Ada banyak alasan kenapa seorang penulis memutuskan untuk menerbitkan sendiri naskah karyanya. Mungkin dia berniat mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari sekadar royalti yang diberikan oleh perusahaan penerbitan buku. Mungkin dia meyakini ada pasar untuk naskah karyanya -yang tidak terendus oleh penerbit lain. Mungkin dia ingin menjajal konsep produk rancangannya di pasar, yang diabaikan oleh penerbit lain. Dan, mungkin masih ada sejumlah alasan lain.

Apapun alasan seorang penulis untuk menerbitkan sendiri karyanya, dia harus menyadari bahwa menerbitkan sendiri (self publishing) bukanlah melulu soal menggandakan sendiri naskahnya. Anda tidak sedang menerbitkan sendiri buku anda jika yang anda lakukan hanyalah menulis naskah lalu menyerahkannya ke penyedia jasa print on demand yang mengaku sebagai penyedia jasa self publishing -hanya karena dia memberikan layanan membuat sampul dan menata halaman buku, mencetak buku, dan menjajakannya di Internet. Yang anda lakukan itu hanyalah menggandakan naskah.

Ketika anda memutuskan untuk menerbitkan naskah anda sendiri, maka pada saat itu anda harus segera berpikir dan bertindak sebagai penerbit. Apakah yang menjadi perhatian utama penerbit? Pembaca! Penerbit bekerja untuk memastikan buku yang akan diterbitkannya itu cocok dan tepat untuk pembaca yang memang disasarnya. Isinya, ukurannya, formatnya, tata letaknya, rancangan sampulnya, harganya, dan tempat menjajakannya cocok dan tepat untuk pembaca yang memang diincarnya.

Itulah sebabnya penerbit tidak pernah begitu saja mencetak naskah yang datang. Editor di penerbit akan memastikan bahwa naskah yang akan diterbitkan sudah pas untuk pembaca. Ia bukan melulu mengurus salah ketik atau ejaan. Editor akan memastikan bahwa isinya selengkap yang dibutuhkan pembaca dan disajikan dengan cara yang pas pula. Ia akan memeriksa sistematika dan akurasi informasi di buku-buku non fiksi. Ia juga akan mencermati karakter, plot dan elemen lain dalam buku-buku fiksi.

Penerbit akan mengandalkan para perancang grafisnya untuk menyusun tata letak halaman dan sampul buku, serta teknik mencetaknya yang sesuai dengan selera pembaca. Ukuran buku pun dipertimbangkan secermat mungkin dengan mengacu kepada kenyamanan dalam membaca.

Pembaca juga yang menjadi perhatian penerbit ketika menetapkan harga jual buku. Harga jual tidak melulu mempertimbangkan keuntungan yang ingin ditangguk oleh penerbit. Harga jual yang murah tidak selalu berarti merugi. Harga jual yang murah juga bukan jaminan pembaca akan membelinya.

Jika tak punya divisi atau bagian distribusi sendiri, penerbit biasanya menunjuk distributor untuk mendistribusikan buku-buku terbitannya. Penerbit akan memilih distriubutor yang mampu menjangkau outlet dan kanal yang tepat untuk sebagian besar pembaca yang disasarnya.

Soal tempat menjajakan buku ini perlu menjadi perhatian khusus bagi siapapun yang berniat menerbitkan buku sendiri. Perhatikan tempat yang biasanya dikunjungi oleh pembaca yang anda sasar. Jangan sampai anda malah menjajakan buku anda di tempat atau situs web penyedia layanan self publishing. Situs layanan self publishing itu tempat para penulis berkumpul, bukan tempat para pembaca berkerumun mencari bacaan.

Sebagai penerbit, seorang penulis harus berorientasi kepada pembaca. Ia tidak bisa mengumbar maunya sendiri tanpa mempertimbangkan pembaca yang disasarnya. Self publishing bukanlah jalan keluar bagi penulis yang egois -yang tidak mengijinkan orang lain mengedit naskahnya, yang mengabaikan pembaca ketika menentukan banyak aspek sebuah buku.