Guru dengan "G" besar. Tapi dia sendiri lebih sering menyebut dirinya sebagai seorang penulis saja. Dan, menurut Drucker, seseorang baru dianggap penulis jika ia pernah melahirkan novel. Barangkali karena itu juga, Drucker pernah tercatat menulis sebuah novel, meski tidak sesukses tulisan-tulisan manajemen.

Mungkin banyak yang sependapat dengan omongan Drucker itu. Hampir semua orang yang saya temui, termasuk kebanyakan alumni Jakarta School, lebih berminat menulis novel ketimbang buku atau tulisan non fiksi. Dan, ya, saya menangkap kesan bahwa alasan utamanya adalah bahwa menulis novel lebih bergengsi ketimbang menulis buku non fiksi. Selain alasan utama itu, masih ada alasan lain yang sering disebut oleh mereka yang mengelak untuk menulis artikel atau buku non fiksi. Yaitu, buku non fiksi lebih susah ditulis! Ini alasan yang muncul dari anggapan-anggapan yang salah.

Cukup banyak orang mengira, untuk menulis fiksi -entah itu cerpen atau novel, modalnya hanya khayalan melulu. Siapa yang tidak bisa berkhayal dan berfantasi? Sementara untuk menulis non fiksi, modalnya banyak: harus riset, harus punya keahlian, dan harus berbahasa formal. Orang juga mengira, tidaklah menyenangkan untuk menulis non fiksi. Sebuah tulisan non fiksi, begitulah dianggap orang, harus ditulis dengan bahasa akademik dan formal yang tidak enak diabaca. Tulisan non fiksi dianggap kering: tidak mengenal plot, tidak diperbolehkan menggunakan metafora, dan bergaya bahasa baku. Kedua anggapan ini jelas keliru.

Untuk menulis fiksi, seorang penulis tetap memerlukan riset dan pengetahuan yang memadai mengenai hal-hal yang ia ceritakan. Kenapa? Anda tidak bisa menyajikan cerita yang bisa meyakinkan pembaca jika anda sama sekali tidak memiliki pengetahuan mengenai segala hal yang anda ceritakan. Anda tidak akan bisa menceritakan sebuah detil peristiwa secara meyakinkan dalam fiksi jika anda benar-benar melulu mengandalkan khayalan sesuka hati. Cerita fiksi anda tentang seorang lelaki yang tersesat di bandar udara, misal, tidak akan bisa meyakinkan pembaca jika anda sama sekali tidak tahu tentang bandar udara.

Saya tidak bisa menyalahkan anda jika anda mengira bahwa tulisan buku-buku non fiksi itu kering. Anggapan itu muncul karena kebanyakan orang mengira, tulisan dan buku fiksi harus disajikan seperti sebuah makalah akademik atau tesis skripsi/desertasi yang hanya mempedulikan urusan logika dan mengabaikan citarasa. Harus diakui juga, kebanyakan buku non fiksi dan artikel-artikel di koran yang terbit di Indonesia berasal dari para akademisi dengan tradisi menulis akademik yang serba formal juga. Jadi masuk akal jika anda menganggap bahwa tulisan dan buku non fiksi itu kering kerontang, Tapi cobalah anda tengok buku-buku non fiksi maupun artikel-artikel yang ditulis oleh penulis non-Indonesia. Tulisan-tulisan mereka bisa tetap segar, tidak kaku, dan -bukan saja menambah wawasan dan pengetahuan pembacanya- tulisan mereka pun nikmat untuk dibaca. Saya tidak memungkiri bahwa saat ini sudah cukup banyak penulis non fiksi kita yang berhasil menyajikan tulisan yang segar. Tapi jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang penulis non-Indonesia, yang memang sudah terbiasa mendapat pelajaran menulis kreatif sejak dini.

Tulisan non fiksi bisa disajikan dengan cara bermacam-macam; tidak melulu bergaya akademik. Anda bisa menyajikan tulisan non fiksi anda dengan cara bercerita, misal. Cobalah tengok beberapa buku sejarah atau antropologi yang ditulis oleh penulis luar. Beda rasanya kan? Ya, karena mereka menggunakan pendekatan menulis kreatif (creative writing) dalam menyajikan gagasannya.

Di kelas-kelas Creative Writing - Basic Course yang diselenggarakan di Jakarta School, saya memperkenalkan banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyajikan tulisan non fiksi. Meminjam cara kerja plot fiksi untuk diterapkan di tulisan non fiksi, misal. Juga, mencermati suara dan nada tulisan non fiksi seperti yang diterapkan dalam bagian dialog tulisan fiksi. Lebih dari itu semua, apapun tulisan anda -mau fiksi kek, mau non fiksi kek, punya tantangan yang sama: meyakinkan pembaca. Upaya meyakinkan pembaca ini bisa dilakukan dengan kombinasi berbagai langkah: penggambaran yang gamblang, detil yang hidup, dan logika yang runtut. Jadi, menulis non fiksi tidak lebih sulit daripada menulis fiksi. Begitu juga sebaliknya. Kedua jenis tulisan itu bertemu di tempat yang sama: menulis adalah urusan berpikir.