Pernah suatu ketika saya merasa berada dalam situasi kehilangan gairah menulis. Menulis -yang semula begitu menyenangkan- terasa menyebalkan, melelahkan, dan tidak tampak menarik lagi. Anda pernah mengalaminya?

Dulu saya mengira, saya sedang bosan menulis. Karena saya merumuskan persoalan itu sebagai "bosan menulis" maka saya mengira bahwa solusi gampangnya adalah tidak menulis untuk sementara waktu.

Lalu keluyuranlah. Saya melakukan beberapa kegiatan selain menulis.  Hasilnya, mungkin saya merasa badan dan pikiran saya segar; mungkin juga menjadi bertambah ruwet.  Apapun hasilnya, itu tidak pernah mengatasi "persoalan bosan menulis".  Kalau, setelah melakukan kegiatan lain itu, badan saya merasa lebih segar maka itu artinya apa yang saya lakukan adalah solusi untuk problem badan yang penat; bukan solusi untuk problem "bosan menulis". Sebaliknya, kalau kegiatan lain itu malah membuat saya tambah ruwet maka hal itu bukan solusi untuk apapun.

Ini membuat saya tersadar bahwa saya salah merumuskan persoalan. Bosan -seperti juga bahagia, sedih, marah, atau gembira- bukanlah masalah; melainkan keadaan kejiwaan yang diakibatkan oleh hal lain. Oleh karena itu tidak pernah ada jalan keluar atas kebosanan.

Tak pernah ada jalan keluar atas kebosanan kepada sesuatu yang kita senangi. Tak pernah ada jalan keluar atas kebosanan kepada profesi kita sendiri. Tak pernah ada jalan keluar atas kebosanan kepada hak dan kewajiban kita.  Yang sering kita kira sebagai 'jalan keluar' atas kebosanan terhadap hal-hal tadi ternyata tak lebih dari pelarian dari persoalan yang sesungguhnya kita hadapi.

Cobalah timbang lagi, misal, apa betul jalan-jalan atau nonton bioskop akan mengatasi kebosanan kita terhadap menulis? Saya kira, tidak. Jalan-jalan, makan-makan, menonton bioskop, tawuran atau LDR-an bukanlah jalan keluar atas 'kebosanan kita terhadap menulis'. Semua kegiatan itu adalah pengalihan perhatian saja; dan mungkin -itu tadi- pelarian saja dari problem sesungguhnya yang kita hadapi dalam menulis.

Percayalah, kebosanan bukanlah masalah nyata yang kita hadapi. Persoalan nyata yang kita hadapi bisa jadi berada di belakang perasaan bosan. Misal, bisa jadi persoalan nyata yang kita hadapi dalam proses menulis itu bukan "bosan menulis"; melainkan badan kita capek karena begadang terus menerus selama berminggu-minggu, atau merasa kehabisan ide dan buntu dalam menulis, atau kekurangan bahan untuk ditulis.

Dengan rumusan persoalan yang lebih jernih, kita bisa mendapatkan solusi yang lebih tepat. Kalau persoalannya adalah badan kita capek, maka solsuinya adalah istirahat. Kalau persoalannya adalah kita mengalami kebuntuan dalam menulis maka solusinya adalah mengelaborasi gagasan dengan berbagai teknik yang telah dikenal. Kalau problemnya adalah tak punya bahan yang cukup untuk menulis maka solusinya dalah melakukan riset.

Anda boleh merasa bosan terhadap apapun tetapi, saya kira, anda tak perlu menjadikannya sebagai persoalan. Rasa bosan bukanlah masalah kita. Rasa bosan adalah ganjaran dari salah satu atau beberapa problem nyata yang belum kita selesaikan. Juga, tak jarang kita hanya meminjam rasa bosan untuk menyembunyikan ketidakmampuan kita merumuskan banyak persoalan dan jalan keluarnya.

***

Pernah disampaikan dalam diskusi di grup Whatsapp Love Books A Lot ID, 12 Februari 2014