Di kelas penulisan kreatif itu, dia berkali-kali mengulangi kalimat ini, “Saya ingin jadi penulis novel. Saya bisa jadi penulis novel.” Lalu dia bicara tentang banyak hal lain di seputar urusan buku bacaan, sosok penulis yang ia kagumi, dan beberapa kebiasaannya dalam membaca. Sebelum berubah menjadi betul-betul menjemukan, saya tentu tidak patut memotong omongan anak muda yang sedang bersemangat itu.

“Saya ini berbakat membuat cerita, mas. Bikin cerita itu gampang”

Saya manggut-manggut.

“Mas tahu, sekali saya masuk toilet, saya bisa menghasilkan sepuluh novel,” katanya bersemangat. Lalu kelas pun riuh. Hampir semua peserta berkomentar dengan suara bergumam. Tak terlalu jelas apa komentar mereka untuk bualan temannya itu.

“Baguslah,” saya mulai memotong kegaduhan kelas. “Itu berarti dalam seminggu ini kamu sudah menghasilkan sekurangnya 140 novel. Itu pun kalau kamu pergi ke toilet rutin dua kali dalam sehari. Tentu akan lebih banyak lagi novel karyamu kalau kebetulan kamu terserang diare.”

Kelas bertambah riuh, dan si anak muda itu cengengesan.

“Saya akan sangat senang kalau diperbolehkan membaca salah satu karyamu,” lanjut saya.

“Itu masalahnya, mas”

“Apa?”

“Novelnya belum ada.”

“Lho tadi katanya sekali masuk toilet saja sudah bisa jadi 10 novel.”

“Iya. Tapi cuma ada pikiran saya. Belum ditulis”

“Kenapa tidak ditulis?”

“Mmmm ... Saya memang belum mulai menulis”

“Kenapa?”

**********

Apapun yang akan ditulisnya –novel, buku panduan, esai, atau yang lainnya, seorang penulis pasti membutuhkan gagasan. Dia boleh menyimpan itu dimana saja, termasuk dalam benaknya sendiri. Tapi jangan pernah merasa sudah menulis hanya karena anda merasa mempunyai gagasan yang bisa menjadi bahan tulisan anda. Jangan pernah percayai apapun yang ada di kepala anda terkecuali anda sudah menuliskannya. Begitulah kalau anda memang berniat untuk menulis.

Jadi? Mulailah menulis.

Ini juga ternyata menjadi masalah bagi sebagian besar orang yang mengaku dirinya ingin menulis. Terlalau sering saya bertemu dengan orang yang ingin menulis tapi tak pernah memulainya. Orang macam ini, biasanya, akan berlagak mendiskusikan banyak gagasan yang akan dia tulis ketika kita bertanya, “Bagaimana tulisanmu? Saya mau baca dong.” Dia tidak pernah memamerkan tulisannya karena sebetulnya dia tidak pernah memulainya.

Ya, keinginan tidak otomatis pasti disusul dengan tindakan memulai. Kenapa? Mengaku saja, kita sangat mudah untuk mencari alasannya. Misal, “Saya menunggu waktu yang tepat untuk menulis.”. Atau, “Saya belum menemukan tempat yang pas untuk menulis.” Atau, “Saya belum mood”. Atau, agak lebih jujur, “Saya tidak tahu cara memulainya”. Anda boleh menambahkan dalih anda sendiri.

Apapun dalih anda, sebaiknya taruh saja di saku yang paling susah anda jangkau. Anda tidak membutuhkannya. Anda boleh bertanya kepada mereka yang sudah menghasilkan banyak tulisan tentang halangan-halangan untuk memulai menulis. Terkecuali anda bertemu dengan penulis yang doyan mendramatisir kisah proses kreatifnya demi hiburan di panggung diskusi atau seminar, saya yakin, anda akan menemukan jawaban bahwa kebanyakan penulis menghasilkan karyanya tanpa terganggu urusan “belum mood”, atau “tempat yang pas”, atau “waktu yang tepat”. Juga, ini penting, kebanyakan penulis tidak pernah takut draft pertamanya buruk karena memang tidak pernah ada draft pertama yang langsung menjadi karya tulis yang bagus.

Khawatir draft pertama anda buruk bukanlah alasan untuk tidak memulai menulis. Ingatlah dua hal ini. Pertama, hampir semua draft pertama itu buruk. Kedua, selalu ada waktu untuk menyunting dan merevisi draft pertama itu.

Jadi? Segeralah menulis. Bukan mustahil menghasilkan sepuluh novel sekeluar anda dari toilet, jika anda segera menuliskannya seketika anda membasuh tangan dan menutup pintu WC.