Ada pertanyaan yang sama, yang sering saya peroleh dari beberapa orang. Satu diantaranya, tidak bisa saya jawab.

Sambil menanyakan kegiatan saya, orang biasanya bertanya kepada saya, "Menerbitkan buku apa saja?"

Pertanyaan ini mudah saya jawab.

"Mau nggak nerbitin buku saya? Saya ingin menulis buku yang kontemplatif, reflektif ... bla bla bla ...."

Orang ini belum punya naskahnya. Dia baru ingin menulis. Belum mulai menulis. Baru punya niat.

Pertanyaan macam itu kerap saya dapat juga. Dan inilah pertanyaan yang tidak bisa saya jawab itu.  Sebuah keinginan tidak mungkin ditolak maupun diterima untuk diterbitkan. Saya, dan siapapun yang bekerja di bidang penerbitan, tidak mungkin menerbitkan niat, keinginan, dan isi kepala. Para penerbit hanya menolak atau menerbitkan isi kepala yang sudah dituangkan menjadi naskah.

Banyak orang mengira bahwa menulis adalah melulu soal kemampuan memainkan kata-kata, atau melulu berurusan dengan kepemilikan gagasan besar. Prasangka ini banyak membuat orang menjadi ge er: merasa bisa menulis atau -lebih parah lagi- merasa sudah menjadi penulis ketika ia baru merasa punya gagasan di kepalanya.

Sebuah gagasan yang anda miliki - sehebat atau seculun apapun, sekecil atau sebesar apapun- memang merupakan modal yang bagus untuk menulis. Tapi menulis adalah sebuah praktek, sebuah tindakan konkrit. Kata AS Laksana, teman saya yang satrawan itu, "Menulis bukanlah bakat. Dan menulis juga bukan cuma bacot". Jangan omong doang. Mulailah menulis.

</center>